Selain korban jiwa dan ribuan penduduk mengungsi, banjir bandang yang menerjang Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, menyisakan beban berat pemulihan pasca banjir. Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Batuttah UIN Jakarta atau KMPLHK RANITA terus melakukan bantuan di lokasi dan mendorong kepedulian sesama.

Keterangan resmi KMPLHK RANITA yang dikutip BERITA UIN Online, Senin (10/8/2020), menyebutkan unit kegiatan mahasiswa ini mengirimkan dua relawan tanggap darurat bencana ke Luwu Utara sejak pertengahan Juli lalu. “Sesuai visi dan misi dari KMPLHK RANITA UIN Jakarta salah satunya yaitu menjunjung tinggi nilai kemanusian, pastinya turut ikut andil dalam merespon peristiwa bencana banjir bandang di Kecamatan Masamba,” catat rilis.

Sementara itu, kedua delegasi yang dikirim ke lokasi adalah Yassir “Keng-Keng” Fuady dan Dewita “Enon” Alifah Firyal. Masing-masing merupakan mahasiswa semester 4 jurusan Jurnalistik FIDIKOM dan Dewita mahasiswi semester 8 jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam FAH. Pendelegasian keduanya diharap turut membantu pemulihan pasca bencana banjir bandang.

“Saat ini tim relawan sudah berada di Desa Maipi, Kecamatan Masamba. Salah satu daerah terisolir akibat dampak bencana banjir bandang yang terjadi,” jelasnya.

Pantauan relawan di lapangan, teputusnya Jembatan Tandung penghubung anatara kota Masamba dan Desa Maipi, mengakibatkan pendistribusian logistik yang berasal dari pemerintah serta relawan lainnya sulit dilakukan. Karenanya tim memutuskan Desa Maipi sebagai target wilayah aksi guna membantu pemulihan pasca bencana.

Kajian relawan di desa Maipi didapatkan data dimana tak kurang 70 KK harus mengungsi. Selanjutnya, terjadi banyak kerusakan. Diantaranya 3 akses jembatan terputus, 1 masjid rusak berat, 3 tiang listrik yang roboh, 10 unit rumah rusak berat, dan kurang lebih jalan sepanjang sepanjang 3 kilometer alami kerusakan cukup parah.

Diketahui, banjir bandang menerjang sejumlah kawasan di Luwu Utara, Senin malam 13 Juli lalu. Curah hujan yang tinggi menyebabkan luapan Sungai Masamba dan Sungai Rada meningkat sehingga menenggelamkan banyak kawasan pemukiman penduduk di enam kecamatan Luwu Utara. Keenamnya, Masamba, Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke, dan Malangke Barat.

Akibatnya, selain puluhan korban meninggal dunia, ribuan keluarga mengungsi, banjir bandang juga mengakibatkan trauma dan beban pemulihan yang cukup berat. Catatan KMPLHK RANITA UIN Jakarta, lebih dari 4 ribu kepala keluarga yang terdampak dengan 14.483 ribu jiwa terpaksa mengungsi. Berbagai fasilitas umum juga rusak seperti terputusnya 9 jembatan penghubung antar desa, 9 unit sarana pendidikan, 13 unit rumah ibadah, 3 unit fasilitas kesehatan, 2 unit bendungan irigasi, dan 8 unit kantor pemerintahan.

Selain mengirimkan delegasi, UKM RANITA menggalang donasi publik untuk membantu percepatan pemulihan pasca banjir. Sejak pertengahan Juli hingga pekan pertama Agustus, jumlah donasi publik yang dititipkan ke UKM RANITA mencapai Rp 23.258.500. Rencananya donasi ini akan disalurkan melalui sejumlah program bantuan pemulihan terutama di wilayah Desa Maipi.

Beberapa program pemulihan sendiri diantaranya pendirian pos pantau debit air sungai guna mengantisipasi potensi terjadinya luapan banjir. Selanjutnya pengadaan penampungan air bersih, pengadaan penerangan, dan pendistribusian perlengkapan alat tidur kepada warga di pengungsian.

“Kami mengucapkan rasa terima kasih banyak kepada para donator yang sudah mempercayai KMPLHK RANITA untuk menyalurkan donasinya kepada warga terdampak di Desa Maipi. Donasi tersebut nantinya akan disalurkan kepada warga terdampak di Desa Maipi, melalui program-program yang dibuat dari hasil pengkajian tim,” sebut rilis lagi. (zm)

Share This