Gedung FITK, BERITA UIN Online– Dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menggelar acara Isra Mi’raj ditinjau dari berbagai perspektif pada Kamis, (4/4/2019) di Ruang Teater Prof Mahmud Yunus lt 3 Gedung FITK.

Acara yang diawali dengan Khotmil Quran dan dilanjutkan dengan dialog interaktif itu dibuka Dekan FITK Dr Sururin MAg. Dalam sambutannya, Sururin menegaskan di hadapan audiens yang terdiri dari para dosen, mahasiswa, dan sejumlah Pejabat FITK itu, bahwa kegiatan Khotmil Quran akan dirutinkan di FITK bersamaan dengan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI).

“Kita ingin kegiatan seperti ini dirutinkan minimal pada saat PHBI. Kalau ada yang mengusulkan setiap bulan, dengan senang hati akan kami fasilitasi,”ujar Sururin.

Kami mempunyai visi misi, lanjut Sururin, relijiusitas dan spiritualitas akan terus dikembangkan bukan hanya sekedar wacana, tapi juga implementasi.

Salah satu implementasinya, tambahnya, dengan Khotmil Quran yang nanti dilanjutkan dengan kajian Quran dan taushiah interaktif dengan pakar dari berbagai perspektif.

“Isra Miraj bisa dijelaskan dari perspektif Fisika, Matematik, Bahasa, Manajemen, Fiqh, Tasawuf, dan sebagainya,” tandas Sururin.

Sementara itu, Dr Sapiudin MA yang berkesempatan menyampaikan hikmah Isra Mi’raj mengutip pendapat Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi Mujadid Abad ke-20 mengenai tiga peristiwa penting yang harus diperhatikan umat Islam, yaitu bi’tsah Nabi SAW, Isra Mi’raj, dan Hijrah Nabi SAW.

Sapiudin menegaskan, dengan Isra Mi’raj, manusia diingatkan bahwa terbentuknya akhlak bukan karena ilmu pengetahuan, tapi keimanan.

“Fungsi ilmu pengetahuan untuk menguatkan keimanan dan FITK mempunyai tugas untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan, keimanan, dan akhlak,” jelasnya.

Selain Sapiudin, beberapa pakar diberi kesempatan untuk menyampaikan hikmah Isra Mi’raj sesuai perspektif bidang keilmuannya masing-masing, di antaranya Dr Kadir MPd dalam perspektif Matematik, Dr Nurrochim MM dalam perspektif manajemen, dan Dr Akhmad Sodiq MA dalam perspektif Tasawuf.

Pada kesempatan tersebut, Akhmad Sodiq menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan pernah mampu untuk menganalisis peristiwa Isra Miraj, karena logika pengetahuan itu terbatas.

“Isra Mi’raj tidak akan bisa dijelaskan, kecuali dalam perspektif Tasawuf,” tegasnya.

Alasannya menurut doktor pemikiran Islam ini, hanya dalam Tasawuf ada persoalan Kalamhil Bashor yang membahas tentang melipat waktu, jarak, dan tempat. Selain itu, dalam Tasawuf ada juga yang disebut dengan karomah dalam bentuk thoyyul waqt, thoyyul ard, dan thoyyud dunya, yaitu melipat waktu, melipat, bumi, dan melipat dunia.

“Kenapa Abu Bakar ketika shalat selalu gemetar, air matanya tumpah ruah, karena di mata Abu Bakar akhirat terlihat, dunia terlipat,” jelas Sodiq.

Usai peringatan Isra Mi’raj, acara dilanjutkan dengan penjelasan penyelesaian akselerasi jabatan fungsional dosen oleh tim Biro Administrasi Umum dan Kepegawaian (AUK) dan penyampaian IKU FITK hasil Rakerpin UIN Jakarta oleh Dekanat FITK. (lrf/mf)

Share This