Teater Prof Abdul Ghani, Berita UIN Online—Menulis itu dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Di gojek, di kereta, di gunung. Waktu-waktu yang sempit itu kadang mendatangkan ide segar dan mendorong produktivitas ke tahap yang kita sendiri akan kaget.

Berikut quotes yang menjadi semangat seorang JS  Khairen saat menjadi narasumber pada acara Talk Show yang digelar Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta, Senin (13/11),  bertempat di Teater Prof Abdul Ghani lantai 5.

Acara yang mengusung tema Tentang Rindu dan Perdamaian ini, dihadiri pengurus lembaga kemahasiswaan se-FAH, mahasiswa, dan sivitas akademika FAH UIN Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Khairen berbagi pengalamannya di dunia menulis. Menurutnya pertama kali yang perlu diperhatikan adalah tulis apa saja yang terlintas. Jangan berpikir terlalu lama, karena itu menghambat proses kreatif.

“Ide itu memang ada di kepala, tapi kalau tidak dialirkan ke tangan, maka tidak akan jadi apa-apa. Jadi, di awal itu tulis saja dulu pakai hati. Setelah sekian halaman, baru pakai kepala. Baru susun dengan baik”, tambahnya.

Masih menurut Khairen, dirinya punya cara kreatif dalam memasarkan karya-karya tulisnya. Misal, dengan memposting gambar dengan quotes indah yang diambil dari novel-novel karyanya, salahsatunya Ninevelove. “Dengan cara ini tidak  sedikit orang yang jadi tertarik dan baper sehingga tertarik untuk membeli dan membaca Ninevelove,” ungkapnya.

Bagi Khairen, menulis adalah dorongan hati. Ekonom bisa menulis karena dia gelisah melihat situasi kesejahteraan rakyat. Pakar hukum menulis karena dia gelisah melihat ketidakadilan. Guru menulis karena dia gelisah melihat kesenjangan. Jadi, tulisan bisa menjadi buah kegelisahan yang berisi kejujuran.

“Maka, tulislah sesuatu yang bahkan kau sendiri akan tergetar apabila membacanya,” tandas JS Khairen menutup pemaparannya dalam talk show tersebut.

Sebagai informasi, JS Khairen adalah penulis muda yang fenomenal dengan karyanya Novel Ninevelove, Rinduku Sederas Hujan Sore itu, dan author 30 Paspor di kelas sang professor. (lrf/sf)

 

Share This