Gedung  PPG, BERITA UIN Online – Duta Pendidikan Provinsi Banten peraih 3rd Runner Up Putri Pendidikan Indonesia 2019, Safti Nur Safitri, mengajak kaum milenial untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Hal itu mengingat masih banyak masyarakat di daerah, terutama daerah terpencil, saat ini kurang mendapat akses pendidikan yang memadai.

Hal itu dikatakan Safti Nur Safitri kepada BERITA UIN Online di gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG) UIN Jakarta di Bojongsari, Depok, Senin (18/3/2019). “Pendidikan di negara kita belum merata, masih banyak yang harus dibenahi,” katanya.

Safti, demikian mahasiswi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta semester 2 ini biasa disapa, mengaku sangat prihatin dengan belum meratanya pendidikan di Tanah Air. Untuk itu ia mengajak kaum milenial agar lebih mencintai pendidikan dan memajukannya, terutama di masyarakat daerah terpencil.

Safti Nur Safitri merupakan salah satu anak milenial yang suka dengan dunia pendidikan. Pada 23 Februari 2019 yang lalu, ia meraih  3rd Runner Up Putri Pendidikan Indonesia Provinsi Banten 2019 dalam ajang Pemilihan Puera-Puteri Pendidikan Indonesia Provinsi Banten 2019 yang diselenggarakan oleh Ikatan Pemuda Prestasi Indonesia (IPPI) Provinsi Banten di gedung PGRI, Lebak, Banten. Ajang pemilihan tersebut bertujuan untuk mencari dan melahirkan pemuda-pemudi milenial yang peduli terhadap dunia pendidikan, khususnya di wilayah Provinsi Banten.

“Ajang ini sangat bagus untuk menciptakan generasi milenial yang cinta terhadap pendidikan, karena memiliki advokasi di bidang pendidikan dan kebudayaan,” ujar wanita kelahiran Jakarta pada 30 Oktober 1999 tersebut.

Bagi Safti, meraih prestasi sebagai Duta Pendidikan Provinsi Banten itu sangat membanggakannya. Paling tidak, prestasi tersebut menjadi pengalaman tersendiri selama menjadi mahasiswi UIN Jakarta.

Konon, saat maju dalam pemilihan, Safti yang mewakili Kota Tangerang Selatan itu semula tak yakin bahwa dirinya bakal terpilih. Sebab, dibandingkan peserta lain, ia merupakan peserta termuda dan belum banyak pengalaman.

“Sebagai salah satu peserta termuda dari awal audisi, tentu menjadi tantangan besar bagi saya yang masih harus banyak belajar. Tetapi saya harus bersaing dengan lawan yang jauh lebih berpengalaman dari saya. Alhadulillah, saya pun dapat membuktikannya meski harus meraih 3rd Runner Up,” kata Safti yang bercita-cita ingin jadi Menteri Pendidikan atau motivator terkenal itu. Runner Up pertama berasal dari Serpong, sedangkan Runner Up kedua berasal dari Serang.

Menurut Safti, ada 500 peserta saat audisi pertama yang ikut kompetisi dari delapan kota/kabupaten di Provinsi Banten. Ia pun lolos hingga tersisa 50 peserta di audisi kedua. Lalu pada Grand Final, ia kembali lolos bersama 24 peserta lain.

“Sejak itu saya menjalani masa karantina. Saya berlatih bicara bahasa Inggris, cat walk,  talent, dan attitude. Selain itu, ada juga materi tambahan berupa pendalaman ilmu pendidikan,” jelasnya.

Kegiatan lain selama karantina, Safti bersama 24 finalis lain lalu mengunjungi beberapa sekolah di Kabupaten Lebak. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana  proses pendidikan yang berlangsung di sekolah-sekolah tersebut.

“Semoga saya menjadi pribadi yang lebih baik, dapat menjalankan amanah, serta bermanfaat untuk orang banyak, khususnya untuk daerah Banten,” ujar Safti yang juga memiliki bakat menyanyi dan menari ini. (ns)

Share This