Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan melihat di sekitar banyak anak muda yang mungkin secara pendidikan baik namun berperilaku tidak beradab/ berakhlak kepada orang yang lebih tua ataupun alim, beberapa kali kita lihat di berita seorang siswa menganiaya gurunya karena masalah sepele atau seorang pemuda menghina ulama seperti KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) yang kemudian pemuda tersebut minta maaf dan menyesal telah melakukan penghinaan terhadap Gus Mus, dengan kebesaran jiwa Gus Mus memaafkan bahkan sebelum pemuda tersebut minta maaf.

Salah satu faktor dominan penyebab masyarakat mudah saling ejek dan hina dewasa ini adalah karena beda pilihan politik dan terprovokasi oleh berita di media sosial yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Banyak para pendukung yang saling melapor ke kepolisian karena saling ejek dan hina. Tentu ada faktor lain yang menjadi penyebabnya selain urusan politik, seperti minimnya pengetahuan dan kurangnya bergaul yang mengakibatkan tidak dipikirkan secara matang setiap yang akan dilakukan. Ujung-ujungnya menyesal.

Padahal, dalam Islam salah satu aspek yang mendapat perhatian utama adalah akhlak. Islam memang memuliakan orang-orang yang berilmu, bahkan mewajibkan semua penganut ajaran Islam untuk menuntut ilmu seperti disampaikan dalam hadis; “Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim (baik laki-laki maupun perempuan),” namun Islam juga mensyaratkan akhlak untuk kesempurnaan ilmu.

Begitu pentingnya akhlak dalam Islam sehingga Baginda Muhammad SAW menyebut dirinya diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak. Dengan begitu, akhlak seharusnya tetap digunakan sebagai pijakan utama bagi setiap muslim dalam melakukan berbagai hal, apalagi bagi mereka yang mengaku sebagai muslim yang terpelajar, baik yang terkait dengan dirinya sendiri, teman kerja, maupun institusi di mana mereka beraktivitas.

Dilihat dari fungsinya, akhlak adalah pembeda kategori orang pintar dan benar. Orang yang berilmu tentulah pintar, namun jika tidak melengkapi dirinya dengan akhlak, maka tak ada jaminan kepintaran yang dimilikinya mampu mengantarkan pada kebenaran dan kebaikan.

Sekalipun orang tersebut mengaku sebagai ustaz, penceramah, atau cerdik pandai namun jika akhlak yang ditampilkan buruk, maka tidak ada kebenaran di setiap ceramah dan seminar yang disampaikan. Apa yang disampaikan kontraproduktif dengan yang dipraktikkan.

Akhlak juga berfungsi sebagai benteng orang berilmu dari berbagai macam godaan. Sebab, orang berilmu tak akan pernah lepas dari godaan. Salah satu yang paling sering menghantui adalah kesombongan dan kecongkakan. Orang yang berilmu namun tidak berakhlak cenderung mengira dirinya sudah tahu segala, merasa kebenaran hanyalah apa yang keluar dari mulutnya. Padahal bisa jadi kebenaran menurutnya adalah kesalahan bagi orang lain.

Padahal akhlak yang diajarkan Rasulullah itu sangatlah sederhana; berbuat baik dan bersikap menyenangkan orang lain, menghindari sesuatu yang dapat menyakiti (baik fisik maupun hati). Bahkan Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat berdiri sejenak saat ada rombongan jenazah yang diketahui bukan seorang muslim. Itu contoh sederhana akhlak Rasulullah SAW kepada non Muslim.

Tentu tidaklah mudah meneladani akhlak Rasulullah SAW yang diceritakan di beberapa riwayat secara utuh. Mungkin yang dapat kita lakukan dalam meneladani akhlak Rasulullah SAW adalah dengan menghormati orangtua, teman sejawat, teman kantor, orang yang lebih tua, guru, ustaz, dan lain sebagainya. Bukan malah mengecewakan dan menyakitinya.

Karenanya, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dikaruniai Allah SWT dengan akhlak mulia, sebab hanya dengan cara itu, ilmu yang kita miliki meskipun secuil dapat memberi manfaat dan kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain. Wallahu a’lam.

Muslikh Amrullah MPd, Staf Magister FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (lrf/mf)

Share This