Al-Waajid, ism fa’il (nomina pelaku) dari wajada-yajidu-jidatan-wujdan, merupakan salah satu nama terbaik Allah (al-Asma’ al-Husna). Dari segi bahasa, al-Waajid berarti kaya, sempurna, tidak membutuhkan apapun. Selain itu, al-Waajid juga mengandung makna Maha Mendapatkan, Maha Menemukan atau Maha Penemu.

Kata al-Waajid tidak dijumpai dalam al-Qur’an, tetapi terdapat dalam hadis:

إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ… الْوَاجِدُ الْمَاجِدُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ الْقَادِرُ..) (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya Allah  SWT memiliki 99 nama, 100 kurang satu. Siapa yang menghitung (dan meneladaninya), maka dia akan masuk surga… Di antara 99 nama itu adalah al-Waajid, al-Maajid, al-Wahid, ash-Shamad, al-Qaadir…” (HR at-Turmudzi, hadis no. 3507)

Namun demikian, di dalam al-Qur’an dijumpai sejumlah verba (kata kerja) terkait dengan al-Waajid. Misalnya, وَوَجَدَكَ ضَالّاً فَهَدَى أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَآوَى. “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (QS ad-Dhuha [93]: 6-7)

Allah memang Maha Menemukan  dan Mendapatkan apa saja yang dikehendaki-Nya, karena Dia Maha Kaya, Maha memiliki segala-galanya. Allah Maha Penemu, karena Dia Maha Awal dan Akhir, Maha sempurna, dan tidak membutuhkan apapun dan siapapun.

Al-Waajid, Allah Maha Penemu segala ide besar,  kreasi sempurna, dan ciptaan tiada tara, karena Dia Maha Kreator dan Inovator (Badi’). Allah berbeda dengan makhluk-Nya yang pasti membutuhkan kepada Sang Pencipta yang telah menemukan dan berkreasi sejak azali.

Al-Waajid, Allah Maha menemukan seluruh makhluk-Nya tanpa ada yang tersembunyi atau tertukar satu dengan lainnya, baik yang lahir maupun batin. Semua makhluk selalu berada dalam kendali kekuasaan, kebesaran, pengaturan, dan pengawasan-Nya dari sejak belum tercipta hingga tiada (mati) dan terjadi kiamat. Bahkan ketika terjadi kiamat, kehancuran dunia, dan kemudian terjadi hari kebangkitan, al-Waajid pasti menemukan keberadaan manusia dan mengembalikkannya seperti sedia kali.

Nama al-Ghaniial-‘Aliim, dan al-Waajid memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya, al-Waajid tidak hanya mengetahui sesuatu dan tidak hanya kaya, tetapi pengetahuan dan kekayaan-Nya mengantarkan kepada penetapan langkah-langkah yang jelas dan tegas untuk memberdayakan apa yang ditemukan.

Perbedaannya, al-Ghanii  itu Maha Kaya, memiliki segala yang ada. Sedangkan al-‘Aliim itu Maha mengetahui apa saja. Pengetahuan-Nya Maha Luas,  tidak terbatas oleh ruang dan waktu, menembus segala yang ada, termasuk mengetahui isi hati manusia. Sementara al-Waajid itu Maha menemukan segala yang diciptakan, diketahui, dan dimiliki sebagai kekayaan-Nya.

Meneladani al-Waajid mengharuskan hamba memiliki kesadaran moral bahwa  di kapanpun dan di manapun berada, manusia pasti ditemukan-Nya. Amal hamba, baik tersembunyi maupun tampak,  pasti ditemukan, dicatat, dan hasil hisabnya ditunjukkan kepada hamba, secara adil, teliti, cepat, dan akurat.

Meneladani al-Waajid menginspirasi hamba untuk berpikir kreatif dan inovatif, meneliti, dan mempublikasikan temuan penelitian untuk pengembangan sains dan teknologi demi kesejahteraan dan kemajuan peradaban umat manusia. Al-Waajid memotivasi hamba untuk menjadi penemu dan pengembang ilmu, sekaligus bertanggung jawab atas pengamalan ilmu dan perbuatan sehari-hari, karena Dia pasti menemukan semua jejak rekam kinerja hamba.

Dr Muhbib Abdul Wahab MAg, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Wakil Ketua Umum IMLA Indonesia. Sumber: Suara Muhammadiyah 01/105 5-19 Jumadal Ula 1441 H. (lrf/mf)

Share This