Gedung FU, BERITA UIN OnlineAl-Quran diyakini menjadi salah satu inspirasi awal berkembangnya studi-studi Perbandingan Agama atau lazim disebut Muqaranat al-Adyan dalam kesarjanaan Islam. Sejumlah surat dan ayat Alquran memuat terminologi agama-agama manusia yang menuntut para pembacanya, ummat Islam, mengkajinya secara serius. Kajian demikian menjadi modal penting dalam menghargai keanekaragaman keyakinan agama yang lazim ditemukan di tengah-tengah keseharian.

Demikian disampaikan Dosen Prodi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin, UIN Jakarta Dr. Media Zainul Bahri MA di Gedung Fakultas Ushuluddin (FU), pekan ini. Menurut Media yang juga menjabat Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ushuluddin ini, sebagai disiplin yang diinspirasi langsung dari Alquran, kajian keilmuan ini memiliki sejarah panjang dalam tradisi kesarjanaan Islam. Beberapa ulama klasik juga tercatat mewariskan karya-karya penting kajian ini.

Bahkan saat ini, sambungnya, Perbandingan Agama diajarkan baik sebagai mata kuliah maupun jurusan keilmuan pada Prodi Perbandingan Agama atau Studi Agama-Agama di sejumlah Perguruan Tinggi Indonesia seperti UIN Jakarta. Berbagai universitas di negara-negara mayoritas Muslim seperti Universitas Al-Azhar Kairo Mesir juga mengajarkannya. Bahkan kajian ini diajarkan di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Saudi Arabia.

“Yang menjadi pertanyaan besar, mengapa Muqaranat al-Adyan perlu diajarkan? Jawabnya adalah karena sumber utamanya berawal dari Alqur’an. Alqur’an lah yang berbicara tentang al-Yahud, al-Nashara, al-Majus, dan Ahl al-Kitab,” paparnya.

Selain penyebutan agama-agama, sambungnya, beberapa surat dalam Alquran juga mengidentifikasi adanya seseorang yang diutus sebagai sebagai pembawa risalah atau disebut pula Rasul. Dua diantaranya Alquran Surat Yunus (10) ayat 47 dan Surat Ibrahim (14) ayat 4 yang masing-masing menjelaskan adanya seorang yang diutus pada satu komunitas sosial tertentu.

Pada QS. Yunus [10] ayat 47 misalnya disebutkan ‘Li Kulli Ummatin Rosulun’ atau “Tiap-tiap umat memiliki Rasul. Sedang pada QS. Ibrahim [14]: ayat 4 juga disebutkan ‘Wa Maa Arsalnaa min Rosulin Illaa Bi-Lisaani Qoumihi’ yang artinya “Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya”. Kedua ayat ini menegaskan banyak rasul yang diutus Tuhan ke berbagai ummat.

“Cuma yang disebut ummat itu apa? Bangsa, kelompok, atau komunitas? Pengertian ini harus jelas terlebih dahulu. Karena pada waktu itu belum ada konsep nation state,” paparnya.

Bahkan di Surat Ibrahim [14] ayat 4 dijelaskan bahwa seorang Rasul diutus dan mengajak ummatnya ke jalan kebaikan dengan menggunakan bahasa mereka (Bi-Lisani Qoumihi). Dengan demikian, selain risalah disampaikan kepada banyak kelompok sosial, penggunaan bahasa sebuah kaum dalam menyampaikan risalah ilahi tidak menempatkan satu bahasa tertentu lebih istimewa dibanding bahasa lainnya.

“Selain Nabi Muhammad SAW yang berkomunikasi dan berdakkwah dengan bahasa Arab, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Isa dan nabi-nabi yang lain memakai bahasa Ibrani, karena beliau-beliau ini diutus untuk kaumnya,” tuturnya lagi.

Selanjutnya, tambah Media, Alquran juga mengungkap kebenaran historis tentang adanya Kitab-Kitab Suci yang diturunkan kepada ummat terdahulu. Bahkan Alquran juga membenarkan beberapa pesan penting kitab-kitab suci ini dan masih dilanjutkan dalam agama Islam seperti ibadah haji sebagai tradisi yang telah diletakkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Terkait sikap pembenaran dan pemeliharaan tradisi lampau di masa selanjutnya, sambung Media, Ilmu Perbandingan Agama memperkenalkan teori kontuinitas. Teori ini menjelaskan adanya garis kesinambungan para Nabi dan para Rasul sebagai argumentasi atas kebenaran diutusnya individu tertentu sebagai utusan Tuhan. Ini juga untuk mengetahui bahwa kehadiran nabi baru berarti juga kehadiran ajaran baru, kendati nilai-nilai penting ajaran lama dipertahankan.

Pemeliharaan tradisi lama misalnya terlihat dari ajaran moral dalam agama Zoroaster yang berkembang dalam periode 1100-550 SM. Seperti disabdakan nabinya, Nabi Zarathustra, bahwa setiap manusia memiliki kebebasan memilih berbuat baik atau berbuat buruk dengan konskuensi amal berbeda. Dan, setiap amal dicatat oleh Malaikat.

Ajaran moral yang disampaikan dalam ajaran agama yang dikenal juga sebagai agama Majusi ini ini mirip dengan ajaran moral dalam Islam. Islam menjelaskan adanya kebebasan bagi manusia dalam memilih amal sholeh dan amal buruk dengan konsekuensi berbeda yang bakal diterima di akhirat dan adanya malaikat yang juga memiliki tugas mencatat setiap amal perbuatan manusia.

Lebih lanjut, Media menuturkan, Muqaranat al-Adyan yang diinspirasikan dalam berbagai surat dan ayat Alquran bisa menjadi pintu penting dalam memahami keragaman yang ditemukan dalam kehidupan bernegara-berbangsa. Selain itu, ia juga bisa menjadi dasar penting dalam penumbuhan sikap kompetisi dalam berbuat kebaikan di antara sesama manusia. (M. Najib Tsauri/ZM)

Share This