Gedung Rektorat, BERITA UIN Online— Atase pendidikan dan Kebudayaan RI untuk Kerajaan Arab Saudi, Achmad Ubaididllah Ph.D, dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk Belanda, Din Wahid Ph.D, mengunjungi Rektor UIN Jakarta, Prof. Dr. Amany Lubis, di ruang kerjanya Gedung Rektorat, Kamis (14/2/2019). Dalam pertemuan selama hampir satu jam, kedua atase menyampaikan peluang kerjasama akademik yang bisa dilakukan UIN Jakarta dengan berbagai universitas terbaik dari kedua negara.

Ditemui BERITA UIN Online sesaat setelah pertemuan ketiganya, Ubaidillah menuturkan, pihaknya menyampaikan peluang kerjasama akademik yang bisa ditempuh UIN Jakarta dengan berbagai universitas terbaik di Arab Saudi. “Ada banyak universitas terbaik di negara tersebut yang bisa diajak kerjasama bagi pengembangan akademik UIN Jakarta,” paparnya.

Jika selama ini perguruan tinggi di negara tersebut dikenal masyarakat Indonesia sebagai pusat kajian keislaman. Namun nyatanya, Arab Saudi memiliki banyak universitas yang cukup menonjol di bidang keilmuan sains, kedokteran, dan ekonomi. “Mereka juga memiliki pendanaan riset yang cukup kuat, laboratorium yang bagus,” tambahnya.

Selama ini, papar dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta ini, universitas-universitas di Arab Saudi belum banyak dimanfaatkan universitas-universitas Islam Indonesia untuk membangun kerjasama akademik. Padahal perguruan-perguruan tinggi dari Pakistan dan Bangladesh telah melakukannya. “Bahkan dari Indonesia, peluang ini malah lebih banyak dimanfaatkan oleh perguruan-perguruan tinggi umum,” lanjutnya.

Laman daring Atase Pendidikan RI di Riyadh mencatat, Arab Saudi memiliki sejumlah universitas dengan ranking terbaik di bidang pengembangan sains dan teknologi, kesehatan dan kedokteran, dan ekonomi, selain studi-studi keislaman. Diantaranya, King Saud University, King Fahd University of Petroleum and Minerals, King Abdul Aziz University, King Abdullah University of Science and Technology, dan Prince Sultan University.

Di tempat yang sama, Din mengungkapkan, pihaknya juga mendorong UIN Jakarta untuk lebih mempertajam arah pengembangan kerjasamanya dengan universitas-universitas terbaik di Belanda. Selain ilmu-ilmu sosial dan kajian keislaman, negara ini memiliki banyak universitas terdepan dalam pengembangan keilmuan seperti sains dan teknologi, kedokteran, dan ekonomi dengan dukungan profesor, laboratorium, dan kepustakaan sangat memadai.

Menurut Din, penajaman kerjasama berorientasi keilmuan dan sains sejalan dengan arah pengembangan kurikulum UIN Jakarta sebagai pusat studi keislaman dan keilmuan. Diketahui, sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam, UIN Jakarta tidak hanya mengembangkan prodi-prodi berbasis kajian Islam melainkan juga keilmuan umum seperti teknologi, kedokteran, psikologi, ekonomi, dan politik.

“Kami kira, apa pun yang bisa kami bantu bagi pengembangan UIN Jakarta dengan universitas-universitas terbaik di Belanda, tentu kami akan sangat senang bisa mendorong pengembangan kerjasamanya,” paparnya.

Din yang sebelumnya merupakan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta ini menambahkan, sejak dirinya diangkat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Belanda telah mencoba membuka kerjasama akademik universitas di kedua negara, terutama bagi UIN Jakarta. Selain kegiatan profesor tamu maupun riset bersama, pihaknya secara inklusif juga mendorong kerjasama akademik melalui Program 5000 Doktor di bawah Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI.

Dalam telusuran BERITA UIN Online, terdapat banyak universitas terbaik di negeri Belanda. Diantaranya, Delft University of Technology, Waginengan University, University of Amsterdam, Leiden University, Utrect University, University of Groningen, dan Vrije Universteit Amsterdam.

Ditemui terpisah, Rektor menyambut positif peluang kerjasama yang disampaikan kedua atase. Menurutnya, pihaknya berkomitmen membuka kerjasama baru sekaligus mempererat kerjasama yang sudah dijalin dengan berbagai institusi pendidikan dan lainnya guna menopang pengembangan akademik UIN Jakarta.

Selain itu, ia menambahkan, besarnya peluang kerjasama akademik harus dilakukan berorientasi jangka panjang agar mahasiswa UIN Jakarta juga bisa menikmati langsung kerjasama dengan bisa menempuh studi lanjutan ke berbagai universitas mitra luar negeri terbaik. “Terkait itu, saya meminta seluruh dosen untuk mendorong pengajaran dilakukan dalam bahasa internasional yang luas, Arab maupun Inggris,” jelasnya. (Zae/her/adt)

Share This