Abdul Mu’ti

Sejak Tsunami Aceh, Desember 2004, In donesia seakan menjadi negeri musibah. Gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, angin topan, badai, kebakaran, dan berbagai bencana alam terjadi hampir di seluruh negeri.

Demikian hal nya musibah karena kecelakaan transportasi di darat, laut, dan udara. Tidak terhitung berapa besar kerugian materi dan kerusakan infrastruktur fisik yang di akibatkan oleh musibah. Yang tidak kalah beratnya adalah kerusakan infra struktur sosial dan moral.

Ribuan jiwa yang meninggal dunia meninggalkan berbagai masalah sosial seperti anak-anak yatim piatu, kaum difabel, dan orangorang lemah lainnya. Sebagian masya rakat juga mengalami demoralisasi, trauma, dan berbagai masalah moral-sosial yang kom pleks.

Muhasabah dan ujian dalam perspektif agama, musibah adalah peristiwa yang terjadi di luar kehendak dan kemampuan manusia. Musibah merupakan ujian (bala) dan momentum bagi manusia untuk melakukan muhasabah atas segala perbuatan dan keadaan. Sebagian musibah merupakan konsekuensi langsung atau tidak langsung dari perilaku manusia (man made disasters).

Tanah longsor, banjir, dan badai terjadi karena perilaku masyarakat yang buruk, seperti penebangan pohon yang me lampaui batas sehingga merusak keseimbangan ekosistem. Banjir terjadi karena pembuangan sampah di sungai, drai nase yang rusak, dan sistem tata kota yang tidak ramah lingkungan.

Dalam konteks ini musibah bisa jadi merupakan hukuman (‘uqubah) atas dosa ekologis manusia. Musibah terjadi bukan karena murka atau azab Tuhan, tapi “hukuman” atas pelanggaran manusia atas hukum alam. “Telah tampak kehancuran di darat dan di laut karena perbuatan jahat manusia.

Allah menghendaki mereka merasakan akibat perbuatannya agar mereka kembali sadar.” (Qs.30, al-Rum: 41). Pemahaman bahwa musibah terjadi karena murka Tuhan bertentangan dengan sifat Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta kesempurnaan penciptaan alam semesta.

Pada sisi yang lain, musibah “murni” terjadi karena kehendak Tuhan, bukan karena dosa manusia. Musibah adalah ujian atas kesabaran, ketabahan jiwa, kekuatan iman, jalan eskatologi menuju kesempurnaan hidup.

“Dan sungguh Allah benar-benar berkehendak menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kemiskinan, kema tian, dan kekurangan. Beri kan lah kabar gem bira kepada kaum penyabar.” (Qs. 2, al-Baqarah: 155). “Maha Suci Allah, Sang Pemilik Kekuasaan, Yang Maha Kuasa melakukan segala-galanya.

Dia Menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian untuk (membuktikan) siapa di antara manusia yang terbaik per buatannya.” (Qs. 67, al-Mulk: 1-2). Musibah juga merupakan proses pembelajaran (mauidhah) Tuhan agar manusia meningkatkan spiritualitas, intelektualitas, dan sensitivitas.

Melalui musibah Tuhan mendidik manusia agar lebih rendah hati, memperbanyak zikir, dan senantiasa bersyukur. Musibah ada lah kasih sayang Tuhan un tuk membersihkan mereka dari dosa-dosa. “Apabila dosa seorang hamba semakin bertambah, sedangkan dia tidak memiliki amal yang mampu menghapuskan-nya, maka Tuhan mengujinya dengan kesedihan (musibah) sebagai kafarat atas dosa-do sanya.” (HR Ahmad dari Ai syah). Musibah adalah lesson learned yang memungkinkan manusia mengasah intelektualitas, ketajaman nurani, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mempersatukan Masyarakat

Selain itu, musibah juga dapat mempersatukan manusia. Secara tidak langsung, tsunami Aceh (Desember 2004) merupakan momentum persatuan masyarakat Aceh. Seandainya tidak terjadi tsunami, mungkin masyarakat Aceh masih terlibat dalam konflik. Musibah tidak sekadar meng gerakkan kesadaran sosial dan iman, tetapi lebih dari itu “mempersatukan” iman dan ikatan kemanusiaan.

