Oleh: Adi Prayitno

Dosen Ilmu Politik Fisip UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif Parameter Politik

Virus corona kian meresahkan. Jumlah korban yang terpapar terus meningkat. Butuh gerakan bersama melawan ganasnya virus yang sangat berbahaya ini. Bergandengan tangan bersatu saling padu mencari solusi. Bukan sibuk saling menyalahkan, menuding, dan mencari kambing hitam. Semua itu tak menyelasaian persoalan. Malah membuat keadaan semakin runyam.

Tiap saat publik khawatir akan sebaran virus corona. Sukar dideteksi bisa datang kapan saja tanpa diundang. Tak kuasa pula ditolak. Jangan lagi ditambah dengan narasi politik yang justeru menambah beban mental publik. Kepanikan kerap terpancar setiap kali ada informasi bertambahnya jumlah orang yang terduga kena virus corona. Cemas tiada henti.

Presiden Jokowi sudah menganjurkan warga bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Menjauhi keramaian serta membatasi kontak sosial (social distancing). Semua itu dilakukan sebagai ikhtiar mengantisipasi sebaran virus yang terus melebar. Meski terkesan lambat namun tak perlu lagi terus menghujat. Upaya sudah dilakukan. Tinggal diimplementasikan.

Sejumlah kepada daerah juga telah melakukan langkah serupa. Misalnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lebih dulu memulai antisipasi dampak corona dengan meliburkan sekolah, menutup tempat rekreasi, serta memaklumatkan menjauhi kerumunan. Tak perlu membandingkan apalagi membenturkan langkah Jokowi dan Anies Baswedan dalam melawan virus corona. Niatnya sama. Jihad melawan virus mematikan itu.

Sekali lagi, corona bukan soal Jokowi versus Anies Baswedan. Bukan pula perkara politik elektoral. Terlalu remeh temeh itu semua. Virus corona menyangkut keselamatan seluruh warga negara. Karena virus bisa menjangkit siapapun. Tak peduli elit maupun warga biasa. Tak perlu lagi bertengkar bermusuhan. Butuh sinergi saling melengkapi mengantisipasi dampak corona.

Daerah lain juga sudah melakukan langkah serupa. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan lainnya menyeru langkah antipasti menangkal virus corona. Menghindari kerumunan, menganjurkan pola hidup sehat, dan mengerjakan segala sesuatu di rumah. Semua dilakukan untuk menanggulangi virus corona. Bukan ajang gagah-gagahan mencari panggung politik. Bukan tempat mencari sensasi apalagi mencari keuntungan ekonomi.

Pemerintah dan kepala daerah sudah berijtihad untuk mencegah menyebarnya virus corona. Tentu saja langkah ini positif sebagai bekal kolektif melawan corona. Ke depan perlu singkronisasi program sehingga tak ada lagi friksi dan misinformasi yang justeru membuat suasana tak kondusif.

Dampak Psikologis

Dampak psikologis merebaknya virus corona relatif buruk bagi kesehatan mental. Anjuran social distancing secara tak langsung membatasi gerak dan jarak antar warga. Ada tembok tebal pemisah yang sukar dijebol. Tautan batin kemesrasaan tak lagi terasa karena warga saling mengurung diri. Terpaksa menutup ruang berkomunikasi dengan pihak luar. Khawatir tertular virus corona.

Dampak yang paling buruk ialah munculnya ketidakpercayaan sosial (social distrust). Masyarakat saling curiga. Merasa tak aman berdekatan dengan orang lain yang berimplikasi pada rapuhnya basis kohesifitas sosial. Fenomena semacam ini sangat potensial menggangu iklim berdemokrasi. Sebab, demokrasi tumbuh berkembang di atas rekatan fondasi kokoh kebersamaan yang didasarkan pada ras saling percaya pada orang lain. Hormat dan respek antar sesama.

