Gedung SPs, BERITA UIN Online – Selang satu jam setelah dilantik, Rabu (18/3/2020), Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta, Asep Saepudin Jahar, langsung menyambangi kantornya di Jalan Kertamukti Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Ia pun lantas menggelar pertemuan dengan jajarannya di Ruang Teater gedung SPs.

Hadir dalam pertemuan itu Wakil Direktur Hamka Hasan, Ketua Program Doktor Didin Saepudin, Ketua Program Magister Arif Zamhari, Sekretaris Program Doktor Asmawi, Sekretaris Program Magister Imam Sujoko, Kepala Subbagian Tata Usaha Asriati, dan sejumlah staf.

Asep menyatakan sangat berterima kasih atas kerja sama yang sudah dilakukan dengan pimpinan sebelumnya. Kerja sama itu penting agar pengembangan SPs ke depan menjadi lebih baik lagi.

“Saya sebenarnya bukan orang baru di SPs. Saya dosen di sini dan saya juga sering menguji. Karena itu saya ingin mencoba untuk memajukan SPs ini,” katanya.

Menurut Asep, hal terpenting dalam pekerjaan di birokrasi adalah bagaimana bisa melayani para pemangku kepentingan dengan baik. Pelayanan tak hanya diberikan kepada para dosen dan para mahasiswa tetapi juga masyarakat, termasuk alumni.

Agar pelayanan berjalan dengan, kata Asep, ia juga akan berusaha untuk datang lebih awal dan pulang paling akhir. “Kita harus serius melayani agar kepentingan mahasiswa dan stakeholders lain tidak terhambat,” ujarnya.

Terkait pengembangan SPs, Asep di antaranya akan melakukan beberapa langkah perbaikan, baik di bidang akademik maupun non akademik. Di antara perbaikan itu misalnya akan memetakan dosen yang difungsikan di SPs, siapa saja, apa bidang ilmunya, dan kategorinya apa. Soalnya, ada aturan dalam pengangkatan guru besar bahwa seorang dosen harus membimbing disertasi.

“Oleh karena itu saya merencanakan nanti akan ada co-promotor dari dosen bergelar doktor, bukan profesor,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, di SPs juga akan ada kebijakan baru berupa kolokium, yaitu pertemuan para mahasiswa program magister dan program doktor. Gunanya untuk membicarakan proposal tesis atau disertasi sebelum mereka mendaftar ujian.

Dalam kolokium tersebut, para mahasiswa juga akan mendapatkan masukan dari para dosen bergelar doktor dan profesor. Hal itu untuk menyempurnakan verifikasi yang selama ini sudah berjalan. Kebijakan kolokium ini diharapkan dapat meloloskan proposal minimal hingga 90 persen.

Sementara itu, Asep juga minta minta ada perbaikan sistem komunikasi dan informasi. Internet dan komputer di setiap kelas harus stabil serta tidak boleh ada yang bermasalah. Begitu juga dengan perkuliahan, Asep ingin sistem perkuliahan diajarkan secara online, baik untuk dosen maupun mahasiswa.

“Saya juga akan me-review kurikulum. Sebab, saya menilai SPs sekarang baru memiliki struktur mata kuliah, bukan kurikulum. Begitu pula dengan publikasi, kita akan gencarkan agar publikasi mahasiswa minimal masuk Sinta-2,” ujarnya.

Tak hanya itu, Asep juga konon akan membangun kerja sama dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar negeri, serta mengajak dosen-dosen muda untuk ikut berkontribusi memajukan SPs. Paling tidak, SPs dapat menjadi semacam kontrol bagi program magister dan program doktor yang ada di beberapa fakultas.

“Untuk itu mari jaga komunikasi. Saling menghargai, jangan saling memata-matai. Jangan juga saling menyalahkan. Kita harus mencari jalan terbaik. Saya banyak belajar cara memimpin, menggawangi, dan mengelola SPs kepada pimpinan sebelumnya, seperti Pak Azyumardi Azra, Pak Suwito, Pak Komaruddin Hidayat, dan Pak Masykuri Abdillah,” papar pria kelahiran Pandeglang, Banten, pada 16 Desember 1969 itu.

Asep Saepudin Jahar dilantik sebagai direktur SPs pengganti antar waktu (PAW) periode 2019-2023. Ia menggantikan Jamhari Makruf yang kini diangkat menjadi wakil rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Sebelumnya, ia menjabat ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) pada periode yang sama.

Asep menempuh pendidikan S1 di IAIN Jakarta pada Jurusan Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah (1995). Kemudian gelar magister (S2) diperoleh dari McGill University, Montreal, Kanada, bidang Islamic Studies-Hukum Islam (1999) dan gelar doktor (S3) dari Leipzig University, Jerman, bidang Bahasa Arab dan Filologi (2005). Sebelum kuliah di IAIN, Asep adalah lulusan Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. (am/ns)

Share This