Oleh Prof Dr Amany Lubis MA

MENGENANG guru bangsa dan negara Indonesia, B.J. Habibie, di hari ketujuh wafatnya. Semoga Allah Taala menerima arwah almarhum dan menempatkannya di sisi-Nya. Jasamu wahai putra terbaik bangsa menjadi amal jariah untuk negeri tercinta.

Sebagai Guru Besar bidang Hukum Tatanegara, saya sangat bangga bahwa Presiden ketiga Republik Indonesia adalah seorang teknokrat. Sungguh merupakan momen penting saat dilantiknya B.J. Habibie sebagai Presiden. Harapan baru muncul agar Indonesia maju dan rakyatnya sejahtera.

Segera setelah dilantik berbagai pembenahan di dalam negeri dilakukan. Misalnya mengamandemen UUD NRI 1945 dan lebih dari 130 Undang-undang (UU) diterbitkan untuk menjamin proses demokratisasi dilaksanakan dengan baik di negeri tercinta ini setelah Orde Baru tumbang. Inilah jumlah produk politik terbanyak dalam perjalanan sejarah Indonesia bahwa DPR RI menghasilkan produk UU, mengingat masa pemerintahan yang singkat dan cakupan luas perundangan yang mengatur kehidupan bernegara dan berbangsa. Semangat untuk kebebasan pers, keleluasaan berkumpul, dan berorganisasi merupakan jasa Habibie di negeri ini. Desentralisasi dan otonomi daerah pun diarahkan untuk mengurangi dampak sentralisasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat.

Habibie telah menjadi guru bangsa dalam berdemokrasi dan menjadikan bangsa yang mandiri. Walaupun belum terlaksana sepenuhnya di masa hidupnya, tetapi kemandirian ini semakin kokoh di masa yang akan datang dengan semangat membangun dan berkreasi. Sikap santun dan lapang dada menjadi contoh bagi yang ingin menjadi negarawan.

Saya pribadi mengenal almarhum Pak Habibie sejak berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Kartu keanggotaan saya untuk ICMI tahun 1993 masih dibubuhi tanda tangan beliau. Semangat gotong-royong, berdikari, dan inovatif diwujudkan dengan didirikannya Koran Republika dan Bank Muamalat Indonesia (BMI). Melalui ICMI, umat Islam memiliki marwah dari segi ekonomi. Pandangan almarhum pun jauh ke depan dengan ingin mendominasi media cetak secara nasional.

Teknologi merupakan seluruh kehidupannya. Habibie telah mendedikasikan dirinya untuk teknologi, khususnya di bidang kedirgantaraan. Momen yang sangat membanggakan ketika PT Dirgantara Indonesia memproduksi pesawat CN-235 yang dirancang oleh almarhum Habibie dan tim kreatifnya di Bandung. Walaupun tidak berlanjut produksinya, namun telah tercatat di dalam hati dan benak bangsa Indonesia sebagai prestasi anak bangsa.

Kini tugas kitalah untuk melanjutkan perjuangannya. Bangsa Indonesia sudah besar dengan sistem demokrasi Pancasila. Ketangguhan Negara Republik Indonesia akan selalu diuji. Namun, tekad kuat kita adalah mencontoh semangat dan kepemimpinan visioner seorang B.J. Habibie. Selamat jalan Bapak Habibie!

Jakarta, 18 September 2019

Share This