Gedung FITK, BERITA UIN Online– Duta Besar Kanada untuk Indonesia HE Peter Mac Arthur menyampaikan kuliah umum di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta pada Kamis (14/3/2019) di Ruang Teater Prof Dr Mahmud Yunus FITK lt 3.

Kuliah umum bertema Diversity, Inclusion and Democracy tersebut dibuka Dekan FITK Dr Sururin MAg, dimoderatori Wakil Dekan Bidang Akademik FITK M Zuhdi MEd PhD dan dihadiri para pejabat FITK, puluhan sivitas akademik FITK, serta beberapa alumni Mc Gill University Kanada.

Dalam sambutannya, Sururin menyampaikan bahwa negara Indonesia terdiri dari berbagai kelompok, etnis, bahasa, juga agama, yang dapat dengan mudah memicu konflik.

“Yang menjadi perhatian utama kami, ada beberapa kelompok yang dianggap tertinggal. Dulu, wanita cukup tinggal di rumah dan tidak perlu belajar di sekolah,” ujar Sururin.

Namun saat ini, lanjutnya, sudah ada perkembangan progresif di mana perempuan diberikan hak yang setara dengan laki-laki. Yang menjadi masalah terbesar menurutnya adalah akses untuk siswa berkebutuhan khusus.

“Kita harus mengakui bahwa universitas kita harus bekerja keras agar dapat memberikan akses pendidikan yang berkualitas untuk semua, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut wanita yang baru terpilih sebagai Dekan FITK periode 2019-2023 itu, terkait demokrasi yang menekankan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk berpartisipasi dalam setiap aspek kehidupan, masih menghadapi masalah distribusi sumber daya yang tidak merata di beberapa negara, termasuk aspek pendidikan.

“Karena itu, kuliah umum ini sangat penting karena kita dapat belajar bagaimana menghadapi demokrasi,” pungkasnya.

Sementara itu, Mac Arthur dalam pemaparannya menyampaikan kesamaan Kanada dengan Indonesia dalam keragaman yang menumbuhkan sikaf inklusif.

“Kanada dan Indonesia berjarak ribuan kilometer dan bahkan, hampir berada di sisi berlawanan dunia, tetapi kita memiliki banyak kesamaan,” ungkap Arthur.

Keduanya, sambung Arthur, merupakan negara yang luas dengan kondisi geografis yang beragam yang memiliki pemandangan indah, hutan, danau, sungai, pesisir, pegunungan dan satwa liar.

Dalam paparannya, Arthur mengutip pidato Presiden Soekarno pada 1956 di hadapan Parlemen Kanada saat menjadi pemimpin Asia.

Dalam pidatonya, kata Arthur, Soekarno mengatakan salah satu fenomena paling luar biasa dalam sejarah modern adalah bahwa bangsa Indonesia, walau mendiami 3.000 pulau tapi dipersatukan sebagai satu bangsa, tanpa tekanan, tanpa paksaan, tanpa perang saudara.

Dengan kata lain, ringkas Arthur, Indonesia dirancang oleh para pendirinya sebagai bentuk gagasan hidup dari Bhinneka Tunggal Ika.

“Kata-kata tersebut bahkan lebih relevan saat ini dan dapat diterapkan pada negara kita.  Keberagaman di Kanada dan Indonesia adalah sebuah fakta, tetapi inklusivitas adalah pilihan. Manfaat menjadi inklusif adalah signifikan,” pungkas Arthur.

Usai menyampaikan Kuliah Umum, Arthur menyempatkan untuk hdir pada pertemuan dengan para dosen UIN Jakarta alumni Mc Gill University Kanada di Ruang Uni Club Auditorium Harun Nasution. (lrf/mf)

Share This