SEBAGAIMANA disebutkan dalam tulisan terdahulu, ada beberapa ayat dan hadis yang menyebutkan Kota Mekah penuh berkah. Untuk ukuran saat ini, bagaimana memahami arti Mekah sebagai kota berkah? Di mana letak berkahnya?

Berkah (barakah) berasal dari bahasa Arab dari akar kata baraka-yabruku berarti berdiam dengan tenang. Berkah dalam pengertian populer berarti keberuntungan (blessing), karunia (benediction), kemakmuran (prosperity), dan kebahagiaan (felicity). Keistimewaan dan kekhususan apa yang Allah berikan kepada Kota Mekah sehingga disebut sebagai kota berkah (Makkah mubarah).

Mekah itu berasal dari bahasa Arab dari akar kata Makka-yamukku-makkan, berarti mengisap, menyedot. Kata makkah searti dengan mashsha-yamushshu-mashshan berarti mengisap atau menyedot, seperti dalam kata imtashsha jami’ ma fihi wa syaribah kullih (mengisap dan menyedot semua apa ada yang di dalam). Tukang bekam (pengobatan dengan menyedot darah kotor) disebut al-mashshash atau al-hajjam.

Para hujjaj disebut mushashah karena tersedot di dalam pusat grafitasi spiritual, Kabah atau Baitullah. Setelah disedot segala dosa dan menjadi dekat sedekat-dekatnya kepada Allah SWT, manusia merasa plong, bebas. Inilah salah satu sebab mengapa Kabah disebut dengan Bait al-‘Atiq (rumah pembebasan) karena bisa membebaskan seseorang dari kungkungan dosa dan kesalahan yang mengurungnya. Ibn Mandhur juga mengartikan makkah sama dengan tahdzib, dari akar kata hazdaba-yahzdibu-hadzban-tahdiban, berarti membersihkan, membetulkan, dan mendidik. Akar kata itu menunjukkan konotasi positif kata makkah dari sudut bahasa.

Makna itu bisa dihubungkan dengan beberapa ayat dan hadis bahwa orang-orang yang datang dengan niat tulus karena Allah, baik niatnya untuk haji atau umrah, niscaya akan dibersihkan dan disucikan jiwa, pikiran, dan segenap suasana batinnya sehingga mereka dilukiskan bagaikan bayi baru lahir dari rahim ibunya (ka yaum waladathu ummuh) yang bersih dari dosa. Kata makkah juga berarti tempat yang kering dan kurang air (qillah al-ma’). Dahulu Kota Mekah dihubungkan dengan kata makkah karena kawasan ini tidak lebih dari hanya gurun tandus dan hanya terdiri atas perbukitan kering kerontang. Meskipun demikian, itu tidak mengurangi daya tarik spiritual Kota Mekah.

Di dalam Alquran keberkahan Kota Mekah dihubungkan dengan kota kelahiran Nabi Ismail yang membuat sejarah monumental dengan kemunculan sumur Zamzam melalui hentakan kedua tumitnya, sebagaimana bisa difahami dalam penafsiran QS Ali ‘Imran/3: 95-97; kota kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mengubah gurun pasir yang tidak memiliki daya tarik menjadi kota dunia. Yang terpenting kota starting point Isra Mikraj anak manusia menuju ke langit sebagaimana digambarkan dalam ayat:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS al-Isra’/17:1).

Berkah lainnya intensitas amal yang dilakukan di kota ini berlipat ganda, seperti jika salat, pahalanya 100 ribu kali jika dibandingkan dengan ibadah yang sama dilakukan di tempat lain. Dalam hadis disebutkan Kota Mekah ialah kota bebas Dajjal, yaitu sosok makhluk mengerikan yang akan membunuh secara keji manusia di akhir zaman.

Secara potensial dan secara aktual Kota Mekah bagian dari Arab Saudi, negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia. Diperkirakan, sekitar dua abad akan datang cadangan minyak Arab Saudi tidak akan kering. Kalau cadangan minyaknya habis dan orang beralih ke energi matahari (solar system), Arab Saudi tetap menjadi penghasil tenaga surya paling baik di dunia, karena tidak terganggu dengan musim yang berganti-ganti. Allahu a’lam.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta

Artikel ini telah dimuat pada kolom Opini, harian Media Indonesia edisi , Jumat 24Agustus 2018 (lrf)

Share This