Rasanya kita tidak asing dengan quotes berikut: “there always the tough woman behind a great man”, bahwa selalu ada wanita tangguh di balik kehebatan dan kesuksesan seorang pria.

Bagi pria yang sudah memiliki pasangan hidup sosok wanita yang menonjol dan menjadi penentu kesuksesannya adalah istri yang ada di sampingnya. Istri adalah sosok segalanya untuk suami.

Bagi para suami, sosok istri tangguh dibutuhkan tidak hanya untuk membantu dalam karier atau pekerjaan saja melainkan menjadi pendamping dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Begitulah fungsi ganda seorang istri, karena selain harus mendukung pekerjaan suami, juga harus mampu mengurusi rumah tangga dengan baik. Tentu dilakukan bersama-sama dengan suami.

Tetapi, baru-baru ini telah terjadi kasus yang bertolak belakang dengan kondisi ideal di atas. Iya, ada beberapa istri dari seorang perwira tentara dengan kekeliruannya mengakibatkan karier suami yang sedang bagus harus berakhir.

Istri tentara itu memposting sebuah komentar yang isinya nyinyir terhadap kasus yang sedang viral sekarang, yaitu kasus penusukan yang dialami oleh Menko Polhukam Wiranto yang terjadi di Alun-alun Menes Pandeglang Banten (10/10/2019).

Alih-alih sesama korps prajurit TNI saling mensupport dan mendoakan, mereka malah nyinyir dan cenderung menganggap peristiwa tersebut adalah settingan dan rekayasa. Mereka melakukan itu di media sosial dan pembahasannya viral sampai sekarang.

Akibatnya, karier sang suami yang dibangun dari bawah dan sedang moncer harus rela dicopot oleh kesatuan masing-masing. Tidak hanya itu, suami mereka pun harus menjalani hukuman disiplin militer berupa penahanan ringan selama 14 hari.

Menjadi istri tangguh bagi pasangan memang gampang-gampang susah, karena harus siap menerima dalam situasi dan kondisi apapun. Seorang istri harus mengerti di mana suaminya bekerja dan berkarier.

Saat seorang suami jenuh dengan segala rutinitas kerja, seorang istri mesti bisa menjadi sosok penghibur untuk kembali membuatnya bersemangat, ketika suami sedang membutuhkan pundak untuk bersandar maka istripun harus siap memberikan bahunya untuk sang suami.

Seorang istri tidak boleh menjadi benalu dan penghambat karier suami apalagi sampai menghancurkan karier yang sudah dirintis panjang dan ‘berdarah-darah’ seperti kasus tersebut di atas.

Mungkin saja yang dilakukan istri TNI tersebut spontan karena terbawa suasana emosional dan boleh jadi sekedar iseng, tetapi berakibat fatal dan berbuntut panjang. Tidak hanya bagi suami dan dirinya tetapi juga bagi keluarga besarnya.

Di era digital dan keterbukaan sekarang ini tidak ada sesuatu yang bisa ditutupi dengan sempurna. Tidak ada lagi ruang privat yang sama sekali tidak dapat diketahui masyarakat luas.

Apa yang terjadi hari ini di belahan dunia lain, saat ini juga kita dapat mengetahuinya. Dunia seolah ada di genggaman kita. Setiap saat kita dapat mengetahui peristiwa yang berlangsung di manapun yang dikehendaki.

Sering kita lihat di beberapa media masa memberitakan kasus akibat tidak bijak menggunakan media sosial. Politikus dan kaum selebrita misalnya yang relatif sering terjadi persoalan disebabkan media sosial yang kemudian saling lapor ke polisi.

Seperti halnya penceramah agama, dari agama apapun yang berdakwah di dalam tempat ibadah atau di ruang tertutup, kemudian mereka menyampaikan provokasi kepada jamaah untuk memusuhi pihak lain dengan jargon-jargon agama yang disampaikan.

Peristiwa tersebut tidak boleh dilakukan, meskipun dilakukan di ruang tertutup dan dihadiri oleh orang terbatas dan masih dalam satu komunitas. Tetapi, jika ada sebagian jamaah merekam dan memposting isi ceramah tersebut, tetap saja sang penceramah akan terkena UU ITE dan terancam pidana.

Contoh kasus serupa juga dapat terjadi di lingkungan pemerintahan, dunia akademik, dan masyarakat umum jika tidak bijak dalam bermedia soaial. Maka solusinya kita harus ‘saring sebelum sharing’ –pinjam istilah Nadirsyah Hosen.

Mudah-mudahan peristiwa serupa tidak terulang, apalagi dilakukan dengan tidak sadar akan konsekuensinya. Hendaknya di era keterbukaan ini kita berhati-hati dan lebih bijaksana dalam berkomentar dan memposting sesuatu ke media sosial.

Muslikh Amrullah MPd, Staf Magister FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: https://fitk.uinjkt.ac.id,  Senin, 14 Oktober 2019. (lrf/mf)

Share This