Hidup Dalam Bayang-Bayang

Istilah Biar Tekor Asal Kesohor pasti tak asing bagi kita. Tafsirnya pun bisa terserah saja. Tapi, frasa tersebut lumayan lengkap menggambarkan fenomena sosiologis masyarakat kita, terutama di kota. Karena seluruh variabel yang dibutuhkan untuk “Kesohor” dan “Tekor” jauh lebih lengkap daripada di desa.

Sebagian masyarakat di kota hidup dalam bayang-bayang (live in the shadows). Bayang-bayang tersebut dihasilkan oleh sesuatu yang sifatnya fisik, seperti gedung-gedung pencakar langit atau yang lebih metaforis, seperti kemewahan, kekayaan, jabatan tinggi, dan popularitas.

Bayang-bayang ini ditransformasikan secara sistematis dalam beragam aktivitas epistemis, seperti sekolah melalui sistem pendidikan, keluarga, lembaga-lembaga agama, bahkan visualisasi para pejabat publik.

Karena mentalitas yang tidak teredukasi, di mana kesukarelaan atas apa yang didapatkan sesuai dengan yang dilakukan, bayang-bayang ini semakin menguat, menaungi beragam imajinasi bahkan harapan dan cita-cita. Memang ada yang kemudian mau dan akhirnya mampu mengurai kabut bayang-bayang tersebut. Tapi yang lebih banyak lagi mereka tinggal dan membangunnya sebagai persepsi kebenaran.

Salah satu yang menjebak dalam keseharian masyarakat kota ini adalah popularitas, apalagi sekarang. Ruang dan peta jalan untuk membangun hal ini tersedia dengan mudah dan beragam.

Jika dulu kita hanya mengenal yang namanya artis terkenal, itu jika sudah tampil di televisi (dan radio), yang prosesnya mengaksesnya sangat terbatas. Sekarang alternatifnya sangat banyak. Era media sosial telah menghancurkan ketunggalan dalam industri popularitas. Selebritis baru tampil dengan lebih kreatif.

Pemancing keterkenalan pun bisa beragam. Kekayaan, kreasi, pemikiran, suara, bermain musik, main games, kenakalan, keberanian, dan sebagainya. Mereka dikenali dengan istilah selebgram, youtobers, dan sebagainya.

Namun lagi-lagi, tetap saja, kata kunci popularitas itu butuh modal. Meski sekarang akses ke produser atau pemilik rekaman bukan lagi satu-satunya, tapi modal-modal lain tetap diperlukan untuk menjadi terkenal.

Maka untuk terkenal ini, supportnya pun telah beralih dari yang tadinya berupa studio yang mewah, dingin, dan mahal. Saat ini, kadang hanya dibutuhkan satu atau dua orang saja yang memainkan komputer. Kemudian dengan algoritmanya mendesain popularitas seseorang.

Celakanya, meski diaspora pendorong ini semakin massif dan bersaing, harganya pun bervariasi, tetap saja untuk menjadi populer tidak semudah menyeruput kopi di warkop pinggir jalan. Dibutuhkan penunjang lain agar upaya membuat terkenal ini berjalan sesuai harapan. (mf)

Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Pengembangan Masyarakat Islam Bidang Ilmu Sosiologi Pedesaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta. Sumber: Koran Rakyat Merdeka, Edisi Sabtu, 20 Oktober 2018.

Share This