Auditorium, BERITA UIN Online – Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, penyair terkemuka Indonesia Taufik Ismail, dan seorang warga Turki Jumhur Cil, membaca puisi dalam tiga bahasa secara bergantian. Pembacaan puisi dilakukan di atas panggung saat digelar Dies Natalis ke-62 ADIA/IAIN/UIN Jakarta di Auditorium Harun Nasution, Senin (17/6/2019).

 Puisi yang dibacakan merupakan karya Taufik Ismai berjudul Sajadah Panjang. Taufik membacakan puisi tersebut dalam bahasa Indonesia sesuai aslinya. Sedangkan Amany Lubis membacakannya dalam terjemahan bahasa Arab berjudul Sajadah Thawilah dan Jumhul Cil membacakannya dalam terjemahan bahasa Turki berjudul Uzun Namaz Mat.

Acara pembacaan puisi dalam tiga bahasa dilakukan secara bergantian dan bait per bait. Dimulai dari Tauifik Ismail dalam bahasa Indonesia, kemudian Amany Lubis (bahasa Arab) dan Jumhur Cil (bahasa Turki). Pembacaan puisi dalam tiga bahasa berlangsung tak kurang dari 10 menit.

Meski tanpa banyak ekspresi, Taufik terlihat senang saat puisinya dibaca dalam tiga bahasa secara bergantian. Ia kemudian menyalami serta menyilakan Amany Lubis dan Jumhur Cil kembali duduk. Tak lama, Taufik Ismail melanjutkan membaca dua judul puisi karyanya dalam bahasa Indonesia sendirian.

Menurut Taufik, puisi berjudul Sajadah Panjang merupakan salah satu karyanya yang sempat dilagukan dan dipopulerkan grup Bimbo di era 80-an. Puisi itu kini sudah diterjemahkan ke dalam dua bahasa (Arab dan Inggris) bersama kumpulan puisi lainnya. Kumpulan terjemahan puisi Taufik dicetak dalam bentuk buku setebal 500 halaman.

Penerjemahan bahasa Arab dengan judul “Turab Fawqa Turab” (Debu di Atas Debu) dilakukan oleh Nabilah Abdul Fattah Lubis (ibunda Amany Lubis), Guru Besar Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta. Sedangkan dalam bahasa Inggris berjudul “Dust on Dust” yang diterjemahkan Amin Sweeney, pensiunan Guru Besar Sastra Melayu Indonesia di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat.

“Puisi-puisi saya tak hanya diterjemahkan ke dalam dua bahasa melainkan 12 bahasa sekaligus,”jelasnya. Keduabelas bahasa itu di antaranya Rusia, Arab, Mandarin, dan Inggris.

Buku puisi yang diterjemahkan ke dalam 12 bahasa itu merupakan racikan Taufiq Ismail selama 60 tahun berkarya. (ns)

Share This