oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bagi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, seperti dikutip Syaikh Nawawi Banten dalam Nashaihul Ibad, ada empat tipologi manusia. Pertama, manusia yang tidak mau berkata-kata ihwal kebaikan. Begitu juga hatinya, tidak melegitimasi perbuatan baik. Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, inilah orang yang lalai lagi bodoh dan kerap berbuat maksiat.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mewanti-wanti agar seorang muslim tidak terjerembab ke dalam tipologi pertama ini. Sebab pelaku maksiat kelak akan mendapat siksa di akhirat. Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka bena-benar berada dalam neraka” (QS. al-Infithar/82: 14).

Kedua, manusia yang senantiasa mengatakan kebaikan dengan fasih dan menarik namun hatinya justru menolaknya. Secara verbal, ia kerap menguntaikan pesan penuh hikmah namun ia tidak pernah mengamalkannya. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mewanti-wanti agar seorang muslim tidak terpesona dengan keindahan kata-katanya.

Secara retoris, Allah SWT menyindir, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. al-Shaff/61: 2-3). Tentu ayat ini membuat yang membacanya terdiam seribu bahasa.

Ketiga, manusia yang senantiasa hatinya terpaut dengan kebaikan, sementara lisannya selalu terjaga dari perkara dusta. Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani inilah tipologi orang yang beriman. Tak hanya itu, beliau menyebutnya sebagai Waliyullah karena Allah SWT telah menerangi hatinya dan memberinya pengetahuan.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berpesan agar seorang muslim hendaknya bergaul dengan tipologi orang seperti ini, bahkan jika mampu melayani segala kebutuhannya. Sebab segala yang ada di sisinya adalah kebaikan. Insya Allah orang yang mencintai Waliyullah akan dicintai oleh Allah SWT. Tentu begitu juga sebaliknya.

Tentang karakteristik Waliyullah yang harus diketahui oleh seorang muslim, tersurat indah dalam al-Qur’an, “Ketahuilah, sesungguhnya Wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa” (QS. Yunus/10: 62-63).

Keempat, adalah orang yang terus-menerus belajar, mengajar dan berbuat berdasar ilmu yang dimilikinya. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menyebut tipologi keempat ini sebagai orang yang mengetahui hal-ihwal tentang Allah SWT dan mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT dalam berbagai dimensi.

Menariknya, menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani kepada orang seperti inilah Allah SWT menitipkan di dalam hatinya berbagai ilmu yang sulit dipahami dan Allah SWT meluaskan hatinya agar bisa menerima ilmu apa saja. Bagi seorang muslim hendak mewaspadai orang-orang yang bertentangan dengannya.(sam/mf)

Share This