Akalku tersungkur setiap menghadapi misteri kematian yang datang menyergap secara mendadak. Berita musibah pesawat Lion Air JT-610 Senin pagi 29 Oktober seketika membuat hati kelu dan pikiran lunglai. Suasana hati dan pikiran yang mencekam ini demikian intens mengingat sebelumnya saya juga selalu mengikuti berita musibah gempa bumi dan tsunami di Palu, dan sebelumnya menimpa Lombok. Selama sebulan ini dua orang teman dekat saya putranya meninggal, masing-masing berusia 31 tahun dan 36 tahun. Yang kedua ini anaknya Ustadz Habib Chirzin. Dua teman saya itu, baik orangtua maupun anaknya terhitung saleh sekali dalam lingkungan sosialnya. Semakin sulit akal mencernanya. Anak dari keluarga baik dan dalam usia muda.

Seketika terbayang wajah-wajah sedih, mengundang iba, anak-anak, isteri dan orangtua yang ditinggalkan. Secara teknis-lahiriah memang mesti dikaji secara mendalam, fair dan terbuka, apa yang menjadi penyebab kecelakaan itu karena musibah kecelakaan penerbangan berbeda sifatnya dari gempa bumi.

Apapun penyebabnya, kita ikut merasa terpukul dan bersimpati terutama pada keluarga yang ditinggal. Sangat menyentuh perasaan cerita para korban itu. Ada pramugari yang merupakan putri semata wayang, baru mulai bekerja dan berniat untuk membahagiakan kedua orangtuanya. Dia satu-satunya hiburan, kebanggaan dan harapan orangtuanya memasuki hari senja.

Ada pengantin baru yang belum sebulan berumahtangga. Ada lagi pramugari yang tengah menyiapkan pernikahan di bulan Nopember ini. Yang tak kurang menyayat adalah wajah anak-anak dan isteri yang mendadak kehilangan figur ayah dan suaminya.

Dan sekian banyak cerita duka lain yang sulit dicerna oleh nalar mengapa itu mesti terjadi. Mereka berharap dan berdoa terjadi sebuah keajaiban, semoga keluarganya selamat. Namun yang dijumpai antara lain adalah sandal, sepatu, tas, dan pakaian yang mengapung bersama serpihan badan pesawat dan potongan-potongan tubuh mayat.

Jangankan keluarga yang tertimpa musibah, siapapun orangtua pasti ikut tersayat hatinya mengikuti pemberitaan kecelakaan Lion Air itu. Berbagai analisa bermunculan mencoba menjelaskan penyebab kecelakaan itu. Tetapi peristiwa duka yang mengharu biru perasaan sudah terjadi. Kita hanya bisa bersimpati dan berbagi doa. Sikap sabar, pasrah dan bersangka baik pada takdir sedikit banyak akan meringankan.

Semua ini terjadi di luar harapan siapapun. Ini tidak berarti membuang sikap kritis terhadap beberapa kesalahan yang mungkin saja dilakukan oleh pihak-pihak yang berkaitan dengan penerbangan itu.

Kehidupan keluarga yang ditinggalkan tiba-tiba berubah. Ada yang kehilangan anak yang jadi buah hati dan kebanggaan keluarga. Ibarat bangunan rumah ada yang goyah kehidupan ekonominya karena kehilangan tiang penyangga utamanya. Pendeknya, bayangan sendu dan murung menggayuti keluarga kurban.

Di sinilah sikap iman tampil memberi kekuatan dan pemaknaan yang tidak bisa diemban oleh nalar. Ketika ajal datang, siapapun orangnya, apapun pangkat dan jabatannya, di manapun berada, berakhirlah nafas dan langkah kita di dunia ini. Nalar tidak tahu, ke mana perjalanan ruh setelah kematian, juga tidak tahu dari mana ruh berasal sebelum menyatu dengan tubuh yang fana ini.

Dalam khazanah keilmuan Islam, ditemukan banyak istilah dan konsep seputar kematian ini, seperti wafat, ajal, maut, ruju’. Yang terakhir ini paling populer, ruju’, artinya kembali atau berpulang. Bahwa peristiwa kematian adalah peristiwa kepulangan sang ruh kepada rumah asalnya.

Alqur’an menyikapi peristiwa kematian secara positif, kita semua berasal dari Allah dan pada akhirnya akan kembali pada Allah. Sedangkan Allah adalah Maha Kasih Sayang. Sepercik kasih Allah yang disiramkan ke bumi ini telah menciptakan ikatan orangtua dan anak sedemikian kuatnya. Telah menggerakkan burung pagi-pagi terbang mencarikan makanan untuk anak-anaknya yang masih kecil menunggu di sarangnya. Telah membuat hewan-hewan siaga melindungi bayi-bayinya agar selamat dari gangguan. Karena kasihNya, semesta ini bertahan dan berjalan harmonis karena adanya gravitasi saling mengikat antar planet yang berterbangan.

Semoga Tuhan Sang Pencipta dan Pemilik kehidupan memberikan kesabaran dan ganti yang lebih baik bagi yang telah meninggal maupun yang ditinggal..

Prof Dr Komaruddin Hidayat MA, Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Yayasan Pendidikan Madania, Kamis, 1 November 2018

Share This