Walaupun lbnu ‘Arabi termasuk sufi, berbeda dengan sufi-sufi lainnya yang lebih menekankan aspek tasybih dan menafikan aspek tanzih karena bagaimanapun Zat Tuhan adalah transenden dan sunyi dari segala aspek ketidaksempurnaan (munazzah).

Ibnu ‘Arabi mengkhawatirkan kalau menafikan aspek tanzih seseorang bisa jatuh ke lembah kemusyrikan karena menduplikasikan Tuhan dengan makhluknya.

Dari segi Zat-Nya, Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah diketahui oleh siapa pun. la tak dapat dipikirkan dan tak dapat dilukiskan dengan sesuatu apa pun. Kalaupun ada orang yang menganggap dirinya berhasil mengetahui dan memahami Zat Tuhan, pasti itu bukan Tuhan atau Tuhan menurut persepsi yang bersangkutan.

Dalam beberapa artikel lalu sudah dijelaskan bagaimana misteri Zat Tuhan dalam berbagai agama. Hampir semua agama sama bahwa Zat Tuhan Maha Misteri. Pengetahuan kita tentang Zat Tuhan hanya sejauh Tuhan berikan kepada kita melalui asma’ dan sifat-Nya.

Dari segi asma’ dan sifat-Nya, Tuhan dapat diketahui melalui kosmos dan perilakunya. Jika Tuhan menyatakan diri-Nya melihat, mendengar, dan mencintai, itu artinya Tuhan mengejawentahkan diri-Nya kepada kosmos, yaitu Tuhan berkorespondensi dengan makhluk-Nya. Seperti diketahui bahwa Tuhan adalah substansi (jauhar) seluruh makhluk, maka wujud ke-Dia-an (Huwiyyah)-Nya ialah setiap apa yang melihat, mendengar, dan mencintai, maka itulah jauhar-Nya.

Jika kita melihat yang al-khalq (makhluk), sesungguhnya kita melihat al-Haq (Tuhan). Al-Haq memiliki sifat-sifat yang dimiliki al-khalq, yaitu sifat-sifat al-Muhdatsah. Sebaliknya, al-Khalq memiliki sifat-sifat al-Haq.

lbarat satu mata uang yang mempunyai dua sisi, yaitu sisi tanzih dan sisi tasybih. Tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Antara keduanya tidak paradoks, tetapi masing-masing mempunyai makna dan fungsi. Penyatuan antara kedua kualitas ini sesuai dan asumsi ontologi lbnu Arabi, yaitu kesatuan wujud (wahdah al-wujud).

Kata Dia (Huwa) yakni Dia yang Maha Dia, bukan selain-Nya. Sedangkan, selain-Nya bukan Dia Yang Maha Dia (la Huwa). “Huwa la Huwa” mempunyai dua aspek, yaitu aspek pertama (Huwa) dalam bentuk positif, menegaskan adanya tasybih, yaitu keserupaan Tuhan dengan kosmos. Bagian kedua (la Huwa) dalam bentuk negatif, menegaskan tanzih, yaitu tiadanya keserupaan antara Tuhan dan kosmos.

Penjelasan lbnu ‘Arabi ini hanya bisa difahami lebih jelas manakala memahami secara utuh konsep wahdah al-wujud-nya yang di dalamnya terdapat konsep keterpaduan dari berbagai hal yang berdiri sendiri (al-jam ‘u baina al-‘addat), yang menghubungkan antara ketakterbandingan dan keserupaan (incomparability and similarity), antara Yang Satu dan Yang Banyak (the One dan the Many), Keagungan dan Keindahan (Majesty and Beauty), dan pembedaan dari Yang Tak Terbedakan (the differentiation of the Undifferentiated). (mf)

Prof Dr H Nasaruddin Umar MA, Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Sumber: Dialog Jumat Koran Republika, Jumat, 30 November 2018.

Share This