Yang dimaksud teosofi dalam tulisan ini ialah orang-orang yang berusaha menemukan kebenaran melalui kombinasi jalur logika dan tasawuf. Sesungguhnya teosofi lebih dekat kepada tasawuf, tetapi beberapa seginya berbeda karena masih mengakomodir epistimologi keilmuan yang menggunakan logika murni (al-ilm al-hushuli/knowledge by corresponden) di samping pendekatan ilmu hudhury (knowledge by present). Tokoh yang paling sering diklaim sebagai penggagas ilmu hudhuri ialah Mulla Sadra dan menurut penulis juga Ibnu ‘Arabi dan para murid dan pengikutnya.

Pandangan kalangan teosofi tentang Tuhan sebagai A God atau The God lebih banyak kesamaannya dengan para ilmuan sufi, bahkan ada yang mengatakan sama. Namun, jika dilihat secara mikro tampak ada perbedaan di antaranya.

Bagi kalangan teosofi, antara A God dan The God tidak perlu dipertentangkan karena kapasitas Tuhan Yang Maha Tak Terbatas tidak meniscayakan adanya pembatasan. Terkadang Tuhan menampilkan diri sebagai A God dan terkadang juga sobagai The God. Ia akan tampil sebagai A God ketika substansi dirinya dibandingkan makhluk-Nya. Sebaliknya, Ia akan tampil sebagai The God jika dihubungkan dengan fungsi dirinya sebagai Tuhan semesta alam. Ia bisa dihubungkan diri-Nya sebagai Tuhan yang dapat didekati secara tanzih, yang memiliki kekhususan dan keistimewaan yang tak mungkin bisa dibandingkan dengan makhluk-Nya, tetapi juga bisa didekati dengan pendekatan tasybih, karena memang memiliki entitas sebagaimana diformulasikan di dalam konsep al-Asma’ al-Husna’.

Dalam perspektif teosofi, ma’rifah tentang keesaan Tuhan (tauhid) tidak pernah dipermasalahkan keberadaan Tuhan sebagai The One dan The Many. Keduanya merupakan suatu entitas yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hubungan antara keduanya adalah hubungan manifestasi (tajalli). Berbeda dengan pandangan filosof menganggap The One dan The Many sebagai dua entitas yang berbeda dan hubungan antara keduanya berdasarkan sebab akibat. Pandangan ini sejalan dengan beberapa ayat: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS al-Hadid/57: 3).

Sama dengan kalangan sufi yang mengatakan tidak ada artinya kita bicara tentang The One tanpa berbicara tentang The Many, karena dalam karya-karya Ibnu ‘Arabi, khususnya Dawud Qaishari dalam “Syarah Fushush al-Hikam”, sering menyebutkan istilah: Al-Wahdah fi al-Katsrah wa Katsrah fi al-Wahdah (The One in The Many and The Many in The One). The One dihubungkan dengan hakikat wujud yang biasa disebut dengan al-jawahir (the substances) dan The Many dihubungkan dengan lokus manifestasi yang disebut al-‘ardh (the accidence). Al-jawahir (jamak dari al-jauhar) menyatu di dalam inti substansi (al-‘ain al-jauhar) yang biasa juga disebut dengan hakikat jauhar (al-haqiqah al-jauhar), al-Nafas al-Rahmani (The Breath of the Merciful) atau al-Hayula al-Kulliyyah (The Universal Prime Matter). Al-‘ain al-jauhar itu sendiri merupakan lokus pengejawentahan (mazhar) bagi Zat Ilahi, yang mana juga merupakan pusat manifestasi al-Asma al-Husna.

Jauhar dan ‘aradh menurut para filsuf merupakan dua struktur entitas yang berbeda walaupun keduanya sulit untuk dipisahkan. Sedangkan, menurut kalangan sufi ‘aradh dan jauhar bukanlah merupakan dua entitas yang berbeda, tetapi yang satu merupakan hakikat dan lainnya merupakan manifestasi, seperti Allah sebagai hakikat wujud (al-Haqiqah al-Wujud) kemudian memunculkan manifestasi (mazhar). Antara Hakikat Wujud dan wujud-wujud (a’yan) yang mewujudkan diri-Nya walaupun keduannya berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Pembahasan ini mengingatkan kita kepada pola dialektika yang pernah muncul di dalam agama Hindu tentang perbedaan antara Brahma yang lebih banyak dipersepsikan sebagai A God dan Atma yang lebih banyak dipersepsikan sebagai The God.

Dari segi ini seorang sufi pemah menyatakan: “Tak seorang pun menegaskan keesaan Zat Maha Esa sebab semua orang yang menegaskan-Nya sesungguhnya mengingkari-Nya. Tauhid orang yang melukiskan-Nya hanyalah pinjaman, tak diterima oleh Zat Maha Esa. Tauhid atas diri-Nya adalah tauhid-Nya. Orang yang melukiskan-Nya sungguh telah sesat”. Ibarat satu mata uang yang mempunyai dua sisi, yaitu sisi tanzih dan sisi tasybih. Tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Antara keduanya tidak paradoks melainkan masing-masing mempunyai makna dan fungsi. Penyatuan antara kedua kualitas ini sesuai dan asumsi ontology Ibnu ‘Arabi, yaitu kesatuan wujud (wahdah al-wujud). (mf)

Prof Dr H Nasaruddin Umar MA, Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Sumber: Dialog Jumat Koran Republika, Jumat, 16 November 2018.

Share This