oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam surat Shaad/38 ayat 35, Nabi Sulaiman bermunajat, ”Wahai Pemeliharaku, ampunilah aku, dan berilah aku sebuah kerajaan yang tidak diberikan kepada siapa saja sesudah aku, sesungguhnya Engkau Yang Maha Pemberi”. Tampak jelas dalam doa ini, Nabi Sulaiman pertama-tama meminta ampunan sebelum beliau meminta kerajaan. Cara berdoa semacam ini terbukti dalam sejarah dikabulkan Allah SWT. Nabi Sulaiman dikenal sebagai salah seorang raja diraja di alam mayapada. Beliau bukan saja berkuasa atas manusia, tapi mahkluk seperti jin dan binatang tunduk kepadanya.

Ayat ini, menurut Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim bukan berarti Nabi Sulaiman menghalang-halangi orang-orang sesudahnya untuk memiliki kerajaan seperti yang dimilikinya. Sebaliknya, ayat ini justru menginspirasi siapa saja untuk berdoa da meminta kekuasaan kepada Allah. Ayat ini, menurut Jalaludin al-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli dalam Tafsir Jalalain, memiliki relevansi dengan makna ayat dalam firman Allah yang lain, ”Maka siapakah yang akan memberi petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)” (QS. al-Jatsiyah/65: 23).

Menurut Wahbab al-Zuhaili dalam Tafsir Munir, doa Nabi Sulaiman, ”Wahai Pemeliharaku, ampunilah aku” adalah ungkapan reflektif beliau yang peka terhadap kesalahan. Padahal kesalahannya sebatas meninggalkan sesuatu yang lebih utama. Kendati begitu, Nabi Sulaiman perlu meminta ampun. Sebab, perbuatan baik orang-orang bajik dianggap perbuatan buruk bagi orang-orang yang dekat kepada Allah, yakni para nabi. Imam Bukhari menuliskan pengakuan Nabi SAW, ”Demi Allah, aku beristighfar kepada Allah SWT dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali setiap hari”.

Lalu Allah menjawab doa Nabi Sulaiman dalam ayat berikutnya, yakni 36-40. Allah berfirman, ”Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya. Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Dan (setan) yang lain terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami. Maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) tanpa perhitungan. Dan sungguh, dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat yang baik” (Shaad/38: 36-40).

Terdapat sebuah cerita dari Abu Darda yang ditulis oleh Imam Muslim dan Imam Nasa’i terkait doa di atas. Abu Darda bercerita bahwa Nabi SAW berdiri untuk salat. Lalu kami mendengar beliau mengucapkan, ”Aku berlindung kepada Allah dari godaanmu. Aku melaknatmu dengan laknat Allah” sebanyak tiga kali seraya Nabi SAW mengulurkan tangannya seperti orang yang akan menangkap sesuatu. Usai salat, kami bertanya, ”Ya Rasulullah, kami mendengarmu mengucapkan sesuatu dalam salatmu yang belum pernah kamu dengar sebelummya. Kami melihatmu mengulurkan tangan?”

Rasulullah SAW menjawab, ”Sesungguhnya, iblis musuh Allah. Ia datang dengan membawa obor yang akan disundutkan di mukaku, lalu aku berkata, ”Aku berlindung kepada Allah dari godaanmu” sebanyak tiga kali. Kemudian aku juga berkata, ”Aku melaknatmu dengan laknat Allah yang sempurna” sebanyak tiga kali pula. Namun iblis itu tak mau mundur. Kemudian aku bermaksud untuk menangkapnya. Namun demi Allah, seandainya tidak ada doa saudara kami Sulaiman (seperti dalam ayat di atas), tentu iblis itu telah terikat di pagi hari dan jadi mainan anak-anak Madinah.

