Al-Qur’an, Puasa, dan Rekonstruksi Peradaban Manusia

Al-Qur’an, Puasa, dan Rekonstruksi Peradaban Manusia

Achmad Ubaedillah

AL-QUR’AN bukan sekadar sebuah kitab yang mengajarkan hakikat dan nilai ketuhanan, tetapi lebih dari itu juga bermuatan nilai-nilai kemanusiaan dengan segenap aspek, baik sosial, budaya, ekonomi, politik, pembentukan pemikiran filsafat, hingga penemuan teknologi. Al-Qur'an memuat ayat-ayat tentang pengembangan ilmu pengetahuan sehingga merupakan kitab yang berupaya mengarahkan manusia kembali ke jati dirinya sebagai makhluk berpengetahuan.

Al-Qur'an dengan konsep pembentukan konstruksi manusia modern menjadikannya sebagai kitab suci yang mampu menjawab tantangan semua zaman. Pada saat diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ayat pertama sudah mengarahkan manusia untuk menjadi makhluk yang paham literasi (QS 96:1). Bukan semata mampu membaca dan menulis, tetapi lebih jauh dari itu adalah makhluk yang memiliki pemahaman atas diri dan lingkungannya. Makhluk yang berpengetahuan, memiliki kesadaran atas segenap hakikat. Literasi dibutuhkan dalam menghadapi tantangan hidup yang lebih berat (Qomaruddien, 2020).

Al-Qur'an yang bermuatan ilmu diturunkan di bulan Ramadan bukan tanpa makna. Terdapat relasi, yaitu Tuhan, Ramadan, dan ilmu pengetahuan. Bahwa pengetahuan hakikatnya adalah milik Tuhan melalui sebuah sarana Al-Qur'an yang turun di bulan yang penuh keberkahan. Maka manusia tidak selayaknya mengotorinya dengan ego dunia. Ilmu adalah cahaya, berasal dari Cahaya di atas cahaya untuk menerangi manusia dalam melangkah meraih kebenaran.

Al-Qur'an diturunkan pada 17 Ramadan, mengandung makna bahwa manusia perlu membebaskan dan melaparkan diri dari ego atas dunia. Bahwa manusia menerima dan menjalankan pengetahuan sebagai jalan cahaya menuju Tuhan dan bukan dalam upaya penguasaan dan kepemilikan dunia. Puasa Ramadan yang di dalamnya terdapat Al-Qur'an menghubungkan relasi transendental manusia dan Tuhan, tanpa dikotori oleh ego duniawi yang menghias hati.

Al-Qur'an tidak semata bermuatan hukum-hukum Tuhan, tapi juga substansi pengetahuan. Bahwa mengetahui menjadi sifat dasar manusia, dan Al-Qur'an yang bermuatan pengetahuan tersebut diturunkan compatible dengan struktur manusia yang haus akan pengetahuan.

Al-Qur'an mengajak manusia untuk terus merenung dan berpikir akan segala hal. Ia meminta manusia untuk mendayagunakan segenap akalnya untuk menguak rahasia alam semesta. Al-Qur'an menantang manusia sebagai khalifah (pemakmur bumi) untuk terus berkreasi dengan berpikir (Qs 59:2).

Al-Qur'an sebagai kitab suci diturunkan di tengah padang pasir tandus semenanjung Arabia, di tengah masyarakat yang walau cerdas dan penyuka seni keindahan tapi dikatakan bodoh. Bodoh karena tak memahami eksistensi dirinya di hadapan Tuhannya. Di sinilah ia membawa pesan Tuhan dengan mengarahkan manusia ini menuju eksistensi manusia bertuhan dan berpengetahuan.

Al-Qur'an menjadi petunjuk (Qs. 2:2), yang dalam hal ini berupaya mencerahkan manusia. Ia membangun ulang manusia sehingga manusia menjadi makhluk yang mudah melaksanakan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan penguasaan ilmu, manusia akan mampu memberikan kemakmuran dan kemanfaatan bagi manusia lainnya (Watsiqotul, et.al., 2018).

