Auditorium, BERITA UIN Online – Memasuki hari ketiga berpuasa, kegiatan Ramadhan in Campus yang digelar UIN Jakarta mengundang tokoh pemuda asal Korea, Ali Sun An Geun (54), di Auditorum Harun Nasution, Rabu (8/5/2019) sore. Ali didaulat untuk menceritakan pengalamannya di depan para mahasiswa bagaimana dulu belajar di IAIN Jakarta.

Kehadiran pria bermata sipit itu cukup mendapat perhatian besar mahasiswa. Tak pelak, Auditorium berkapasitas 1.000 orang itu pun dipenuhi mahasiswa. Selain mahasiswa, juga ikut hadir Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, para wakil rektor, serta wakil dekan bidang kemahasiswaan. Acara tersebut digelar menjelang berbuka puasa bersama antara pimpinan UIN Jakarta dan mahasiswa, khususnya para aktivis lembaga kemahasiswaan.

Ali sendiri tampil dengan pakaian sederhana dan berkopiah hitam. Namun, meski diakuinya lebih dari 30 tahun tinggal di Indonesia, ia masih susah berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Saat berbicara, aksen Korea-nya tampak masih kental sehingga sering mengundang tertawa mahasiswa. Tak hanya berbahasa Indonesia, Ali juga masih belum begitu fasih berbahasa Arab, apalagi untuk melafalkan ayat-ayat al-Qur’an.

“Saya alumni IAIN (sekarang UIN, Red) Jakarta. Dulu saya tinggal di asrama putra dan sering makan di warung tegal (warteg),” seloroh Ali mengenalkan diri.

Ali juga sedikit menceritakan bagaimana mula dirinya ada di Indonesia dan belajar Islam di IAIN Ciputat. Ia mengatakan sangat senang telah menjadi bagian dari komunitas intelektual Ciputat. Ia banyak berinteraksi dan bergaul dengan berbagai kalangan akademisi Islam, yang semakin membuatnya tahu tentang Islam dan bagaimana menjadi seorang muslim.

Pada bagian lain, Ali pun memuji Indonesia dengan beragam budaya, suku, agama, dan adat-istiadat. Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang besar, baik di laut maupun di pulau-pulaunya yang terbentang luas. Tak hanya itu, dengan penduduknya yang mayoritas muslim, Islam di Indonesia sangat berpeluang menjadi kiblat muslim dunia.

“Saya pernah mendengar, entah ini hadis dhaif atau shahih, konon banyak orang luar negeri yang akan belajar Islam di Indonesia,” kata dosen Metodologi Dakwah dan Kewirausahaan pada Universitas Islam As-Syafi’iyah dan UIN Jakarta itu.

Karena itu Ali mengaku bangga dapat belajar Islam di UIN Jakarta. UIN Jakarta, menurut dia, adalah kampus yang moderat dan juga sangat menghargai perbedaan.

Ali An Sun Geun tak lain adalah seorang anak muda Korea yang sedang bersemangat mendalami Islam. Ia menjadi mualaf tahun 1979 atau saat masih pelajar SMA. Ali masuk Islam karena tertarik suara adzan dari sebuah mushala yang tak jauh dari rumahnya di Distrik Kwangju, sekitar 45 kilometer dari Kota Seoul. Sebelumnya, anak kedua dari dua bersaudara ini adalah seorang penganut Budha yang taat. Ali juga tertarik masuk Islam karena agama tersebut mengajarkan monoteisme dan universalisme.

Tahun 1984, pria yang rambutnya selalu dicukur pendek itu datang ke Indonesia. Ia ingin belajar Islam dan kemudian –atas beasiswa dari Departemen Agama RI dan Korea Muslim Federation– kuliah di Jurusan Dakwah Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta.

Lulus dari IAIN Jakarta tahun 1989, Ali melanjutkan pendidikan S2 bidang kajian Antropologi Agama di Universitas Indonesia. Setelah tamat tahun 1994 ia kembali kuliah mengambil Program Doktor di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta bidang Kajian Islam hingga selesai tahun 2010. Disertasi doktoralnya lalu diterbitkan UIN Jakarta Press (2011) dalam bentuk buku berjudul Islam Damai di Negeri Asia Timur Jauh: Meneropong Penyebaran dan Dinamika Islam di Korea.

Dalam buku setebal 362 halaman itu, Ali mengemukakan, Islam masuk ke Semenanjung Korea dimulai pada abad ke-9 atau semasa Dinasti Shilla (668-936 M) oleh para pedagang dari Arab dan Parsi melalui proses difusi dan akulturasi. Pada mulanya Islam oleh masyarakat dipandang bukan sebagai agama melainkan budaya. Namun, dalam perkembangannya kemudian, Islam diterima sebagai salah satu agama bagi masyarakat Korea.

Di Korea Selatan, populasi orang Islam semakin meningkat, terutama setelah Perang Korea (Perang Korea Utara dan Korea Selatan) tahun 1950-1953. Hingga kini penganut agama Islam di Korea mencapai lebih  dari 150.000 orang dari sekitar 42 juta penduduk Korea. Jumlah itu belum termasuk para pekerja migran tetap, Mereka terkonsentrasi di Kota Seoul, ibu kota Korea Selatan. Di kota ini terdapat masjid pertama yang dibangun tahun 1976 atas biaya Misi Dakwah Islam Malaysia dan negara-negara Islam lain. Total masjid di Korea saat ini terdapat sembilan buah, empat buah Islamic Center, dan 60 buah mushalla.

Ali juga mengatakan, dakwah Islam di Korea semakin meningkat setelah dibentuknya Korea Muslim Federation (KMF) pada tahun 1967. Lembaga ini secara aktif mengadakan gerakan dakwah di Korea secara jelas dan terbuka. Tak hanya itu, pesatnya perkembangan Islam juga berkat dukungan dan bantuan para pendakwah dari negara lain.

Namun, di tengah penduduk Korea yang mayoritas non-muslim dan masih sulit menerima Islam, perkembangan dakwah Islam kerap menemui banyak kendala, meski pemerintah terbuka terhadap agama baru. Beberapa kendala itu antara lain kebiasaan masyarakat Korea yang mengonsumi daging babi dan minuman keras; pelaksanaan kewajiban umat Islam yang belum sepenuhnya sempurna, seperti shalat dan puasa; kurangnya tenaga dai; serta masalah komunikasi, misalnya orang Korea yang sulit memahami bahasa Arab di samping masih langkanya buku-buku Islam yang ditulis dalam bahasa Korea.

Meski demikian, penulis buku Carilah Ilmu ke Negeri Korea (Mewujudkan Hubungan Bilateral yang Harmoni Antara Indonesia dan Korea yang diterbitkan Mitrawacanamedia tahun 2014 itu optimis bahwa dakwah Islam di Korea akan mengalami kemajuan. Hal itu dipicu oleh setidaknya dua faktor, yakni faktor karakteristik agama Islam yang memberikan kemudahan bagi pemeluknya serta faktor politik, ekonomi, dan kebudayaan.

Ali lebih lanjut menjelaskan bahwa Korea sejak tahun 1950 telah menjalin kerja sama dengan negara-negara di Timur Tengah. Bahkan tahun 1969 telah membuka pula hubungan diplomatik dengan negara-negara Islam lain. Karena itu Pemerintah Korea menganggap bahwa hubungan diplomatik dengan negara-negara Islam merupakan kemenangan politik, ekonomi, dan bahkan kebudayaan termasuk pendidikan. (ns)

Share This