Sejak Oktober 2018 lalu, khususnya, Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) mengalami kekalahan demi kekalahan dalam pertempuran dengan beberapa kekuatan militer berbagai negara, sejak dari Suriah dan Irak sampai Rusia dan Amerika Serikat. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa NIIS dapat menandingi kekuatan militer yang apakah secara sendiri-sendiri atau bersama-sama terus merangsek berusaha menghancurkannya.

Kekalahan NIIS terlihat bukan hanya dalam pembebasan wilayah yang semula NIIS, melainkan juga dalam gelombang eksodus banyak orang yang semula berperang bersama NIIS. Banyak di antara mereka ingin kembali ke negeri asal di Eropa, Amerika, Asia, atau Australia-menciptakan kontroversi di negara-negara asal mereka masing-masing: apakah mereka harus diterima kembali atau ditolak sama sekali.

Indikasi lain kemunduran NIIS adalah tidak lagi terjadi aksi terorisme dalam skala besar di banyak bagian dunia, baik Eropa, Amerika, Afrika, maupun Asia. Memang masih terjadi aksi-aksi terorisme itu dilakukan lone wolf dibandingkan secara sistematis dan sentralistis dikomandoi NIIS.

NIIS yang dikenal juga sebagai Da’is (Dawlah Islamiyah) atau ISIS (Islamis State of Iraq and Syria) mulai muncul sejak 2011. Sejak waktu itu, kelompok tersebut menciptakan kekerasan brutalisme, dan teror, tidak hanya di wilayah Irak dan Suriah, tetapi juga di berbagai negara dunia, sejak dari Afrika, Eropa, sampai Asia. Banyak di antara aksi teror di berbagai negara tempat itu tidak dilakukan langsung oleh kaki tangan NIIS yang datang dari Timur Tengah, tetapi justru dilakukan kelompok-kelompok atau sel-sel terorisme lokal sendiri yang menyatakan sumpah setia kepada NIIS atau berafiliasi dengan NIIS.

Di Asia Tenggara, puncak aksi terorisme terkait NIIS terjadi antara 2010/2017. Dalam dua tahun ini, dalam aksi terorisme terkait NIIS di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Myanmar terjadi peningkatan jumlah korban tewas sampai 36 persen. Tak kurang terjadi 348 aksi teror yang menewaskan 292 jiwa.

Dalam kasus Thailand, Myanmar, dan Filipina, terjadi kolaborasi di antara kelompok dan sel terorisme pro NIIS dengan gerakan separatis. Di Filipina, kolaborasi itu berpuncak misalnya dalam penguasaan Kota Marawi tahun 2017. Dalam peristiwa tersebut, kelompok pro NIIS yang bergabung atau merupakan bagian kelompok separatis Abu Sayyaf menguasai Marawi sebelum akhirnya ditaklukkan militer Filipina.

Setelah peristiwa Marawi, aparat keamanan Filipina dalam pernyataannya, Kamis (14/3), yakin milisi pro NIIS di negara tersebut telah lumpuh. Dalam serangan militer beberapa pekan sejak Februari, militer Filipina telah menewaskan pulusan milisi, termasuk Abu Dar yang diyakini sebagai pimpinan kelompok Dawlah Islamiyah pro NIIS. Meski begitu, klaim militer tersebut masih perlu dipertanyakan karena aksi kekerasan dapat terus berlanjut selama masalah Mindanau belum diselesaikan sepenuhnya.

Selain Filipina, Indonesia juga cukup rawan terhadap aksi terorisme yang dilakukan kelompok atau sel terorisme yang mengatasnamakan ISIS. Meski Densus Polri 88 berhasil melumpuhkan sebagian besar kelompok, sel, dan jaringan teroris, tetap saja aksi terorisme terjadi dari waktu ke waktu walau tidak dalam skala besar.

Pola aksi terorisme juga mulai berubah. Pada bulan Mei 2018, Indonesia digemparkan aksi terorisme yang dilakukan sepasang suami istri dengan anak-anaknya yang masih kecil. Mereka meledakkan bom bunuh diri di dua gereja Surabaya. Pelaku aksi terorisme bukan lagi hanya laki-laki, melainkan juga perempuan yang terpisah beraksi sendiri-sendiri maupun pasangan suami istri dengan anak-anak.

Aksi terorisme terakhir yang mengorbankan istri dan anak terjadi di Sibolga, Tapanuli, Sumatra Utara. Kamis (14/3). Penangkapan teduga terorisme Abu Hamzah yang terkait dengan sel-sel JAD (Jamaah Ansharud Daulah) yang ada di berbagai tempat di Indonesia akhirnya diikuti peledakan bunuh diri oleh istrinya dengan sekaligus mengorbankan anaknya. Menurut Polri, tak kurang dari 300 kilogram bom yang sudah siap meledak disimpan pasangan suami istri tersebut.

Semua perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun NIIS mengalami kemunduran dan kekalahan di berbagai front di Timur Tengah, kelompok-kelompok dan sel-sel yang ada di tempat-tempat lain, termasuk Indonesia, tidak juga otomatis berakhir. Mereka tetap aktif membangun jaringan maupun memproduksi bom yang siap mereka ledakkan sewaktu-waktu.

Oleh karena itu, aparat keamanan tetap harus waspada; mengendus dan memantau jaringan maupun sel. Pada saat yang sama, masyarakat juga harus waspada; mencermati dan mengawasi lingkungan masing-masing dari infiltrasi sel-sel terorisme.

Prof Dr Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Resonansi REPUBLIKA, Kamis, 21 Maret 2019. (mf)

Share This