Seorang teman minta dijelaskan perbedaan dua kata tersebut dari segi bahasa, karena sedang viral, lantaran kata kedua meluncur dari lisan seorang pemimpin bangsa di forum MTQ.

Dengan husnuzzhan, saya nyatakan bahwa yg bersangkutan boleh jadi mengucapkan Alfateka karena “lidah dan logat Jawanya” sudah sulit dimiripkan dengan makharij huruf Arab. Niatnya mengucapkan Alfatiha, tapi yg terartikulasi Alfateka. Boleh jadi juga “penasehat yang membisikannya” berlogat sama, tidak fasih. Wallahu a’lam.

Sejatinya, dua kata itu sama-sama bahasa Arab yang secara linguistik maknanya saling bertolak belakang. Alfatihah dari kata fataha berarti pembuka, pembebas, pemenang. Dinamai Alfatihah karena menjadi surat pembuka dari Alquran. Penakluk Konstantinopel digelari al-Fatih karena keberhasilannya membebaskan kota tersebut dari cengkraman Romawi. Dalam surat an-Nashr, Allah menggunakan kata al-fath dengan maksud kemenangan besar, yaitu Fathu Makkah.

Sebaliknya, Alfatikah dari kata fataka yaftiku, dalam Mu’jam al-Lughah al-Arabiyyah al-Mu’ashirah karya Hans Wehr diartikan sebagai murderer, killer, assassin, destroyer, attacker, destructor, dan seterusnya. Maknanya sangat negatif: pembunuh, perusak, penghancur, pemusnah, pembinasa, dan seterusnya.

Semoga bangsa ini tidak hancur dan tidak semakin rusak, alias menjadi bangsa yang berkemajuan, adil makmur, dan sejahtera lahir batin.

Lessons Learned yang bisa kita petik: dari kasus Alfateka adalah sebagai berikut:

(1) jadi pemimpin harus mau dan terus belajar dengan cepat, termasuk Ilmu Tajwid. Bahasa Arab atau Alquran itu bisa dipelajari. Banyak orang kafir (sebut saja para orientalis dan akademisi Barat) yang mahir dan fasih berbahasa Arab. Bagaimana mungkin seorang Muslim tidak mau belajar Alquran dan bahasa Arab. Kesalahan atau kebiasaan salah dalam hal apapun termasuk pengucapan kata Arab, lebih-lebih Alquran, tidak boleh dibiarkan karena jika dibiarkan terus akan menjadi kebenaran. Kasus Pak Jokowi secara fonologi dan tajwid jelas salah. Secara sosiolinguistik bisa ditoleransi. Secara teologis, tidak berdosa karena niatnya pasti Alfatihah, meskipun yang terartikulasi Alfateka, beraksen Jawa. Tapi secara sosiopolitik, idealnya memberikan contoh terbaik (uswah hasanah), supaya dapat apresiasi tinggi dari publik, bukan sebaliknya.

2) Tesis Cliffort Gerzt masih relevan bahwa Islam Abangan masih eksis dan proses santrinisasi Abangan belum sepenuhnya sukses. Abangan perlu disantrikan. UIN belum banyak bergerak menyantrikan Abangan.

3) Kasus Alfateka menjadi pembelajaran positif bagi umat agar mengaji Alquran dan Bahasa Arab secara benar.

4) Jika belum yakin benar dan fasih, pemimpin sebaiknya menghindari penyampaian yang berpotensi menimbulkan kontroversi dan sensitif.

Semoga kita bisa mengambil hikmah darimanapun datangnya, agar tidak terperosok dua kali (kadang lebih) di lubang yang sama. (mf)

Dr Muhbib A Wahab MA, Kepala Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Jakarta

Share This