Auditorium Utama, BERITA UIN Online— Karakteristik santri diminta terus dirawat sebagai jati diri utama mahasiswa UIN Jakarta dalam menghadapi era revolusi Industri 4.0. Kecintaan terhadap keilmuan agama, pandangan moderat, kerendahhatian, kemandirian, kesederhanaan, dan kepedulian pada sesama yang dimiliki seorang santri makin dibutuhkan di era ini.

Demikian benang merah isi sambutan Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta Sururin pada pembukaan Al-Arabiyyah lil Funun di Auditorium Utama Harun Nasution UIN Jakarta, Senin (23/9/2019). Kegiatan bertajuk Meneguhkan Peran Strategis Santri dalam Mengembangkan Bahasa Arab di Era Milenial untuk Indonesia Berkemajuan ini diselenggarakan Prodi Pendidikan Bahasa Arab FITK.

Sururin menuturkan, santri merupakan kelompok sosial Muslim yang masih teguh mendalami keilmuan agama Islam. Berbagai referensi klasik dalam berbagai disiplin ilmu keislaman seperti kajian tafsir, hadits, akhlak tasawuf, fiqh, siyasah dan lainnya mereka pelajari secara konsisten.

Berbagai referensi klasik ini mereka pelajari langsung dari bahasa Arab kendati tetap mempertimbangkan lokalitas masyarakat Muslim tanah air. Sikap mempelajari langsung dari sumber sekaligus perhatian pada keunikan lokal menjadikan santri sebagai kelompok intelektual muslim Indonesia yang moderat.

“Mereka belajar berbagai referensi dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Inilah yang menjadikan santri berpaham moderat,” paparnya.

Sikap moderat dalam beragama seperti dilakukan para santri, lanjutnya, merupakan sikap keberagamaan yang dibutuhkan di tanah air. Penghargaan terhadap keragaman sekaligus kedisiplinan menjalankan kewajiban agama sendiri menjadikan sikap moderat santri sebagai model sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini dan mendatang.

Selain pemahaman keagamaan dan relijiusitasnya, karakter positif lain santri yang dibutuhkan dalam kehidupan saat ini adalah kerendahhatian sekaligus penghormatan atau tawadhu. Sikap tawadhu yang berangkat dari etika santri-kyai menuntun mereka tumbuh sebagai entitas sosial yang bertugas mengedepankan kesantunan di dalam pergaulan publik.

“Sikap tawadu, santun, ini harus dikembangkan. Baik dalam dunia pendidikan, berinteraksi berelasi,” katanya.

Karakteristik lain dari seorang santri adalah kemandiriannya. Kehidupan di pondok pesantren yang menuntut santri mengelola kesehariannya di tengah-tengah kegiatan belajarnya menjadikan santri tumbuh sebagai pribadi mandiri. “Karakteristik mandiri harus ditingkatkan dan dikembangkan,” tambahnya.

Lainnya, sikap positif seorang santri yang terus perlu dirawat adalah kesederhanaan dan penuh kekeluargaan. Santri terbiasa hidup sederhana dalam menjalani kehidupannya di tengah kecenderungan hedonistik yang makin meruyak. Kesederhanaan ini difahami sebagai sikap kemauan untuk tidak menjadikan materi sebagai tujuan utama, melainkan alat untuk membantu sesama. (nu.or.id/zm)

Share This