#CeritaMahasiswa Najwa Lathiifah, Mahasiswi UIN Jakarta yang terbitkan 8 Buku

#CeritaMahasiswa Najwa Lathiifah, Mahasiswi UIN Jakarta yang terbitkan 8 Buku

Jakarta, Berita UIN Online – Mahasiswi semester dua Program Studi (Prodi) Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Najwa Lathiifah Saepudin memandang kepenulisan sebagai cara terdalam untuk menyampaikan isi hati yang tak mampu dirasakan dunia. Najwa telah berhasil menerbitkan antologi puisi dengan dua bahasa, “Love Rhymes for Him” dan “Scratched by Love”, serta enam novel dalam seri “Dance of Destiny”.

​Perjalanan literasi Najwa dimulai saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Baginya menulis bukan sekadar menyusun kata tetapi juga dituangkan ke dalam bait-bait puisi.

​Atas saran sang ibu yang melihat bakatnya, Najwa memutuskan untuk mengabadikan karya-karyanya. Sebanyak 99 puisi berhasil dikumpulkan dalam buku pertamanya berjudul “Love Rhymes For Him”. Langkah ini menjadi gerbang pembuka bagi karya-karya selanjutnya, termasuk antologi puisi kedua bertajuk “Scratched by Love”.

“Menulis adalah caraku untuk menyampaikan isi hati terdalam yang bahkan dunia pun tak mampu merasakannya. Aku ingin mereka tahu bahwa ada banyak bentuk rasa di dunia ini, dan semua rasa itu layak untuk didengarkan," ungkapnya.

​Tak puas hanya dengan puisi, Najwa mulai menantang diri untuk menulis narasi yang lebih panjang. Melalui riset mendalam dan pengumpulan rasa, ia meluncurkan seri novel “Dance of Destiny” yang kini telah mencapai enam judul dengan genre yang sangat variatif.

​Mulai dari romansa kerajaan dalam “A Lie Reveal The Truth Behind Love”, drama religi dalam “My Life With Mr. Zhuang Yunxi”, hingga kisah dark romance dan obsesi dalam “Burning Obsession of Mr. and Mrs. Yunxi”. Tak berhenti di situ, Najwa juga mengeksplorasi fantasi melalui “The Mannequin” dan drama medis lewat novel keenamnya, “Heartbeat”.

​Dari seluruh karyanya, seri kelima yang bertajuk “The Authority of Mr. Maximilian Luo Chengxiao” menjadi yang paling best seller. Novel ini mengangkat tema berat mengenai sindikat perdagangan manusia dengan pesan moral yang kuat bahwa setiap tindakan kejahatan akan selalu memiliki konsekuensi.

​Sebagai mahasiswi Sastra Inggris yang kerap dihadapkan dengan tugas menumpuk, Najwa memiliki strategi khusus dalam membagi waktu. Baginya, menulis adalah hobi yang menyenangkan, bukan beban.

​"Aku menulis ketika ada ide muncul. Kalau belum ada ide, aku memutuskan untuk rehat sejenak. Intinya, selesaikan naskah dulu, revisi belakangan," ungkapnya.

​Meski produktif menulis, Najwa tetap memprioritaskan kewajiban akademiknya. Ia terbiasa langsung menyelesaikan tugas perkuliahan sesaat setelah diberikan agar tidak menumpuk. Menurutnya, menyelesaikan tugas utama adalah kunci agar bisa fokus dan tenang saat mengekspresikan ide ke dalam tulisan.

​Motivasi terbesar Najwa adalah ingin membawa orang-orang merasakan kisah yang mungkin tidak pernah mereka alami. Ia percaya bahwa setiap rasa di dunia ini layak untuk didengarkan, dan penulis adalah jembatan bagi mereka yang kesulitan jujur tentang lukanya.

​Melalui “Dance of Destiny”, Najwa membuktikan bahwa dari sebuah perasaan sederhana di masa sekolah, seseorang bisa menciptakan semesta cerita yang menginspirasi banyak orang.

(Amanda Fathiyah Azizah/Fauziah M./Zaenal M./Fajri Nafisa)

Tag :