oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Munabbihat mengutip hadits Nabi SAW, “Tidak dikatakan dosa kecil, apabila dilakukan secara terus-menerus. Dan tidak ada dosa besar, apabila dibarengi dengan istigfar”. Hadits ini dapat ditemukan juga dalam kitab hadits Imam al-Dailami yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Nashaihul Ibad dosa kecil yang terus-menerus dilakukan akan menjadi besar. Termasuk, dosa kecil yang diniatkan untuk senantiasa dikerjakan akan menjadi dosa besar. Alasannya, niat seseorang dalam melakukan maksiat adalah maksiat itu sendiri.

Oleh karena, menurut Syaikh Nawawi, seseorang harus bertobat dengan syarat-syaratnya. Karena tobat dapat menghapus efek negatif perbuatan salah kendati kesalahan itu besar. Menurut Syaikh Abdul Wahab al-Sya’rani dalam al-Munahus Saniyah, tobat adalah kembali dari sesuatu yang tercela menurut syariat menuju sesuatu yang terpuji menurut syariat.

Menurut Syaikh al-Sya’rani, ada delapan macam tobat yang harus dilakukan. Pertama, tobat dari dosa-dosa besar. Kedua, tobat dari dosa-dosa kecil. Ketiga, tobat dari hal-hal yang makruh. Keempat, tobat dari menyalahi yang lebih utama. Kelima, tobat dari sifat riya. Keenam, tobat dari merasa dirinya termasuk orang fakir (di hadapan Allah).

Ketujuh, tobat dari anggapan bahwa dirinya adalah orang yang benar dalam bertobat. Kedelapan, tobat dari segala lintasan yang terbersit dalam hatinya ihwal berbagai hal yang tidak disukai Allah. Ini, menurut Syaikh al-Sya’rani, adalah tobat tingkat dasar. Sedangkan tobat tertinggi adalah bertobat ketika seseorang lalai dari Allah kendati hanya sekejap mata.

Oleh karena itu sebagian ulama mewanti-mewanti, seperti dikutip oleh Ibn Hajar, “Jangan meremehkan dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu akan bercabang-cabang dan akan menjadi dosa-dosa yang besar”. Menurut Syaikh Nawawi, akibat menghitung dosa tertentu sebagai dosa kecil kadangkala marah Allah justru terjadi karena dosa-dosa kecil itu.

Oleh karena itu Ibn Hajar menulis, “Barangsiapa yang senang saat berbuat dosa, maka Allah akan memasukkan dia ke dalam neraka dalam keadaan menangis. Sedangkan barang siapa yang menangis karena taat kepada Allah, maka sungguh Allah akan memasukkan dia ke dalam surga sambil tertawa”.

Menurut Supyan al-Tsauri, seperti dikutip Ibn Hajar, “Setiap maksiat yang timbul karena dorongan nafsu bisa diharapkan ampunannya. Setiap maksiat yang timbul karena sikap sombong, tidak bisa diharapkan ampunannya. Karena iblis durhaka berawal dari sikap sombong, sedangkan kesalahan Nabi Adam berawal dari nafsu”.

Menurut Syaikh Nawawi, kesombongan iblis adalah bahwa dia menyangka dia lebih baik dari Nabi Adam. Iblis bilang, “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. al-A’raf/7: 12). Sedangkan kesalahan Nabi Adam adalah keinginan merasakan buah pohon nafsu yang dilarang. (sam/mf)

Share This