Gedung FITK, BERITA UIN Online– Indonesia berada pada urutan ketiga sebagai negara pengguna mobile internet di dunia. Penggunaan yang paling masif adalah penggunaan media sosial (medsos).

Penggunaan medsos ini pada umumnya untuk melihat ujaran orang lain (baca: status atau komentar) atau berita soal aktivitas orang lain, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

Demikian disampaikan Dr R Kunjana Rahardi MHum yang menjadi narasumber pada Studium General Pragmatik yang digelar Program Studi (Prodi) Tadris Bahasa dan Sastra Indonesia (TBSI) FITK UIN Jakarta bekerja sama dengan Penerbit Erlangga, Rabu, (11/9/2019) di Teater Mahmud Yunus lt 3 gedung FITK.

Hal tersebut, lanjut Kunjana, ternyata memiliki implikasi beragam dan besar terhadap komunikasi di masyarakat. Salah satu bentuk yang paling jelas di antaranya pelaporan akun media sosial kepada pihak kepolisian karena dianggap melakukan pencemaran nama baik atau meresahkan masyarakat.

“Media sosial tampaknya memiliki normanya sendiri yang berbeda dari norma komunikasi konvensional, salah satu yang paling kentara adalah soal kesantunan,” ujar Kunjana dalam Stadium General bertajuk “Kesantunan Media Sosial dan Peluang Penelitian Pragmatik” ini yang ditujukan untuk memberikan wawasan mengenai pragmatik dan fenomena berbahasa di media social kepada mahasiswa FITK.

Dosen penulis buku “Pragmatik: Fenomena Ketaksantunan Berbahasa” itu menambahkan, dengan wawasan pragmatik, mahasiswa akan dipandu untuk memperoleh makna sesuai dengan maksud penutur berdasarkan pada konteks yang muncul dalan tuturan, sehingga interpretasi pada tuturan menjadi lebih kaya dan bernas.

“Interpretasi tanpa konteks membuat pemahaman terhadap tuturan menjadi keliru,” tandas dosen Linguistik di Universitas Sanata Darma Yogyakarta ini.

Ditambahkannya, melalui kegiatan ini mahasiswa bisa peluang penelitian dengan menggunakan pendekatan Pragmatik. Hal ini akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa agar memperoleh inspirasi dan memberi wawasan mengenai objek penelitian yang bisa diambil, jenis pendekatan, dan teori yang sesuai dengan objek penelitian.

Dengan demikian, terangnya, mahasiswa yang sedang menyusun proposal skripsi dan sedang menyusun skripsi dapat memperoleh inspirasi tentang penelitian yang akan diteliti.

“Data bahasa itu ada di sekitar kita, maka carilah data yang melimpah-limpah. Dengan kata lain, selama data tersebut adalah ujaran atau tuturan, maka itu bisa dianalisis dan dijadikan karya tulis ilmiah,” terangnya.

Akhirnya, sambung Kunjana, teori yang dipelajari di bangku perkuliahan tidak hanya dicatat begitu saja, namun bisa diaplikasikan dalam penelitian, sehingga memudahkan mahasiswa dalam menulis skripsi dan karya tulis lain.

Usai Studium General, acara dilanjutkan dengan pertemuan alumni dengan tajuk “Alumni Pulang Kampus”.

Pada pertemuan tersebut, Ketua Prodi TBSI Dr Makyun Subuki MHum menjelaskan, pertemuan alumni ini ditujukan untuk mahasiswa semester satu dan tiga dengan harapan ada wawasan yang tersampaikan mengenai profesi yang bisa diambil saat setelah menyelesaikan pendidikan perkuliahan di prodi ini.

Dihadirkan dalam pertemuan tersebut, Syakir N Wartawan NU Online, Tri Wibowo Content Writer Sepikul, Ema Fitriani wartawan Koran Nasional, dan Siti Nurfitriani dosen sekaligus pengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing.

Selain mengenai profesi, para narasumber juga bercerita mengenai kisah suka dan duka selama berkuliah dan tips serta trik menyelesaikan perkuliahan.

Hadir dalam acara yang dibuka Dekan FITK Dr Sururin MAg itu Muhammad Zuhdi MEd PhD Wakil Dekan Bidang Akademik, sejumlah dosen TBSI FITK, tenaga kependidikan, peneliti, dan mahasiswa TBSI dengan perkiraan jumlah peserta sebanyak 100 orang. (lrf/mf/nn)

Share This