Gedung FAH, BERITA UIN Online— Islam dan Kristen memiliki relasi sejarah yang erat melalui kontribusi masing-masing dalam dinamika sejarah peradaban masyarakat, baik di kawasan mereka lahir maupun berbagai kawasan lainnya. Kedekatan ini masih berlangsung melalui berbagai warisan peradaban yang bertahan hingga kini.

Demikian disampaikan Prof. Johannes den Heijer, Professeur Ordinaire pada Centre d’études orientales-Institut orientaliste de Louvain pada seminar publiknya di Ruang Teater Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta, Selasa (16/04/2019). Johannes menyampaikan paparannya dalam seminar yang bertajuk Historical and Cultural Relation between Islam and Oriental Christianity.

Seminar yang dipandu Dr Amelia Fauzia ini diikuti para pengajar, peneliti, maupun mahasiswa di lingkungan FAH. Turut menghadiri seminar, Dekan FAH Saiful Umam Ph.D didamping para wakil dekan dan ketua jurusan di lingkungan FAH.

Dalam paparannya, Johannes mengungkapkan, salah satu sumbangan penting kedua agama ini adalah memperkuat penggunaan bahasa-bahasa yang berpengaruh di wilayah asal mereka maupun kawasan yang menerima pengaruh keduanya. Jika ke-Kristenan memperkuat Bahasa Suryani atau Syriac Language, maka Islam mengkontribusinya melalui penguatan penggunaan bahasa Arab.

“Perluasan pengaruh keagamaan kedua agama ini turut mendorong pengembangan kedua bahasa yang kemudian saling mempengaruhi sejalan komunikasi yang dilakukan masing-masing komunitasnya,” tuturnya.

Diketahui, bahasa Suryani merupakan bahasa Aram Timur yang pernah menguasai bahasa tuturan di kalangan masyarakat yang mendiami kawasan Bulan Sabit Subur atau Arab Timur. Ia menjadi bahasa liturgi pada beberapa kelompok gereja Suriah seperti Gereja Ortodoks Suriah, Gereja Katolik Suriah, Gereja Maronit, Gereja Katolik Khaldea, Gereja Timur Asiria dan Gereja Tua Timur. Penutur bahasa ini masih tersebar di wilayah Suriah, Iran, Irak, Libanon, Turki.

Adapun bahasa Arab, ia merupakan salah satu dari kelompok bahasa Semit Tengah sekaligus termasuk dalam rumpun bahasa Semit dan berkerabat dengan bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Neo-Arami. Sejalan dengan kemajuan dinasti-dinasti Islam di abad pertengahan, bahasa Arab menjadi bahasa utama budaya dan ilmu pengetahuan seperti sains, matematika, dan filsafah sehingga banyak bahasa Eropa turut meminjam banyak kosakata dari bahasa ini.

Selain kebahasaan, lanjut Johaness, relasi keduanya juga dibangun melalui kemitraan pengetahuan. Kedua agama melalui para sarjananya memberikan kontribusi keilmuan yang saling bersilangan dengan mentransfer keilmuan seperti filsafat Yunani klasik di berbagai pusat keilmuan, baik pra-Islam maupun setelah Islam berkembang.

Di tepi lain, Saiful Umam mengungkapkan, kuliah umum yang disampaikan para pakar akan terus ditradisikan di lingkungan FAH UIN Jakarta. Menurutnya, hal ini diperlukan guna menghadirkan iklim akademik terbaik dunia yang dibawa para pakar keilmuan dari berbagai universitas top dunia.

“Ini juga searah kebijakan UIN Jakarta untuk menerapkan program visiting professor. Dimana professor dari universitas-universitas terbaik dunia, diundang untuk meneliti dan memberi perkuliahan bagi sivitas akademik kita,” paparnya.

Selain memberikan kuliah umum di lingkungan sivitas akademik FAH, Johannes juga menyampaikan kuliah umum di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. Di sini, Johannes menyampaikan materi bertajuk The Study of Pre-Islamic Arabia, Syria, Mesopotamia, and Egypt and its Relevance for Islamic Studies. (zae)

Share This