Seorang dosen dari universitas ternama ditemukan bunuh diri. Beberapa perkiraan atau analisis muncul.

Bagaimana kita menjelaskan hal ini. Mengapa seorang yang bisa dikatakan merupakan bagian dari kelas menengah terdidik bisa melakukan tindakan itu.

Sebenarnya, jauh sebelumnya Sosiolog Emile Durkheim (1858-1917) sudah membahas fenomena ini dari aspek sosiologi. Dalam buku yang diberi judul SUICIDE (1897), Durkheim mengulas fakta-fakta yang berlangsung sepanjang hayat manusia.

Menariknya, Durkheim menelaah data-data sosiologis yang sangat ketat mencakup: latar belakang sosial, ekonomi, budaya, politik, dan aspek-aspek yang mendetil dari unsur-unsur utama sosiologi, seperti fungsi-fungsi hubungan dan integrasi atau ekslusi sosial seseorang.

Hasilnya, dengan segala kelebihan kekurangannya, Durkheim menyimpulkan beragam kecenderungan seseorang melakukan bunuh diri dalam empat tipologi, yaitu: egois, altruis, fatalis, anomis. Keempatnya, jika diringkaskan, merupakan dampak dari hubungan-hubungan sosiologis seseorang.

Artinya, bahwa aspek sosiologis berkontribusi cukup besar dalam membangun kesiapan mental seseorang. Termasuk dalam mengelola kehidupannya. Apalagi dalam praktiknya, manusia, di manapun, sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat, merupakan manusia-manusia yang eksistensinya ada karena memiliki hubungan-hubungan sosial yang erat dan melekat pada masyarakat.

Maka fenomena bunuh diri pada seseorang muncul karena subyek manusia seperti terlepas dari masyarakatnya. Perasaan terlepas atau tercerabut itulah yang menyebabkan dia merasa terasing. Ia merasa sepi dalam keramaian sosial. Yang akhirnya merasakan kebuntuan.

Dalam konteks seperti ini, tidak peduli apakah ia berprofesi seorang dokter, tentara, pelajar, petani, atau mungkin tokoh masyarakat, dan sebagainya, ketika keterasingan itu menghinggapi dirinya, maka ia bisa mensabotase dirinya.

Fenomena bunuh diri tidak hanya disebabkan oleh kemiskinan. Karena data-data internasional justru menunjukkan data sebaliknya. Angka bunuh diri di negara-negara makmur tetap tinggi, bahkan jika dibandingkan dengan negara yang kategori biasa atau berkembang.

Peran Lingkungan

Karena potensi seseorang untuk mensabotase dirinya sama, maka harus ada desain sistem yang bisa mengatasi persoalan itu. Salah satu yang cukup strategis adalah mengoptimalkan peran lingkungan.

Hubungan-hubungan sosial perlu didorong akan terjadi sublimasi. Sehingga dari sublimasi tersebut tercipta relasi-relasi fungsional yang akan berkontribusi kepada menguatnya struktur sosial masyarakat. Pemahaman yang lemah akan fungsi-fungsi tersebut justru menjadi ancaman jadi keberlangsungan masyarakat.

Dr Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Ilmu Sosiologi Perkotaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: https://www.facebook.com/tantan.hermansah/posts/10220103873173043?_rdc=1&_rdr, 16 Agustus 2019. (lrf/mf)

Share This