BEBERAPA ayat dan hadis menyebut Kota Mekah sebagai kota berkah. Di antaranya disebutkan dalam ayat yang berbunyi, “Mahasuci Allah, yang telah menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Mahamendengar lagi Mahamelihat”, (QS Al-Isra’/17:1).

Dalam ayat lain disebutkan, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”, (QS Ali ‘Imran/3:96).

Dalam hadis digambarkan pahala salat di Mekah sebanyak 100 ribu kali perbandingannya daripada salat di luarnya, selain Kota Madinah yang dikatakan mempunyai kekuatan 20 ribu jika dibandingkan dengan salat di tempat lain selain di Mekah.

Pertanyaan kita ialah di mana pusat berkah itu? Apakah di Mekah atau di Bakkah? Apakah sebatas pelataran Kabah atau seluruh batas Tanah Haram yang ditandai dengan rambu-rambu perbatasan oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi? Dalam ayat dan hadis tidak diungkapkan secara pasti batas wilayah Mekah yang dianggap berkah.

Dalam ayat pertama tersebut, dikatakan Kota Mekah yang ‘telah kami berkahi sekelilingnya’ (alladzi barakna haulahu). Sementara itu, dalam ayat kedua hanya dikatakan ‘Bakkah yang diberkahi’ (Makkah mubarah). Dalam hadis juga tidak ada penjelasan secara tegas. Karena ketidaktegasan itu, kalangan ulama berbeda pendapat.

Ada yang mengatakan seluruh batas Kota Mekah, yang lainnya mengatakan batas Tanah Haram di dalam Kota Mekah, dan pendapat lain juga mengatakan sebatas pelataran Kabah. Itu juga masih dipertanyakan karena pelataran Kabah sekarang sudah sedemikian luas.

Ada cerita menarik datang dari Syekh Ibnu Arabi dalam kitabnya Al Mubasysyirat menceritakan, ketika suatu saat menyelenggarakan haji/umrah, ia mengalami peristiwa ajaib. Ia tiba-tiba berjumpa dengan sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar. Tidak dijelaskan apakah dalam mimpi (al-manamat) atau perjumpaan spiritual (al-waqi’iyyat).

Ia menyapa Abu Bakar dan menanyakan, di manakah batas yang kalau kita salat mendapatkan 100 ribu pahala? Apakah di pelataran Kabah atau di seluruh wilayah Kota Mekah. Abu Bakar menjawab, “yang saya ketahui di masa Nabi, yang termasuk dalam wilayah itu ialah seluruh Kota Mekah yang diberi batas sebagai Tanah Haram.” Setelah itu Abu bakar pergi. Pengalaman spiritual ini ialah satu di antara sekian banyak pengalaman spiritual Syekh Ibnu Arabi yang dihimpun di dalam kitab tersebut.

Menurut Imam Al-Ghazali, wilayah paling berkah ialah yang paling dekat dengan Kabah. Ia menggambarkan bahwa Kabah ialah pusat gravitasi spiritual. Semenjak Kabah dibangun, tidak pernah berhenti diputari oleh manusia dan makhluk spiritual, seperti jin dan malaikat. Mereka juga ikut bertawaf di sekeliling Kabah.

Ibarat sebuah turbin yang selalu hidup dan aktif mengalirkan dan memancarkan energi batin. Energi di sekitarnya bisa meluruskan jalan pikiran yang bengkok, melunakkan hati yang keras, dan memutihkan hati yang kotor. Energi Kabah juga bisa menyedot dan mengisap para jemaah haji dan umrah ke dalam lingkaran pusat magnet spiritual. Seolah-olah pusat magnet ini mampu menyedot seluruh dosa dan kotoran para tamu Allah Yang Mahapengasih (dhuyuf al-Rahman).

Wajar jika dikatakan dalam hadis Nabi bahwa satu salat di samping Kabah sepadan dengan 100 ribu kali salat di luarnya. Orang yang salat di dalam radius inner circle Kabah bagaikan berada di dalam lautan berkah. Inilah sesungguhnya yang disebut dengan Mekah yang penuh berkah, sebagaimana disebutkan dalam ayat dan hadis.

Banyak jemaah haji dan umrah, terutama jemaah haji Indonesia,  memegang pendapat Imam Al-Ghazali. Mereka tidak memedulikan panas terik demi mencapai pelataran bagian dalam Kabah. Sekalipun harus berdesak-desakan. Dalam musim haji, terkadang kita menyaksikan orang-orang bergantian sujud karena begitu padatnya jemaah di sekitar Kabah. Padahal, jika orang mau berpegang kepada petunjuk yang diperoleh Ibnu Arabi, salat di dalam pelataran Kabah atau salat di masjid-masjid lain di dalam Kota Suci Mekah sama saja.

Masalahnya ialah soal perasaan. Bagaimanapun menghadap dan sekaligus menyaksikan Kabah secara fisik jauh lebih khidmat ketimbang hanya salat dengan menghadap ke arah kiblat. Itulah keajaiban sekaligus keutamaan kota Mekah yang menyimpan sejumlah benda dan bangunan sakral. Wallahualam.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta

Artikel ini telah dimuat pada kolom Opini, harian Media Indonesia edisi , Kamis 23 Agustus 2018 (lrf)

Share This