Kondisi saat ini hampir mirip dengan nukilan Robert Putnam dalam Bowling Alone (1995) yang menggambarkan sepinya klub bowling di Amerika kala itu. Bukan karena bisnis bowling tutup. Tapi karena warganya yang tak lagi bergaul dalam komunitas klub bowling. Impeknya cukup serius. Warga tersekat dalam kubangan kehidupan individual. Tak ada lagi perasaan kolektif sebagai unit kesatuan civil society yang peduli dan responsif.

Padahal, bermain bowling bukan sekedar menyalurkan hobi dan bakat. Melainkan mencari komunitas untuk saling berinteraksi secara terbuka. Dalam perkembangannya, orang Amerika cenderung sendirian bermain bowling. Secara fisik sehat namun secara mental kurang sehat karena tak terhubung dengan jaringan komunitas sosial. Implikasinya, muncul sikap cuek terhadap situasi sekitar. Bahkan merasa tak nyaman dengan pihak luar.

Kasus virus corona bisa berdampak serius secapa psikologis jika tak dikelola dengan baik. Karena memunculkan perasaan saling curiga. Merasa tak aman berdekatan dengan warga lainnya. Merasa insecure jika berada dalam komunitas besar. Takut bersalaman. Panik jika ada orang lain yang batuk, flu, dan pilek. Beban psikologis semacam ini perlu dinetralisir guna mengurangi kadar ketegangan yang berkembang belakangan.

Momen Bersatu

Wabah virus corona mestinya menjadi momen bersatu bagi seluruh komponen bangsa. Merekatkan kembali ikatan tali persaudaraan tanpa sekat. Tak perlu lagi saling menyalahkan. Hilangkan perasaan sebagai pihak paling benar. Sejauh ini, pemerintah belum seutuhnya konsolidatif menghadapi corona. Infrastruktur dan alat deteksi virus masih terbatas. Yang perlu dilakukan saat ini ialah saling membesarkan jiwa dan memotivasi untuk optimis menghindari corona.

Dalam situasi semacam ini perlu kiranya merenungkan kembali makna penting politik yang paling hakiki. Yakni, mengupayakan kemaslahatan hidup seluruh warga negara. Politik bukan hanya soal pilkada, pileg, dan pilpres. Jauh dari itu semua, politik adalah jalan sunyi nan memulia mencari solusi menuju kedamaian hidup.

Politik tak melulu seperti diktum Harold Lasswell tentang cara meraih kekuasaan (how to get the power). Tapi politik sekal-kali harus diletakkan dalam kerangka filosofis substansial sebagai kebajikan menciptakan ketentraman di masyarakat. Jauh dari intrik apalagi dendam politik.

Dalam konteks inilah perlu kiranya menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa virus corona harus menjadi momentum membangun kebersamaan. Virus corona bukan soal Jokowi versus Anies Baswedan. Tapi menyangkut keselamatan seluruh warga negara. Sampai kapan bangsa ini terbelah untuk urusan yang sebenarnya tak telampau penting. Jokowi tak mungkin lagi maju pilpres 2024. Tak perlu terus menerus direcoki kinerjanya. Begitupun dengan Anies Baswedan yang belum tentu bisa maju pilpres nantinya. Belanda masih jauh. Jalan yang harus dilalui masih terjal, berliku, dan mendaki.

Saatnya berangkulan menyudahi pertikaian. Mari dukung semua program pemerintah dalam mengantisipasi virus corona. Mari juga dukung seluruh program kepala daerah lainnya untuk menanggulangi corona. Bukan hanya program Anies Baswedan. Membangun jembatan pengertian bersama antara pemerintah pusat dengan daerah adalah satu-satunya cara bersama melawan ganasnya wabah corona.

Saling menghujat, mencibir, dan merasa paling banar sendiri, tak akan menyelesaikan apapun. Virus corona tak bisa dicegah dengan kegaduhan politik. Corona hanya mungkin dikalahkan jika seluruh eksponen bangsa saling mendukung dan saling menguatkan. Ulurkan tangan kebersamaan. Bersatu melawan virus corona. (sam/zm)

Terbit juga di http://mediaindonesia.com/read/detail/297741-bersatu-melawan-virus-korona

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This