Masa kampanye pemilihan umum segera berakhir. Momentum pamungkas musim persuasi ditutup dengan debat pasangan calon presiden-wakil presiden kelima, yang mempertemukan ulang Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno. Debat kelima ini menarik karena berada di tengah euforia dukungan masing-masing kubu yang mengalami titik kulminasi. Maklum, kontestasi mendekati hari menentukan karena debat diselenggarakan menjelang masa tenang.

Asumsi bahwa debat tidak akan mengubah peta secara signifikan itu benar. Panggung perbincangan masyarakat telah membentuk konsolidasi opini dan peneguhan persepsi, yang dalam ranah kajian komunikasi dikenal sebagai stage of consolidation di wilayah opini publik.

Pemilih telah terkonsolidasi di tiga zona atau garis lintang, jika merujuk pada social judgement theory dari Muzafer Sherif dan Carolyn Sherif, sebagaimana dikutip Richard M. Perloff dalam bukunya, The Dynamics of Persuasion (2003). Pertama, pemilih berada di zona penerimaan (latitude of acceptance) terhadap salah satu pasangan calon presiden-wakil presiden. Kedua, mereka berada di zona penolakan (latitude of rejection) terhadap salah satu dari kedua pasangan.

Ketiga, mereka, yang hingga akhir musim persuasi masih gamang dan belum menentukan pilihan, berada di zona tanpa komitmen (latitude of no commitment). Kelompok ketiga ini, yang jika tidak teryakinkan, bisa saja menjadi golput atau bisa juga menjadi penentu kemenangan salah satu pasangan jika mampu disentuh nalar dan emosinya untuk mengubah perilaku mereka.

Debat kelima punya makna ganda. Pertama, debat mengunci pesan-pesan utama dalam komunikasi persuasi agar diingat oleh pemilih. Tema yang diangkat dalam debat kelima adalah ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi, serta perdagangan industri. Salah satu isu terpenting dalam perebutan narasi untuk memalingkan perhatian khalayak dalam pemilihan presiden adalah isu ekonomi dan kesejahteraan sosial. Isu ini sangat menonjol dibanding berbagai narasi lainnya. Kubu penantang secara konsisten berupaya mencuri perhatian lewat berbagai pesan yang langsung menohok isu ekonomi dan kesejahteraan sejak musim kampanye dimulai. Benang merah narasi penantang lebih banyak berisi kritik terhadap ekonomi dan kesejahteraan yang dianggap tidak optimal dikelola dan diimplementasikan dalam pemerintahan kubu petahana.

Tentu kubu petahana pun punya kepentingan untuk menjaga narasi kesuksesan periode pertama agar tetap mempertahankan tingkat kepercayaan (public trust) serta mengurangi tingkat ketidaknyamanan (inconveniences) dan ketidakpastian (uncertainty) agar pemilih yakin untuk memandatkan kuasa pada periode kedua.

Kedua, debat kelima bisa menjadi strategi pamungkas untuk memalingkan perhatian kelompok yang belum menentukan pilihan dan kelompok pemilih bimbang. Pesan utama dalam debat kelima sangat penting, mengingat konteks waktu langsung berdekatan dengan hari pencoblosan. Para pasangan harus tampil prima agar mereka bisa menambah suara. Masih adakah peluang kelompok yang belum menentukan pilihan dan kelompok bimbang ini berubah menjadi pemilih salah satu pasangan? Tentu ada.

Jika merujuk pada Theory of Reasoned Action yang dikembangkan oleh Martin Fishbein dan Icek Ajzen pada 1980 dalam bukunya, Predicting and Changing Behavior: The Reasoned Action Approach (2007), perubahan perilaku itu akan ditentukan oleh intensi seseorang. Pemilih berperilaku dengan cara sadar dan mempertimbangkan segala informasi yang tersedia. Niat melakukan atau tidak melakukan hal tertentu dipengaruhi oleh dua faktor mendasar, yakni sikap (attitude towards behavior) dan norma subyektif (subjective norms).

Maka, debat kelima perlu menghadirkan dua hal utama untuk meyakinkan pemilih bimbang tadi. Pertama, harus bisa memberi alasan ihwal pertimbangan untung-rugi dari program dan gagasan mereka (outcome of the behavior). Kedua, konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi kepada individu (evaluation regarding the outcome). Komponen kedua ini mencerminkan dampak dari norma-norma subyektif. Ingat, kelompok bimbang dan belum menentukan pilihan ini sebagian besar di antaranya merupakan kelompok rasional yang akan mempertimbangkan tawaran program dan gagasan hingga menjelang hari pencoblosan.

Pada babak akhir musim persuasi ini, penting untuk mengingatkan semua komponen agar mau dan mampu menciptakan suasana kondusif. Semua kandidat dan tim pemenangannya jangan membuat manuver yang berisiko merusak keutuhan bangsa dan negara. Misalnya, melalui cara provokatif atau mengeksploitasi politik identitas berbau agama yang dapat menjerembapkan bangsa ini ke dalam pusaran konflik. Konflik itu sukar disembuhkan dalam rentang waktu panjang, meskipun pemilu sudah usai.

Media massa juga harus turut menjaga atmosfer pemilu yang kondusif. Jangan sampai jurnalis mengubah perannya menjadi propagandis. Para tokoh struktur sosial tradisional, seperti ulama dan tokoh adat, juga perlu menyeimbangkan suasana. Keluhuran budi pekerti, nilai bijak, dan kearifan lokal perlu digemakan di tengah polarisasi tajam dan kering kerontangnya moralitas politik di kubangan kepentingan elektoral. Memilihlah dengan bijak dan bertanggung jawab, bukan dengan cara merusak.

Gun Gun Heryanto 

Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, Dosen Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Artikel ini telah dimuat pada Kolom Pendapat, harian Tempo edisi Jumat, 12 April 2019. (lrf)

Share This