Al-Qur'an tidak saja dihafalkan ataupun dilombakan bacaannya, tetapi lebih jauh dari itu juga digali makna terdalamnya untuk mengetahui hakikat ontologisnya. Memahami Al-Qur'an sebagai sebuah petunjuk Tuhan bagi manusia. Di dalamnya terdapat ribuan ayat tentang pengetahuan manusia. Di sinilah makna mukjizat kitab suci Al-Qur'an bahwa ia diagungkan karena menunjukkan kebesaran Tuhan melalui penciptaan semesta. Bahwa kandungan Al-Qur'an bisa dibuktikan secara metode saintifik pengetahuan modern. Di sinilah lahir internalisasi hingga integrasi sains dan Al-Qur'an (Adhiguna & Bramastia, 2021).

Sebagai kitab suci yang mulia, Al-Qur'an diturunkan di bulan Ramadan yang mulia (Qs 2:185). Ia diturunkan membawa petunjuk dan pesan-pesan kemuliaan Tuhan (Qs 2:2) melalui hamba-Nya yang paling mulia, yakni Muhammad SAW (Qs 53:3-4), dari Allah, Zat Yang Mahamulia (Qs 41:42). Ramadan mengajarkan manusia untuk membebaskan diri dari kefanaan dunia, dan di sinilah Al-Qur'an mengajak manusia menuju tahapan yang lebih tinggi dari kefanaan dunia menuju pemahaman atas-Nya.

Menuju budaya pengetahuan

Al-Qur'an membangun sebuah spirit cinta pengetahuan bahwa mengetahui eksistensi Tuhan dapat melalui metode mengetahui ciptaan-Nya. Segenap objek yang terbentang menunjukkan adanya sebuah kekuatan adikodrati sebagai pengendali, pengatur, dan tentunya yang menjadikannya ada (Qs 2:29). Bahwa berputarnya alam semesta adalah sebagai bukti eksistensi-Nya (Qs 3:190).

Al-Qur'an mengajak manusia berpikir secara kritis, terbuka-inklusif, dan juga komprehensif. Pemikiran kritis ditujukan agar manusia tidak sekadar mengikuti. tetapi juga bersikap rasional, terus melakukan uji kebenaran terhadap adanya segala objek yang hadir dan acapkali membingungkan nalar (Qs 49:6). Berpikir inklusif dan terbuka memiliki makna bahwa manusia mampu menyerap beragam kebenaran yang ada dengan aneka macam metodologi berpikir. Keilmuan Islam dapat ditelaah dalam berbagai sudut pandang, baik doktrin, kemazhaban, hingga realitas politik (Wijaya, 2020).

Sikap inklusif menjauhkan diri dari hadirnya kekuatan ego yang menyergap. Ego yang menyatakan bahwa ia adalah pemangku kebenaran, sedangkan yang lain adalah salah. Bahwa Islam dijalankan dengan ragam metodologi yang berbeda sehingga dibutuhkan kemampuan untuk menerima atas ragam perbedaan yang ada. Sikap inklusif lebih berbentuk kemampuan menerima keragaman metode dengan sikap terbuka, dinamis, dan rasional (Daimah, 2018).

Sikap komprehensif memiliki makna adanya kemampuan akal pikir manusia untuk berpikir secara menyeluruh, dan tidak sekadar menangkap segala hal secara parsial. Bahwa sebuah peristiwa perlu dilihat secara utuh dan menyeluruh guna mampu memahami yang sesungguhnya terjadi. Dalam pemahaman ini, maka pemahaman subjek manusia terhadap Al-Qur'an tidak semata berkarakter dogmatik, tetapi juga saintifik. Memahami Al-Qur'an dalam pemaknaan pengetahuan epistemologis bahwa segenap ayat yang terkandung di dalamnya ditelaah, dipahami, dimengerti untuk kemudian coba menghasilkan jawaban keilmuan yang diharapkan. Keilmuan Islam sejatinya harus mendorong munculnya aktivitas intelektual (Qutub, 2011).

