Penduduk Mekkah pernah heboh dan gempar ketika mendengar berita Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Mereka tidak hanya meragukan kebenaran peristiwa itu, tetapi juga menilai Nabi SAW gila karena perjalanan dari Mekkah ke Baitul Maqdis di Palestina dan kembali lagi ke Mekkah itu mustahil bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu malam.

Kehebohan peristiwa Isra Mikraj itu tidak hanya menyentak akal sehat, tetapi juga membuat umat manusia harus berpikir ulang, melintasi batas-batas normalitas kewajaran dan kebiasaan. Jika selama ini mereka terpaku pada kendaraan unta atau kuda, maka melalui Isra Mikraj, Allah SWT mengenalkan Buraq, yang mampu berjalan secepat kilat atau menembus batas kecepatan cahaya.

Isra Mikraj membuka cakrawala berpikir sekaligus mengedukasi sistem galaksi Bima Sakti. Karena itu, menurut Alquran, pesan dan tujuan utama perjalanan suci Isra Mikraj adalah untuk memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah di jagat raya ini (QS al-Isra’ [17]: 1).

Ayat-ayat Allah yang terhampar di alam semesta memang luar biasa besar, luas, agung, dan tinggi, sehingga dengan menjalani, mengamati langsung, mengalami, dan melintasi langsung dalam perjalanan horizontal (Isra ) dan perjalanan vertikal (Mikraj ) Nabi Muhammad SAW memiliki keyakinan kuat bahwa Allah itu memang Maha Segala-galanya: Maha Besar, Maha Agung, Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Indah, dan sebagainya.

Edukasi Kosmologi

Bagi umat Islam, peristiwa Isra Mikraj tidak hanya wajib diimani dan dibenarkan seperti sikap jujur dan benar yang ditunjukkan oleh sahabat Abu Bakar as-Shiddiq, melainkan juga penting dipahami dalam konteks sains modern dan teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Karena itu, edukasi kosmologi atau pendidikan tentang wawasan dan sistem alam semesta sebagai bagian dari ayat-ayat kauniyah penting dikembangkan dalam rangka meneguhkan iman dan akidah tauhid kepada Allah SWT.

Edukasi kosmologi membuat mukmin berpikir terbuka, berwawasan kealaman luas, dan bernalar saintifik (mencari dan menemukan hukum kausalitas), sehingga diharapkan memiliki sikap rendah hati dan menjauhkan diri dari arogansi (kesombongan).

Edukasi kosmologi pada gilirannya membuahkan kesadaran moral dan spiritual bahwa umat Islam itu harus senantiasa memikrajkan dirinya (menempuh perjalanan mendaki) dengan terus berzikir, mengingat Allah, dan merenungi ayat-ayat-Nya.

Edukasi kosmologi dapat menumbuhkan sikap ilmiah tentang pentingnya integrasi zikir dan pikir bahwa semua ciptaan Sang Pencipta di alam raya ini tidak ada yang sia-sia. Semua ciptaan-Nya menjadi pasti bermanfaat dan berguna bagi kesejahteraan, kemakmuran, dan kemajuan hidup manusia.

Salat dan Sains

Oleh sebab itu, Isra Mikraj idealnya menginspirasi umat Islam untuk mengembangkan sains dan teknologi modern yang dapat mengantarkan muslim menjadi semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bagi Allah, tidak ada yang mustahil bahwa hamba-Nya yang paling dicintai itu, Nabi Muhammad SAW, dapat diperjalankan dengan supercepat dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, lalu terbang melintasi dan menembus tujuh langit hingga Sidratul Muntaha (Puncak segala eksistensi) dan kembali lagi ke Mekkah dalam waktu kurang dari semalam.

Dengan teknologi informasi dan komunikasi melalui gelombang elektromagnetika, kita terbukti mampu berbicara atau berkomunikasi dalam waktu bersamaan, tanpa kabel, dengan saudara kita di Amerika Serikat, padahal perbedaan waktunya antara negara kita dengan Amerika serikat sekitar 12 jam. Dimensi ruang dan waktu yang ditempuh dan dialami Nabi SAW tidak menjadi halangan untuk dapat menjadi semacam best practice bagi “eksperimen sains” yang telah mendahului masanya.

Salat sebagai “hadiah ilahiah” terindah bagi umat Islam sejatinya merupakan manifestasi dari edukasi kosmologi karena dalam salat, hati, pikiran, bacaan, dan gerakan dari takbiratul ihram hingga salam merupakan bentuk tasbih kehidupan sekaligus harmonisasi diri dengan alam semesta. Dengan takbir sebanyak 109 kali, orang yang salat dididik untuk merendahkan diri, tidak bersikap arogan dan sombong terhadap siapa pun, terlebih lagi kepada Sang Pencipta.

Salat dan sains itu hakikatnya merupakan dua entitas yang terintegrasi dalam saluran komunikasi zikir dan pikir. Dengan salat yang ikhlas dan khusyuk yang dipadu dengan sains berbasis zikir, umat Islam membangun peradaban yang menyejahterakan dan memakmurkan, bukan peradaban gersang spiritual yang bebas nilai dan menghancurkan masa depan umat manusia.

Peradaban luhur ini dapat diwujudkan umat dan bangsa Indonesia apabila alam semesta ini dijadikan sebagai “laboratorium kemahabesaran” ayat-ayat Allah yang dimanfaatkan sebagai sumber belajar, objek penelitian, dan pengembangan sains dan teknologi berbasis masjid sebagai pusat edukasi nilai spiritual dan moral. Salat dan sains itu harus menjadi modal spiritual dan intelektual umat dan bangsa menuju kemajuan peradaban yang berkeadaban di masa depan. Semoga!

Dr Muhbib Abd Wahab MA, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: https://nasional.sindonews.com/read/1392078/18/edukasi-kosmologi-dalam-isra-mikraj-nabi-1554167635, 2 April 2019. (lrf/mf)

Share This