Ruang Diorama, BERITA UIN OnlineBadan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memasukan isu kebencanaan ke dalam kurikulumnya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat sekaligus mitigasi bencana dan dampak ikutannya.

Demikian disampaikan Direktur Perbaikan Darurat BNPB, Ir. Medi Herlianto MM, saat menjadi narasumber dalam FGD Rektor PTKIN di Ruang Diorama, Senin (18/2/2019). Medi hadir melakukan sosialisasi pentingnya upaya mitigasi bencana kepada para rektor PTKIN mewakili Kepala BNPB, Letjen (TNI) Doni Monardo, yang berhalangan hadir.

“Kita bersama-sama memiliki kewajiban mitigasi, sehingga bisa mengurangi resiko kerugian lebih besar. Karena itu, kami dari BNPB, berharap betul agar PTKIN memasukan isu kebencanaan dalam kurikulum, atau bahkan membuka prodi manajemen kebencanaan,” paparnya.

Adopsi kurikulum maupun pembukaan prodi manajemen kebencanaan, jelasnya, amat dibutuhkan mengingat kawasan geografis Indonesia berada di kawasan rawan bencana. Selain berada di ring fire berupa deretan gunung berapi, resiko lainnya adalah banjir, longsor, tsunami, bahkan likuifaksi.

Merujuk ke pengalaman bencana selama ini, tuturnya, berbagai resiko tersebut mengakibatkan kerusakan sangat signifikan berupa korban jiwa, kerusakan lingkungan, dan material lainnya. Bencana tsunami dan likuifaksi Palu misalnya diproyeksikan menyebabkan kerugian material tak kurang dari Rp 24 triliun, gempa Nusa Tenggara Barat Rp 18 triliun, dan bencana tsunami Banten dan Lampung Rp 5 triliun.

Penanggulangan kerugian demikian, lanjutnya, juga membutuhkan pembiayaan yang cukup besar. Pemulihannya juga membutuhkan waktu yang relatif lama. “Karena itu, kami berharap isu ini masuk. Mitigasi sejak dini. Sebab kerugian bencana mengenai semua sektor, baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, perdagangan, teknologi, juga psikologi. Tidak ada sektor yang tidak kena,” ungkapnya lagi.

Rektor UIN Jakarta, Prof. Dr. Amany Lubis MA, menyambut usulan BNPB tersebut. Menurutnya, usulan tersebut sangat bagus mengingat kawasan Indonesia berada di kawasan geografis rawan bencana.

Selain itu, sambung rektor, isu kebencanaan juga amat penting diadopsi. Sebab menurutnya ini sejalan dengan sikap moderasi beragama yang menuntut individu beragama untuk memelihara lingkungan, selain taat menjalankan kewajiban agama dan penghormatan terhadap keragaman. (zae)

Share This