Cara dan pengalaman warga keturunan Cina [Tionghoa] menjadi Muslim dalam segi tertentu relatif khas dibandingkan komunitas atau kelompok etnis Muslim lain di Indonesia. Hal ini juga benar dalam ekspresi keislaman mereka.

Agaknya ekspresi keislaman warga Tionghoa Muslim itu dapat lebih jelas terlihat dalam kiprah sejumlah dai keturunan. Hew Wai Weng (Chinese Ways of Being Muslim: Negotiating Ethnicity and Religiousity in Indonesia, Copenhagen: NIAS Press, 2018) menyebut kiprah dai keturunan itu sebagai ekspresi kecinaan dalam upaya memasarkan Islam; tetapi pada saat yang sama mereka terlihat mengekspresikan penampilan hibrida.

Weng mencatat, sejak masa pasca-1998, sejumlah dai Muslim keturunan muncul, bahkan secara high profile. Mereka populer bukan hanya di kalangan jamaah Muslim keturunan Tionghoa, melainkan juga Muslim pribumi. Mereka tampil tidak hanya dalam forum pengajian dan majelis taklim dengan jamaah ramai, tetapi juga lewat media elektronik semacam televisi dan dunia maya, seperti Youtobe.

Cukup banyak dai keturunan Cina yang populer. Tetapi hanya beberapa orang yang mendapat pembahasan cukup panjang dalam buku Chinese Ways of Being Muslims. Mereka, misalnya Tan Mei Hwa atau Ida Astuti (lahir 1968); Liem Hai Thai atau Koko Liem (lahir 1979) alias Muhammad Usman Ansori; Han Hoo Lie alias Irene Handoko (lahir 1954); Nio Gwang Chung alias Syafii Antonio (lahir 1967); Tan Kok Liong alias Anton Medan (lahir 1957). Juga ada dai keturunan yang disinggung selintas semacam Felix Siauw.

Praktis semua dai tersebut adalah mualaf. Masing-masing punya latar belakang agama lain yang berbeda; masing-masing masuk Islam juga karena alasan yang berbeda. Begitu pula, proses masing-masing dalam mempelajari Islam dan kemudian mendakwahkannya atau cara berdakwah juga berbeda-beda.

Kebanyakan dai warga keturunan Tionghoa dalam segi tertentu menampilkan kecinaan pada konteks keislaman dan keindonesiaan. Aspek kecinaan ini ditampilkan, antara lain dengan gaya berpakaian Cina; atau penggunaan sedikit kosa kata dan terminology bahasa Mandarin; atau menekankan peranan pelayar atau pengembara Cina dalam proses Islamisasi pada masa awal penyebaran Islam di kepulauan nusantara, khususnya pulau Jawa.

Menurut Weng, ada dua alasan yang dapat menjelaskan kebangkitan para dai keturunan Tionghoa belakangan ini. Pertama, kembalinya budaya Cina ke ruang publik Indonesia sejak runtuhnya Orde Baru; dan kedua, meningkatnya popularitas para dai selebritas umumnya.

Seperti para dai lain umumnya, dai-dai keturunan Tionghoa dewasa ini juga terseret ke dalam budaya konsumer yang terus meningkat. Oleh karena itulah banyak di antara mereka menjadi selebritas media; mereka sangat pintar mengolah dan menampilkan pesan-pesan dakwah masing-masing dengan gaya penampilan yang juga dibuat khas.

Para dai keturunan Tionghoa memiliki daya tarik sendiri bagi kaum Muslimin Indonesia umunya. Status mereka sebagai mualaf, disertai penampilan fisik dengan gaya berpakaian khas menjadi trademark yang membuat ceramah-ceramah mereka hampir selalu menarik banyak jamaah.

Sebagai mualaf, dai-dai keturunan Tonghoa menimbulkan kebanggaan sekaligus keingintahuan tentang alasan mereka masuk Islam. Dai-dai ini dengan cukup pintar memanfaatkan suasana psikologis ini, yang selanjutnya membantu meningkatkan popularitas masing-masing.

Tidak kurang pentingnya, di antara para dai itu sering mengangkat tema tentag agama mereka sebelumnya. Sebagian mereka, lazimnya mengkritik agama mereka yang terdahulu; kelemahan-kelemahan itu mereka sebut sebagai faktor pendorong berpindah agama ke dalam Islam. Isu ini sangat menarik bagi banyak jamaah pengajian, yang juga meningkatkan popularitas dai warga keturunan bersangkutan.

Menyimak perkembangan dai warga keturunan khususnya, Wen mengajukan argumen menarik: “Dalam masa Indonesia kontemporer, dakwah Islam bukan hanya merupakan medium untuk transmisi ilmu pengetahuan Islam kepada publik, melainkan juga menjadi cara untuk mengumpulkan kekayaan dan sekaligus meningkatkan status sosial”. Argumen ini banyak benarnya bagi para dai umunya, termasuk warga keturunan Tionghoa. Berdakwah semakin menjadi profesi lukratif bagi banyak dai, terutama yang bergerak di wilayah urban.

Para dai keturunan Tionghoa pada masa sekarang berbeda dengan para penceramah etnis Cina masa lalu, saat mereka tidak bisa mengekspresikan kecinaan, keislaman, dan keindonesiaannya secara terbuka dan ekspresif. Sekarang, mereka tidak hanya bebas mengekspresikan ketiga entitas itu, tetapi juga sekaligus dapat meningkatkan kekayaan dan status sosial.

Prof Dr Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Resonansi Koran Republika, Kamis, 28 Februari 2019.(lrf/mf)

Share This