Cerita Mahasiswa: Side Job ala Mahasiswa, Merawat Mimpi di Tengah Jadwal Kuliah

Cerita Mahasiswa: Side Job ala Mahasiswa, Merawat Mimpi di Tengah Jadwal Kuliah

Jakarta, Berita UIN Online - Bangku kuliah sering dipahami hanya sebagai ruang belajar akademik. Namun, bagi sebagian mahasiswa, kampus juga menjadi titik awal menuju kemandirian. Di sela jadwal kuliah, tugas, dan ujian, mereka memilih bekerja—bukan semata demi uang, tetapi untuk merawat mimpi, membangun tanggung jawab, dan mengenali diri sendiri. Dari kamar kos, layar ponsel, jalanan kota, hingga balik lensa kamera, kisah mereka berbeda latar, tetapi bertemu pada satu hal: keberanian memulai.

 

Di sudut kamarnya, peralatan rias tertata rapi. Bagi mahasisiwi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester 6, Halimah Istiqomah, yang akrab disapa Mimah, makeup bukan sekadar hobi, melainkan jalan menuju profesi. Anak bungsu dan satu-satunya perempuan di keluarganya ini menyukai dunia rias sejak kecil, terinspirasi dari kebiasaan melihat ibunya berdandan. Dari bermain di depan cermin, ia mulai menikmati proses menonjolkan keindahan alami wajah seseorang.

Saat remaja, Mimah belajar secara otodidak melalui YouTube dan media sosial. Ia berlatih pada wajahnya sendiri dan ibunya. Titik balik datang pada 2022 ketika seorang teman memintanya merias wajah untuk wisuda. Hasilnya memuaskan dan menumbuhkan kepercayaan diri. Sejak 2024, ia rutin menerima klien untuk wisuda, kondangan, pemotretan, hingga rias foto KTP, dengan tarif Rp150–200 ribu. Meski penghasilannya belum tetap, ia menyisihkan sebagian untuk membeli produk baru demi meningkatkan kualitas layanan.

Membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan bukan hal mudah. Mimah kerap bangun pukul tiga pagi untuk klien acara dini hari, bahkan menangani dua klien di lokasi berbeda dalam sehari. Namun, rasa lelah terbayar ketika melihat klien tampil percaya diri. Ia berharap kelak dapat mengikuti kursus profesional dan bersertifikat.

Sementara itu, Mahasiswi Prodi KPI semester 6, Mosyolla Azzahra—yang akrab disapa Ara meniti jalan berbeda sebagai host live commerce. Anak sulung dari tiga bersaudara ini terdorong untuk mandiri sejak awal kuliah. Ia mulai bekerja sebagai host live pada April–Mei 2025. Ara bekerja enam hari seminggu, sekitar lima jam per hari, dengan jadwal fleksibel menyesuaikan kuliah. Dengan gaji pokok sekitar Rp2.500.000 per bulan ditambah bonus penjualan, ia memenuhi kebutuhan pribadi sekaligus membantu adik-adiknya.

Sample

Sementara itu, Mahasiswi Prodi KPI semester 6, Mosyolla Azzahra—yang akrab disapa Ara meniti jalan berbeda sebagai host live commerce. Anak sulung dari tiga bersaudara ini terdorong untuk mandiri sejak awal kuliah. Ia mulai bekerja sebagai host live pada April–Mei 2025. Ara bekerja enam hari seminggu, sekitar lima jam per hari, dengan jadwal fleksibel menyesuaikan kuliah. Dengan gaji pokok sekitar Rp2.500.000 per bulan ditambah bonus penjualan, ia memenuhi kebutuhan pribadi sekaligus membantu adik-adiknya.

Tantangan terberat bagi Ara adalah benturan jadwal, terutama saat ujian dan produksi film kampus. Ia menyiasatinya dengan membawa laptop ke tempat kerja dan mengerjakan tugas di sela waktu luang. Baginya, bekerja melatih tanggung jawab dan keberanian keluar dari zona nyaman. Dukungan lingkungan kerja dan respons positif pelanggan membuatnya bertahan.

 

Di jalanan kota, Syarif Jalaluddin atau Aip menjalani hari sebagai pengemudi ojek online. Mahasiswa Manajemen Pendidikan UIN Jakarta angkatan 2023 ini mulai bekerja sejak semester tiga untuk membantu orang tua dan belajar mandiri. Awalnya ia belum memiliki motor, tetapi berhasil menabung hingga membeli motor bekas pada 2024.

Kuliah tetap menjadi prioritas. Saat jam kelas, aplikasi dimatikan. Sore hingga malam menjadi waktu bekerja. Ia pernah merasa minder saat menjemput teman sekampus, tetapi kini justru bangga. Penghasilan Rp100–200 ribu per hari cukup untuk kebutuhan harian dan menabung, meski jumlahnya tidak selalu pasti.

Berbeda lagi dengan Muhammad Yahya yang menekuni fotografi. Minatnya tumbuh sejak di pesantren saat mendokumentasikan kegiatan organisasi. Pengalaman itu membentuk disiplin dan keterampilan. Setelah masa pengabdian selesai, mahasiswa Tarjamah UIN Jakarta ini mengembangkan kemampuannya secara profesional, termasuk melalui magang di Pusat Informasi dan Humas UIN Jakarta.

mahasiswa-fotografer

Jejaringnya berkembang melalui komunitas Ayo Motret Jakarta. Proyek berbayar pertamanya di sebuah acara ulang tahun anak senilai Rp350 ribu, menyadarkannya bahwa keterampilan fotografi ini memiliki nilai ekonomi. Meski pendapatan sebagai fotografer tidak selalu tetap, hasilnya cukup untuk kebutuhan harian tanpa bergantung pada orang tua.

Cerita-cerita ini menegaskan bahwa kemandirian mahasiswa tumbuh dari keberanian mengambil peran, mengatur waktu, dan bertahan dalam lelah. Kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang belajar tentang kerja keras, tanggung jawab, dan persiapan masa depan.

(Ananda Aqil Fathurahman/Nosa Idea Lestari/Fauziah M./Zaenal M./Muhamad Arifin Ilham)

Tag :