Gedung Rektorat, BERITA UIN Online— Meski kuliah sangat padat, lazim bagi mahasiswa UIN Jakarta bergabung dalam organisasi atau komunitas bakat. Olah raga, bermusik, berteater, diskusi atau menulis adalah sedikit dari banyak hal yang mereka lakukan.

Bergabung dalam organisasi memungkinkan mereka menambah pengalaman dan teman. Bergabung dalam komunitas bakat membuat mereka makin terbiasa mengasah keahlian.

Tak jarang, ketekunan mereka berbuah prestasi membanggakan. Meski prestasi tak harus selalu diukur dengan tropi.

Lutfi Zain, salahsatunya. Meski aktifitas kuliah sudah membuatnya sangat sibuk, mahasiswi Jurusan Ilmu al-Quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Jakarta ini tetap berorganisasi bahkan memupuk bakatnya, menulis.

“Sambil kuliah, Alhamdulillah Fifi bisa berorganisasi. Juga menyalurkan hobi menulis. Fiksi dan non fiksi,” tuturnya.

Diakuinya, menulis hingga terbit sebagai sebuah artikel dan buku bukan perkara mudah. Berulang kali menuangkan gagasan, namun ia kadang tak puas dan kecewa dengan hasilnya.

Bahkan saat sebuah tulisan sudah jadi dan ia pikir sudah sangat bagus. Kekecewaan kembali menyambanginya karena ditolak penerbit.

“Tapi Fifi, berusaha terus. Yakin, bahwa satu saat tulisan Fifi bisa bagus dan layak diterbitkan,” katanya sambil bertutur ia meminta teman-temannya menilai hasil karya tulisnya.

Berbekal tekad kuat dan dukungan teman-teman, Fifi akhirnya bisa menuntaskan tulisan pertamanya. Sebuah buku berjudul Dalam Balutan Cahaya yang diterbitkan sebuah penerbit di tahun 2019.

“Buku Dalam Balutan Cahaya itu lebih ke kisah perjalanan seorang pendakwah yang layak untuk dicontoh,” terangnya.

Termotivasi penerbitan buku pertamanya, mahasiswi asal Lampung Timur ini kembali menyelesaikan buku keduanya, Seteduh Embun Pagi. “Ini dari kisah nyata perjuangan seorang penghafal Al-Qur’an,” tambahnya.

Dengan kuliah daring dan keharusan lebih banyak tinggal di rumah menyusul pandemi Covid 19, Fifi merasa memiliki kesempatan terbuka luas. Ada banyak waktu baginya untuk menggali ide dan menuliskannya.

Naskah buku ketiga dan beberapa tulisannya yang lain sudah berhasil ia tulis. Ia berharap bisa terbit kembali seperti dua buku sebelumnya.

Fifi berharap setiap tahun ia bisa menerbitkan minimal satu buku. Namun bicara sosal target penerbitan, bukan popularitas atau royalti yang ingin ia dapatkan.

“Fifi ingin berdakwah melalui tulisan. Memberi motivasi terhadap sesama, sembari memotivasi diri juga,” tuturnya.

Kini Fifi bersiap bergabung dalam komunitas penulis skala nasional yang telah banyak menghasilkan para penulis kreatif. Sebelumnya, ia tergabung dalam daftar penulis Antologi Artikel Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis tentang moderasi beragama. (zm)

Share This