Ruang Diorama, BERITA UIN OnlineSeorang ulama fikih dari Uni Emirat Arab (UEA), Syekh Abdullah bin Bayyah, mengunjungi UIN Jakarta, Senin (22/10/2019). Selain untuk bersilaturahmi, ia juga ingin berdiskusi dengan segenap sivitas akademika UIN Jakarta dan para rektor perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) se-Indonesia.

Kunjungan Syekh Abdullah ke UIN Jakarta sekaligus untuk mendampingi Menteri Toleransi UEA Syekh Nahyan bin Mubarak Al Nahyan yang akan menyampaikan kuliah umum di Auditorium. Tiba di UIN Jakarta Syekh Abdullah disambut Rektor UIN Jakarta Amany Lubis serta para wakil rektor, dekan, dan kepala biro di Ruang Diorama. Turut mendampingi Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin.

Kunjungan Syekh Abdullah ke UIN Jakarta berlangsung selama sekira dua jam. Setelah itu ia dan rombongan kembali ke tempat penginapannya di Jakarta. Sebelum bertolak ke UIN Jakarta Syekh Abdullah sempat menghadiri acara pelantikan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024 di gedung MPR/DPR Senayan.

Di depan sejumlah rektor PTKIN, Syekh Abdullah merasa terhormat dapat bertemu dengan kalangan cendekiawan muslim dan akademisi dari universitas Islam. Ia sangat berterima kasih kepada Rektor UIN Jakarta Amany Lubis serta pimpinan universitas yang telah menerimanya sebagai tamu bersama rombongan lain.

“Semoga dengan silaturahmi ini dapat menjadikan hubungan kedua negara, yakni UEA dan Indonesia, semakin erat. Terlebih dengan para cendekiawan dari universitas yang telag menerimanya,” katanya.

Abdullah bin Mahfudh ibn Bayyah dilahirkan pada tahun 1935 di Mauritania. Ia mengajar di Universitas Raja Abdul Aziz di Arab Saudi. Ia adalah seorang ahli fikih tradisional empat mazhab, utamanya pada mazhab Maliki.

Pada masa mudanya, ia ditunjuk untuk mempelajari hukum di Tunis. Sekembalinya ke Mauritania, ia menjadi menteri pendidikan lalu menteri kehakiman. Ia juga pernah menjabat sebagai wakil presiden dari presiden pertama negeri Mauritania.

Syekh Abdullah terlibat di sejumlah dewan pakar termasuk Dewan Fikih Islam, suatu institut yang berpusat di Arab Saudi. Ia juga pernah menjabat sebagai wakil presiden dari Persatuan Ulama Internasional sebelum kemudian mengundurkan diri dari jabatannya pada pertengahan 2013. Ia juga merupakan anggota dari Dewan Penelitian dan Fatwa Eropa yang berpusat di Dublin, suatu dewan ulama yang mengarah pada usaha menjelaskan hukum-hukum Islam yang sensitif terhadap kehidupan muslim Eropa.

Berkat kharimanya sebagai ulama, ia termasuk di antara 500 orang muslim paling berpengaruh di dunia pada 2009-2013. (ns)

Share This