Dr. Tantan Hermansah

Pandemi telah mengubah banyak dalam kehidupan sehari-hari ummat manusia saat ini. Mulai dari hubungan antar orang, tata cara bekerja, bisnis, bahkan belajar dan beribadah.

Kemudian beberapa istilah hadir dan dijadikan bagian dari kehidupan kita. Saturasi, disrupsi, kreasi, New Normal , PSBB, PPKM, CT, dan sebagainya menjadi hal yang harus dikenal, selain tentu 3M, 5M dan beragam singkatan lainnya.

Ragam perubahan yang demikian cepat ini, beruntungnya terjadi ketika manusia sudah menemukan ragam teknologi dan aplikasi berbasis internet. Dengan teknologi ini, kita semua memiliki kesempatan untuk mengelola era disrupsi ini tidak terlalu terbata-bata.

Media sosial, gawai, dan internet sendiri bisa diklaim sebagai temuan yang paling radikal mengubah tananan sosial budaya manusia modern. Di mana manusia modern melalui teknologi ini, kemudian bisa seperti saling bersahut-sahutan untuk menemukan hal baru yang lain, yang juga tidak kalah berpengaruh kepada kehidupan aktual ummat manusia ini.

Mari kita lihat, ditemukannya media sosial, sebagai wujud dari teknologi sosial, telah menginterupsi banyak hal. Tadinya, media sosial hanya wadah untuk mengekspresikan sesuatu pada wall yang tersedia. Lalu berubah menjadi ruang diskusi, lalu menjadi media kreasi, bahkan kemudian menjadi sarana branding dan publikasi.

Termasuk di dalam media sosial itu selain untuk membangun dan atau memperkuat narasi, media sosial juga telah berubah menjadi sarana lain yang bebas. Jualan, kenalan, mencari jodoh, dan apa saja selama ia tidak bertentangan dengan Undang-Undang yang berlaku.

Coba bayangkan, apa jadinya jika internet tidak ditemukan; Jika media sosial tidak diciptakan; Jika orang-orang tidak membuat aplikasi jualan, foto, edit video, dan sebagainya, lalu terjadi wabah seperti sekarang ini. Meski yang mengoptimalisasikan media tersebut tidak semua orang, tetapi kita yakin bahwa lebih banyak orang yang merasa mendapatkan manfaat karena media tersebut. Mungkin kita menjadi orang yang mengalami kegabutan ekstrim; disorientasi, dan bahkan kehilangan jati diri.

Karena sudah dari sananya, manusia adalah mahkluk sosial. Mahkluk yang membutuhkan relasi-relasi pribadi dan kelompok. Hati dan perasaan manusia yang demikian luas itu, tidak akan asyik jika dihuni sendirian. Harus ada orang lain yang mengisi, menghidupkan, saling membagi kesempatan, saling menumbuhkan kepedulian, serta sejumlah aktivitas lain yang melibatkan orang lain. Manusia, pada intinya, tidak akan mampu hidup tanpa ada orang lain di sampingnya.

Kebutuhan bersama orang lain atau manusia lainnya dalam mengukir sejarah kehidupannya, selain merupakan kebutuhan personal-individual, juga untuk memenuhi kebutuhan pragmatis-ekonomis. Selain itu, kebersamaan ini juga untuk memenuhi kebutuhan spiritual. Lihat saja, kebanyakan ibadah manusia itu membutuhkan mitra atau teman atau jamaah.

Lalu, bagaimana disrupsi keagamaan terjadi di masa pandemi ini? Paling mudah kita bisa melihat hadirnya beberapa “ijtihad” praktik ibadah berbasis jaringan virtual. Misalnya Jumatan dan tahlilan daring.

Ibadah Jumat dan tahlilan adalah bentuk ibadah yang memang harus dilakukan oleh banyak orang. Bahkan selain inovasi yang berhasil menghubungkan anggota jamaah di berbagai tempat untuk melaksanakan shalat Jumat secara bersama-sama meski sendiri-sendiri di rumah atau tempatnya masing-masing, ibadah Jumat ini juga ditambahi dengan dialog-dialog pasca shalat Jumat.

Begitu juga dengan ibadah tahlilan virtual, yang telah menjadi solusi paling efektif dan praktis menjawab kebutuhan aksi dalam kegiatan terkait adanya musibah kematian. Seperti kita ketahui, di era pandemi ini, banyak peristiwa kematian terjadi. Bahkan di grup-grup WA, Telegram, Facebook, BIP dan media lainya, hampir tiap hari ucapan bela sungkawa disampaikan karena adanya sahabat, saudara, kolega, atau orang-orang yang terkenal wafat –entah karena Covid-19 atau yang lainnya.

Peristiwa kematian akibat Covid-19, seperti kita ketahui, memiliki prosedur khusus. Salah satu dampak dari prosedur Covid-19 adalah mayit tidak bisa dipulasara sebagaimana biasa. Bahkan tidak bisa dishalati dari dekat dan sejumlah halangan lainnya.

Sementara pasca si mayit dikebumikan atau dikubur, siapa saja yang mengenal mayit, umumnya terhambat untuk berkumpul bersama melakukan acara seperti tahlilan dan sebagainya. Maka dengan hambatan seperti itu, teknologi jaringan internet kembali menjadi solusi.

Akhirnya, dilakukanlah tahlilan secara virtual, di mana para peserta cukup duduk di rumah atau tempatnya masing-masing dan mengikuti pimpinan majelis tahlilan. Cara ini rupanya cukup menjadi alat untuk menyampaikan sungkawa kepada shahibul musibah. Di mana acara kadang diawali atau diakhiri oleh saling sapa dan saling memberikan testimoni kepada mayit.

Fenomena yang terjadi ini tentu memerlukan perluasan teoritis dalam menganalisisnya. Sebab teori lama dalam Sosiologi misalnya, yang menjelaskan bahwa agama bisa ditemukan dalam fenomena sosial, lebih merupakan penjelasan dan interpretasi kepada model-model relasi konvensional.

Bukan berarti teori yang ada tidak relevan atau usang, namun makna realitas sosial dalam beragama sekarang bukan lagi hanya apa yang muncul pada realitas dunia luring seperti shalat Jumat di masjid atau tahlilah di rumah duka, namun juga mereka yang terhubung oleh internet melalui aplikasi pertemuan. Bahkan tidak berlebihan bahwa dunia virtual adalah realitas lain yang perlu ditelaah dan diberikan makna yang mirip dengan realitas luring.

Perluasan teoritis ini menjadi suatu keniscayaan, karena dalam beberapa hal, orang kadang melakukan cara pandang kacamata kuda. Cara pandang ini kadang tidak memperhatikan bahwa realitas sosial itu sangat aktif, agresif, disruptif dan dinamis. (zm)

Penulis adalah Doktor Sosiologi Universitas Indonesia (UI), Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom MUI Pusat. Artikel ini dimuat Rakyat Merdeka, Senin 2 Agustus 2021.

Share This