Di Balik Tren “Pick Me” dan “Avoidant”, LKPM Psikologi UIN Jakarta: “Pentingnya Konsultasi Profesional”

Di Balik Tren “Pick Me” dan “Avoidant”, LKPM Psikologi UIN Jakarta: “Pentingnya Konsultasi Profesional”

Fakultas Psikologi, Berita UIN Online - Maraknya konten video pendek sosial media mengenai Self Diagnose cukup menarik perhatian kalangan anak muda Gen Z. Istilah populer issue health kerap digunakan untuk mem-branding diri. Tidak buruk dan juga tidak benar, pembawaan yang santai dan lucu-lucuan memberikan suasana santai untuk sebagian orang terlebih saat membuat konten video pendek mengenai kesehatan mental. Di samping itu, fenomena ini menarik perhatian para mahasiswa Psikologi UIN Jakarta.

Melirik hal ini, tersedianya Layanan Kesejahteraan Psikologi Mahasiswa (LKPM) Psikologi UIN Jakarta menjadi solusi dari setiap pertanyaan mengenai self diagnose. Ditemui di Ruang LKPM, pada Rabu, (20/5/2026), Berita UIN Online mendapatkan berbagai informasi mengenai fasilitas layanan konseling untuk sivitas akademika Psikologi UIN Jakarta.

Sebagai unit layanan konseling, LKPM berdiri sejak 9 Juli 2021 dan diresmikan langsung oleh Rektor periode 2019-2023, Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Lubis, Lc. M.A., dibersamai dengan Dekan fakultas periode 2019-2023, Dr. Zahrotun Nihayah, M.Si., dan Ketua LKPM, Dr. Neneng Tati Sumiati, M.Si., Psikolog.

Mengenal lebih dalam, LKPM menyediakan layanan konseling psikologis, pendampingan oleh peer counselor terlatih, serta program edukasi dan promosi kesehatan mental. Menjalankan dengan misi yang promotif, preventif dan kuratif serta didukung oleh tenaga profesional psikolog, konselor terlatih dan konselor yang berada di bawah supervisi profesional, LKPM siap menghadapi berbagai permasalahan mahasiswa seperti, tekanan akademik, dinamika relasi sosial dan tantangan pengelolaan emosi sekaligus menjadi wadah praktik mahasiswa Psikologi. Dengan tahapan konsul kepada dosen Pembimbing Akademik (PA), mahasiswa akan mengetahui apakah ia dapat menggunakan fasilitas LKPM.

Pengurus LKPM, Ilma Halida Alkaf mengatakan bahwa konsultasi di LKPM memiliki aturannya tersendiri.

“Dalam ilmu Psikologi, konselor tidak boleh dengan orang yang dikenal karena khawatir menimbulkan bias, jadi LKPM memiliki jadwal tugas tersendiri, yang menjadi konselor itu dari mahasiswa terlatih atau peer counselor dan juga dosen, mahasiswa dapat memilih jadwal temu dengan siapa di hari apa setelah menemui dosen PA,”  jelasnya.

Menjadi tenaga konselor yang berhasil bergabung dalam unit layanan Psikologi LKPM merupakan sebuah batu loncatan bagi mahasiswa untuk mendalami bidang Psikologi. Dalam wawancara, pengurus LKPM, Ilma menjelaskan betapa ketatnya kualifikasi dan tahap pendaftaran yang dilewati, melalui tiga tahapan dan pelatihan yakni, tahap pemberkasan, tahap wawancara mendalam mengenai kesehatan mental dan tahap akhir sebuah proyek yang harus dibentuk dan dilaksanakan dalam 10 hari.

“Kita bener-bener ngurus kegiatan itu pas lagi kuliah, cuma dikasih waktu 10 hari untuk bisa ngejalanin acara,” tutur Ilma, pengurus LKPM.

Menelusuri lagi LKPM Psikologi, tidak hanya menyediakan layanan konseling, LKPM turut mengambil posisi menjadi garda penolong untuk masyarakat dalam menghadapi masalah kesehatan mental, pada momen tertentu LKPM mengadakan Medical Health Check Up (MHCU) di beberapa universitas, sekolah dan event, mengadakan kampanye di car free day, open booth pada event, yang akan datang akan mengadakan Cognitive Behavior Therapy (CBT) dengan menggunakan standar ukuran Psikologi dengan Self Reporting Questioner (SRQ).

LKPM juga seringkali turun lapangan untuk membantu korban bencana. Pengurus LKPM, Syifa Sakinah mengatakan bahwa LKPM turut ambil bagian untuk menolong masyarakat yang terkena musibah bencana dengan Trauma Healing.

“Trauma Healing itu bukan mengobati tapi untuk membantu membuat dia melupakan rasa traumanya, kita membantu dengan cara mendengarkan mereka, apa yang dirasain dan memotivasi mereka,” jelasnya.

Sebagai unit yang dijalankan oleh mahasiswa dan disetir oleh dekan, wakil dekan juga dosen, LKPM sangat memperhatikan kualitas dari program kerja mahasiswa. Menanggapi permasalahan up to date Gen Z di media sosial, pengurus berikan imbauan bahwa seringkali ditemui konten video pendek yang membahas mengenai self claim, avoidant, pick me, NPD. Pengurus menjelaskan bahwa, sifat-sifat yang akrab di telinga kita itu merupakan mental health issue dan menentukan bahwa diri kita memiliki sifat tersebut ada prosedur periksa kesehatannya tersendiri.

(Meisa A./Zaenal M,/Arifin Ilham/Foto: Tiara Abdhie)