Gedung FITK, BERITA UIN Online– Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Victoria Wellington Selandia Baru Prof Stephen Dobson menyampaikan kuliah umum tentang pendidikan di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta bertempat di Teater Mahmud Yunus lt 3 Gedung FITK.

Kuliah umum bertajuk Apa Arti Pendidikan Setelah Serangan Teror Christchurch itu dibuka Dekan FITK Dr Sururin MAg. Dalam sambutannya, Sururin menceritakan tentang kualitas pendidikan di Selandia Baru di tingkat global.

“Selandia Baru memiliki kualitas yang baik, maka pada kesempatan ini kita ingin belajar banyak dari Selandia Baru,” ujar Sururin dalam bahasa Inggris.

Sementara Dobson memulai paparannya dengan pertanyaan “apa makna pendidikan” kepada mahasiswa FITK dan sejumlah dosen yang menjadi peserta kuliah umum. Dobson memberikan waktu dua menit untuk peserta merespon pertanyaannya tersebut yang dijawab oleh beberapa orang yang mewakili dosen dan mahasiswa.

Kemudian, Dobson menjelaskan bahwa setelah serangan teror kepada jamaah shalat Jumat di masjid Christchurch per 15 Maret 2019, para orang tua di Selandia Baru mengajarkan anak-anaknya untuk menghindari tindakan prilaku teror semacam itu. Bahkan, menurutnya, negara melalui Kementerian Pendidikan juga mengevaluasi ulang konten kurikulumnya.

“Serangan semacam ini sudah pernah terjadi di Norwegia pada 22/1/2011. Hasil penelusuran ditemukan bahwa ada kemiripan latar belakang kondisi kejiawaan pelaku teror yang di Norwegia dengan yang di Selandia Baru,” ujarnya.

Kedua pelaku, lanjut Dobson, memiliki latar belakang mental yang buruk, seperti pernah dibully, diabaikan dari lingkungannya dan pada usia remaja mulai mencari pelarian ke internet yang menginspirasi pelaku melakukan tindakan teror.

Ditegaskannya, betapa penting makna pendidikan bagi generasi penerus. Dicontohkannya, bagaimana mengartikulasikan esensi pendidikan di kalangan suku Maori (salah satu suku di Selandia Baru –red), dimana makna pendidikan yang mereka terapkan adalah hubungan yang erat antara cucu dengan kakek neneknya.

“Hubungan seperti ini bisa menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau dan pada saat yang sama hubungan yang erat ini dapat memprediksi potensi gejala peristiwa yang mungkin akan terjadi di masa hadapan,” imbuhnya.

Yang menarik, tegasnya, suku Maori tetap menjaga esensi pentingnya hubungan antara cucu dan kakek neneknya.

Usai pemaparannya, Dobson memberikan kesempatan kepada para peserta untuk bertanya dari materi yang disampaikannya. Maoritas peserta bertanya tentang tujuan akhir yang ideal dari pendidikan. (lrf/mf)

Share This