Kepedulian adalah ajaran universal se mua agama. Meski berbeda akidah, manusia memiliki ke samaan tanggung jawab sosial (one responsibility), tujuan (one destiny), dan ikatan kemanusiaan (one humanity).

Islam adalah agama sosial yang mengajarkan bahwa ketaatan beribadah bukanlah barometer iman, melainkan latihan spiritual untuk kesempurnaan moral sebagai puncak keimanan (Nasution, 2016). Iman menjadi sempurna apabila manusia senantiasa berderma, peduli kepada sesama, dan tabah dalam duka nestapa (Qs. 2, al-Baqarah: 177).

Dalam ajaran Kristen, iman memungkinkan manusia melintas batas mengulurkan tangan kepada “yang lain” yang menderita (Knitter, 2006). Musibah yang bertubi-tubi telah menggerakkan iman berjutajuta bangsa Indonesia untuk membantu sesama, bahkan menurut sebuah lembaga survei pada 2018 Indonesia adalah bangsa paling dermawan sedunia.

Walau demikian, musibah bisa juga menimbulkan musibah baru. Bantuan kemanusiaan bisa menjadi bencana sosial jika diperalat sebagai sarana memaksakan suatu keyakinan dan superioritas kelas sosial. Sebagian masyarakat resisten atas bantuan agama lain dengan tuduhan Islamisasi, Kristenisasi, dan sebagainya.

Selain bertentangan dengan ajaran agama, instrumentalisasi bantuan kemanusiaan untuk misi agama juga melanggar ketentuan internasional. Sesuai prinsip humanitarian dunia, bantuan kemanusiaan ha rus sesuai dengan prinsip humanity, neutrality, impartial, operational , dan independence (United Nations Office for the Coordination of Huma nitarian Affairs- UN OCHA).

Atas kesadaran iman, kemanusiaan, dan kebangsaan, musibah telah mempersa tukan kaum beriman di In donesia. Pada 2008, berbagai organisasi kemanusiaan lintas iman mem bentuk Huma nitarian Forum Indonesia (HFI). Setelah satu dekade, forum yang semula terdiri atas enam organisasi kini beranggotakan 15 organisasi dengan jaringan seluruh Indonesia.

Aksi ke manusiaan lintas iman, mampu mempersatukan perbedaan iman dalam aksi kemanusiaan yang nir-kekerasan, paksaan, dan prasangka negatif. HFI hanyalah salah satu. Berbagai lembaga kemanusiaan antariman internasional juga bekerja sama dengan or ganisasi kemanusiaan di Indonesia, salah satunya Muhammadiyah.

Sejak 2005, Muhammadiyah bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan Kristen, seperti Catholic Relief, Oxfam, dan World Vision (Kristen, Ka – tolik), International Network of Engaged Budhism (INEB) dan Won Buddhism (Budha), selain Asian Muslim Charity Foun dation (AMCF), Islamic Relief, dan Muslim Aid (Islam).

Banyaknya musibah tidak boleh membuat bangsa semakin lemah. Musibah bisa membuat bangsa makin kuat dan tangguh apabila ber sungguhsungguh belajar dan mem perbaiki diri. Tidak bijak sana jika sesama bangsa saling menyalahkan dan menghakimi, baik secara teologis maupun politis.

Musibah yang terjadi pada tahun politik ini, hendaknya menjadi momentum untuk berbagi, belajar, dan bekerja sama, apa pun agama, partai, dan siapa pun pilihan presidennya.

Penulis adalah Sekretaris Umum PP Muhammadiyah; Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Artikel dimuat Koran SINDO, Rabu 1 Januari 2019. (lrf/zae)

Share This