Doa Nabi Sulaiman selain termaktub di dalam al-Qur’an, misalnya, terdapat juga di dalam sebuah hadits yang ditulis oleh Imam Nasa’i, Imam Ibn Majah, Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibban, dan Imam Hakim dalam kitah hadits mereka masing-masing seperti diriwayatkan Abdullah Ibnu Amr, ia berkata bahwa Nabi SAW bercerita, ”Sesungguhnya Sulaiman Ibn Daud tatkala membangun Baitul Maqdis, dia meminta kepada Allah tiga hal. Pertama, dia memohon supaya dijadikan sebagai orang yang adil di dalam memberi keputusan. Maka doanya dikabulkan.

Kedua, dia meminta dianugerahi kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahnya. Permintaan ini juga dikabulkan Allah. Ketiga, dia memohon kepada Allah saat usai membangun masjid al-Aqsha agar selepas itu tidak ada seorangpun yang datang ingin menguasainya, dan agar orang yang salat di dalamnya diampuni dosa-dosanya, sehingga dirinya bersih tanpa dosa seperti baru pertama lahir dari perut ibunya. Rasulullah SAW berseloroh, ”Dua doa Nabi Sulaiman yang pertama, telah dikabulkan Allah SWT. Sedangkan doa yang ketiga, aku berharap Allah mengabulkannya”.

Dalam versi lain, seperti ditulis Imam Thabrani dalam kitab haditsnya yang bersumber dari Rafi’ Ibn Umar yang bercerita bahwa ia pernah mendengar Nabi SAW membeberkan satu kisah dalam hadits qudsi. Allah SWT berfirman kepada Nabi Daud, ”Buatlah sebuah rumah peribadatan (masjid) untuk-Ku di bumi”. Lalu Nabi Daud malah membangun sebuah rumah ibadah untuk dirinya sebelum membangun rumah ibadah yang diperintahkan Allah SWT. Allah menegurnya, ”Hai Daud, kamu telah membangun rumah peribadatan untukmu sebelum membangun rumah peribadatan (masjid) untuk-Ku”.

Nabi Daud menjawab, ”Wahai Tuhanku, inilah naluriku sebagai seorang raja yang egois”. Sesudah itu Nabi Daud membangun rumah peribadatan (masjid) yang dimaksud. Namun setelah berdiri, temboknya ambruk hingga tiga kali. Akhirnya Nabi Daud mengadu kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, ”Hai Daud, sesungguhnya kamu tidak layak untuk membangun rumah peribadatan (masjid) untuk-Ku”. Nabi Daud bertanya, ”Mengapa, Ya Tuhanku?” Allah SWT menjawab, ”Karena banyak dari yang dilairkan oleh kedua tanganmu”.

Nabi Daud berkata, ”Wahai Tuhanku, bukankah hal itu demi rasa cintaku dan sukaku kepada-Mu?” Allah SWT menjawab, ”Bukan begitu, tetapi mereka juga adalah hamba-hamba-Ku. Aku kasihan kepada mereka”. Hal itu membuat Nabi Daud keberatan. Lalu Allah SWT berfirman, ”Janganlah bersedih, karena sesungguhnya Aku telah menetapkan pembangunannya di tangan anak laki-lakimu, yakni Sulaiman”. Setelah Nabi Daud wafat, Nabi Sulaiman membangun masjid tersebut. Usai menyelesaikan pembangunan, ia berkurban dan banyak menyembelih hewan.

Setelah itu, Nabi Sulaiman mengumpulkan semua kaum Bani Israil. Allah berfirman kepadanya, ”Aku telah melihat kegembiraanmu dengan selesainya pembangunan masjid-Ku, maka mintalah kepada-Ku, aku akam memberimu”. Nabi Sulaiman mendoa, ”Aku memohon kepada-Mu tiga perkara, yaitu hukum yang sesuai dengan hukum-Mu, kerajaan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang pun sesudahku, dan barang siapa yang datang ke masjid ini dengan niat untuk salat, maka ia bersih dari dosa-dosanya seperti baru dilahirkan oleh ibunya”.

Rasulullah SAW bersabda, ”Terkait dua perkara (yang dimintanya), Nabi Sulaiman telah diberinya. Aku berharap yang ketiga itu kelak akan diberikan kepadaku”.

Share This