Salah satu fenomena yang selalu menarik diamati adalah perubahan. Orang, atau observer bisa mengamati perubahan pada sesuatu, dengan cara membandingkannya. Variabel yang dibandingkan bisa beragam—tergantung dari maksud dan tujuan dari observasinya. Namun yang jelas, ada dimensi waktu yang menjadi pemisah antara keduanya, yang secara sederhana sering dikemukakan pada “sebelum” dan “sesudah” yang melekat pada fenomena itu.

Tidak terkecuali, perubahan yang karakternya abstrak pun bisa diamati. Salah satunya adalah perubahan sosial. Perubahan sosial bisa dijelaskan secara sederhana sebagai perubahan yang hadir pada sebuah fenomena masyarakat, yang menyangkut hubungan-hubungan kelembagaan maupun fungsi-fungsi hubungannya.

Misalnya, berubahnya kelembagaan desa sebelum dan sesudah ada dana desa, dan seterusnya. Di dalamnya ada perubahan hubungan antara aparat desa dengan warga, dengan pemerintahaan daerah, dan sebagainya.

Di kota, perubahan sosial berlangsung lebih cepat. Variabel perubahan sangat banyak dan komplek. Hubungan-hubungan produksi antar pihak semakin rumit. Apalagi media penghubungnya pun semakin beragam. Alhasil tidak ada factor atau variable tunggal yang bisa dijadikan pisau analisis satu-satunya untuk mengamati perubahan tersebut.

Salah satunya adalah semakin eksisnya café dan budaya ngafe pada masyarakat kota. Istilah “sudah ngopi?” atau “ngopi dulu biar waras”, dalam keseharian menunjukkan bagaimana café pun sebenarnya sudah mengalami transformasi signifikan. Dengan kata lain, café telah mengalami perubahan sosial.

Membedah perubahan sosial pada institusi café bisa dilihat dari dua sudut pandang: lembaga café dan pengunjung café. Keduanya memiliki karakter perubahan transformatif yang berbeda-beda.

Pertama, dari aspek kelembagaannya sendiri, café telah banyak berubah: manajemen, struktur dan sistem pengelolaan, sampai kepada pilihan desain interior serta suasana yang ditawarkan. Jangan dilupakan, transformasi kelembagan café juga telah mengalami perubahan signifikan segmen yang dibidik. Beragam tema café yang ditawarkan menunjukkan bagaimana lembaga ini mendefinisikan dirinya, segmen sasarannya, dan imajinasinya.

Kedua, dari aspek penikmat budaya café. Saat ini perubahan pada aras ini bisa diproporsikan yang paling signifikan. Café jika dulu dianggap eksklusif, saat ini menjadi sangat variatif. Pengunjung bisa memilih jenis café sesuai dengan selera dan kemampuan finansialnya. Budaya di café-café juga sudah berubah banyak. Dulu kebanyakan café untuk santai, hang out bareng teman dan sahabat, sekarang café juga menjadi arena untuk produktif. Bahkan café seperti menfasilitasi hal itu, sehingga banyak orang yang memilih bekerja sambal ngafe.

Hal lain juga, karena suasana yang dibangunnya, banyak café berkontribusi kepada realitas kehidupan sehari-hari. Di Aceh misalnya, saya pernah menikmati Kopi Subuh pada sebuah kedai tempat ngafe. Di kedai itu, jamaah yang pulang dari masjid menikmati secangkir kopi yang masih panas dengan kudapannya.

Di tempat lain, café menjadi ruang paling produktif bagi TimSes (Tim Sukses) untuk merumuskan agenda, program, bahkan rencana aksi para konsultan politik. Atau café menjadi ruang diskusi santai dan serius untuk menghasilkan sesuatu. Tidak kalah penting, transformasi café juga sudah menjadi tempat keluarga-keluarga untuk berbagi kebersamaan di antara mereka.

Coba saja lihat di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta. Para pengunjung café tidak hanya sekumpulan pemuda dan remaja. Banyak juga di antara mereka adalah kelompok keluarga, yang ingin menikmati kehidupan dalam suasana yang ditawarkan sebuah café. Dengan kata lain, cafe bisa menjadi ruang publik baru tempat masyarakat mengimajinasikan kehidupannya.

Dengan kata lain, sekecil apapun, kehadiran café di belantara kehidupan masyarakat kota dewasa ini telah berkontribusi signifikan pada perubahan sosial masyarakat. Relasi-relasi kultural dan struktural yang diproduksi di dan pada sebuah café sejatinya bisa menjadi perhatian beragam pihak untuk mengoptimalkan institusi dalam membangun kualitas hidup masyarakat secara lebih luas. Termasuk di dalamnya, menjadikan kualitas café sebagai bagian dari pendukung program pemerintah di bidang pariwisata—khususnya model pariwisata berbasis partisipasi masyarakat. [ ]

Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Sosiologi Perkotaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Rakyat Merdeka 4 dan 5 Maret 2019. (lrf/mf)

Share This