Pada awalnya semangat menggebu. Menjadi mahasiswa S2 di kampus negeri. Semangat membara yang dulu terpancar memudar seiring pertambahan semester. Semester I, II, dan III, masih keren. Rajin ke kampus untuk kuliah. Dua kali dalam seminggu.

Medsos mahasiswa dipenuhi foto-foto makan bersama di kelas maupun di resto sekitar kampus. Foto bareng dosen setiap akhir perkuliahan. Foto studi banding ke Singapura, Malaysia, dan Thailand. Pokoknya indah. Penuh kesan manis.

Semester IV mulai lunglai. Letih lesu. Jerih payah 3 semester seolah hilang entah kemana. Mereka telah kalah. Siapa dan apa yang mengalahkan? Entahlah. Mungkin kepala sekolah yang galak. Pasangan yang tak mendukung. Atau mungkin, mereka tidak mampu mengalahkan diri sendiri.

Setiap penyandang status magister di belakang namanya pasti mahasiswa S2. Tapi tidak semua mahasiswa S2 itu magister. Perjuangan seleksi dan kuliah berat, tapi menulis tesis lebih berat. Hanya mereka yang kuat mental yang bisa menyelesaikannya.

Mereka yang tidak takut dengan kesan dosen sibuk. Dosen susah ditemui. Dosen lamban balas whatsapp. Dosen tidak balas whatsapp. Dosen tidak angkat telepon.

Mereka yang terus menulis meski menulis tesis dikatakan susah. Mereka yang menahan keletihan setelah bekerja seharian. Duduk di kursi, meski punggung sudah letih, di depan laptop, sore hingga malam hari, atau pagi hari sebelum berangkat kerja, atau di hari-hari libur. Ada beragam pengorbanan di balik tesis 100 halaman itu.

Ibarat tinju, kuliah pasca ada 3 ronde. Mereka gagal di ronde ketiga. Ronde pertama, ujian masuk. Ronde kedua, perkuliahan. Ronde ketiga, tesis.

Tesis benar-benar menjadi hantu bagi mahasiswa. Padahal tesis bukan makhluk gaib. Contoh tesis melimpah ruah. Mudah didapat. Gratis. Bisa diamati. Ditiru. Dimodifikasi. Inilah berpikir dan bekerja inovatif. Ringan jika dikerjakan, tapi berat jika dipikirkan.

Tesis bisa diselesaikan. Tepat waktu. Tiga atau empat bulan. Pertama, tentukan topik berdasarkan aspek yang diminati. Baca beberapa artikel, buku, tesis, dan disertasi terkait topik tersebut. Catat juga masalah aktual terkait topik. Bisa skala kabupaten, kota, provinsi, atau nasional. Bacalah. Proses di atas akan menginspirasi penentuan topik bahkan judul tesis.

Kedua, jika judul sudah disetujui jurusan, tahap selanjutnya adalah menulis proposal dan tesis. Saatnya fokus membaca, mengambil data, dan menulis.

Berikut tahapannya. 1) Membaca beragam sumber referensi. Buku, artikel, dan tesis. 2) Mengumpulkan kutipan teori dari sumber tersebut. 3) Mengkategorisasi kutipan-kutipan tersebut. 4) Membuat instrument, seperti pedoman wawancara, observasi, dan dokumen. 5) Mencari sekolah atau situs riset yang sesuai. 6) Mengumpulkan data. 7) Mengkategorisasi data. 8) Menganalisis data dengan teori. 9) Menyimpulkan. 10) Membuat saran-saran sesuai kesimpulan.

Kategorisasi dan analisis bisa dilakukan pada hasil cetakan tesis agar lebih mudah. Membaca cetakan tesis sambil mengoreksinya dengan tinta merah atau biru. Sekali-kali dikerjakan di perpustakaan, kafe, agar tidak bosan di rumah atau kos terus.

Ketiga, bimbingan dosen. Pada tahap ini perlu diperhatikan. 1) Mengikuti saran-saran pembimbing dan penguji. 2) Mengkonfirmasi saran-saran tersebut dengan buku atau sumber lainnya. Misalnya mahasiswa merasa ragu atau bingung dengan saran tersebut. Apalagi sarannya dianggap bertentangan antara dosen satu dengan dosen lainnya. 3) Menemui dosen pembimbing secara rutin. Minimal dua minggu sekali.

Keempat, ujian 3 tahap. Proposal, hasil, dan promosi. Tahapan ujian ini bisa dilalui oleh setiap mahasiswa. Tidak perlu cemas apalagi takut berlebihan. Jika tahapan menulis di atas dilakukan dengan baik, maka tidak perlu cemas menghadapi ujian.

Suasana ujian tidak setegang saat lamaran si jantung hati. Malah sering penuh riang gembira. Namanya juga ujian promosi atau syukuran tercapainya gelar M.Pd. Meski tidak selalu demikian.

Dosen itu macam-macam. 1) Lebih banyak memberi saran daripada menguji. 2) Saat menguji seperti cadas, tapi saat memberi nilai tinggi. 3) Sibuk dengan kesalahan teknis daripada substansi tesis. 4) Banyak menemukan kelemahan tesis, tapi memberi nilai besar. 5) Menguji dan memberi saran dengan baik, juga memberi nilai objektif.

Akhirnya, hindari plagiasi sejak dalam pikiran karena sebelum ujian ada uji similariti. Sering diplesetkan uji similikiti. Aya-aya wae. Tos ah sampai di sini saja, punggung sudah pegel. Selamat datang di kampus biru.

Dr Jejen Musfah MA, Ketua Prodi Magister Manajemen Pendidikan Islam FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: fitk.uinjkt.ac.id, 22 Agustus 2019. (lrf/mf)

Share This