Sejarah peradaban keilmuan Islam telah menghasilkan mahakarya pengetahuan tingkat dunia yang bahkan mampu mengubah wajah Eropa dari zaman kegelapan menuju zaman pencerahan. Para pemikir filsuf muslim seperti Al Kindi (801 M), Al-Khawarizmi (780-850 M), Al-Farabi (870-950 M), Ibn Sina (980-1037 M), Ibn Rusyd (1126-1198 M), Al-Ghazali (1058-1111 M), hingga sang fenomenolog muslim Ibn Arabi (1165-1240 M), telah dengan gemilang melahirkan konsep gagasan ilmu pengetahuan modern yang membuka cakrawala berpikir umat manusia.

Bahwa kunci kemajuan peradaban manusia termasuk pula peradaban Islam adalah ilmu pengetahuan. Untuk dapat menerima ilmu pengetahuan diperlukan sikap keterbukaan. Ijtihad dan pemikiran baru diperlukan untuk menjawab beragam tantangan modernitas manusia. Sikap ketertutupan dan jumud serta sikap menutup diri dari adanya perubahan dan pembaruan pengetahuan akan semakin memperburuk keadaan. Hadirnya kemajuan teknologi modern tidak disikapi dengan kegagapan, melainkan dengan pemikiran kritis dan komprehensif. Sikap terhadap ilmu pengetahuan harus dalam posisi terbuka. Ijtihad sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan problem persoalan manusia yang semakin rumit dan kompleks (Badi', 2013).

Bahwa beragama juga membutuhkan pemahaman yang rasional dan terkadang juga ilmiah. Hakikat memahami eksistensi Tuhan pun dicapai melalui gerak kerja ilmu pengetahuan yang menelusuri rahasia alam semesta. Bahwa adanya alam menunjukkan ada-Nya. Hal ini tidak akan dapat tercapai ketika Al-Qur'an hanya dipahami sebatas dogma ajaran. Tuhan menantang manusia untuk terus menguak rahasia-Nya yang terbentang di penjuru semesta (Qs 10:101).

Al-Qur'an telah mengubah manusia dari yang bodoh tak berpengetahuan menjadi manusia yang berpegang pada kebenaran pengetahuan. Bahwa kebenaran pengetahuan itu hakikatnya menunjukkan adanya eksistensi kegungan-Nya. Tuhan melalui kalam-Nya dalam Al-Qur'an telah merekonstruksi konsep manusia bahwa ia bukan semata objek tubuh, tetapi subjek berpikir yang mengemban amanah sebagai khalifah. Pengetahuan adalah bekal melangkah di jalan Tuhan (Qs 16:12).

Al-Qur'an telah berhasil merekonstruksi manusia dari kegelapan menuju terang cahaya. Ayat dalam kitab suci Al-Qur'an telah mampu mendorong peradaban manusia yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kitab suci Al-Qur'an yang bermuatan pengetahuan manusia telah mampu menjadikan manusia yang berada dalam gua kegelapan menuju pada sebuah pemahaman akan kedalaman pengetahuan. Tentunya pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh dari menggali kitab suci Al-Qur'an tidak menjadikan manusia menjadi lupa diri dan bertindak secara eksploitatif (Qs 30:41). Manusia dengan pengetahuan yang dimilikinya memahami siapa dirinya di hadapan Tuhannya. Bahwa berilmu pengetahuan adalah sebuah sarana metodologi epistemologis untuk memahami eksistensi-Nya.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab, yaitu mereka yang berzikir (mengingat) Allah sambil berdiri, atau duduk, atau berbaring, dan mereka yang berpikir tentang kejadian langit dan bumi," (Qs Ali Imran 3: 190-191). (zm)

Penulis adalah Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengurus Badan Pengembangan Jaringan Internasional PBNU, Fokky Fuad Wasitaatmadja, dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia. Artikelnya dimuat Media Indonesia, Sabtu 08 April 2023. Sumber: https://mediaindonesia.com/opini/572353/al-quran-puasa-dan-rekonstruksi-peradaban-manusia