Oleh : Jajang Jahroni, Ketua LP2M UIN Jakarta

Untuk membuktikan apakah agama itu penting atau tidak penting, kita bisa menulusurinya lewat ajaran agama itu sendiri. Ajaran Islam terangkum dalam al-Qur’an dan al-Hadis, dua sumber utama. Salah satu hadis yang sangat terkenal menyebutkan bahwa senyum kepada orang lain adalah sedekah (HR Tirmidzi dan Abu Dzar). Pertanyaannya, apakah hadis ini penting? Jawabannya tergantung. Tergantung dari mana seseorang melihatnya. Dalam masyarakat yang berpegang teguh pada nilai-nilai kesopanan, di mana setiap orang saling sapa dan hormat menghormati, hadis tersebut tampaknya tidak terlalu penting. Mengapa? Karena ia menjadi bagian dari praktik kehidupan sehari-hari alias lumrah. Sesuatu yang lumrah tidaklah penting. Namun dalam masyarakat yang saling bermusuhan, satu sama lain saling membenci, maka hadis tersebut menjadi penting.

Dulu, sebelum Islam datang, masyarakat Quraisy bertikai satu sama lain. Setiap kabilah mengklaim keutamaan sukunya. Kebanggaan kepada suku dan kelompok membuat mereka bermusuhan, saling memerangi. Lalu Islam datang, mengajarkan persaudaraan dan persamaan. Jangan saling bermusuhan, jangan saling membenci, tolong menolong dan saling memaafkan. Demikian pesan Islam. “Iman seseorang tidak akan sempurna hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri,” (HR Bukhari dan Muslim), begitu sabda Nabi Muhammad. Nabi berupaya membangun kembali masyarakat Quraisy yang didera perpecahan dan permusuhan dengan cara mengajak setiap orang berkontribusi, diawali dari diri sendiri, dan dari hal yang kecil dan sederhana.

Maka kemudian, senyum dan maaf menjadi senjata ampuh untuk mengatasi berbagai masalah sosial. Seseorang yang tengah gundah bisa luluh hatinya melihat teman atau saudaranya tersenyum dan menyapanya dengan lembut. Kekhilafan dan kesalahan kecil tidak perlu diperpanjang. Dimaafkan saja. Ada dua alasan mengapa maaf begitu dianjurkan. Pertama, maaf menyelesaikan banyak persoalan. Kedua, memberi maaf lebih sehat secara mental.

Agama Kemanusiaan

Ketika diturunkan, Islam tidaklah dimaksudkan sebagai ajaran langit yang tidak boleh digapai manusia. Justru sebaliknya, Islam diturunkan untuk menumburkan sistem sosial yang rusak di bumi. Manusia beragama bukan untuk Tuhan, manusia beragama justru untuk diri mereka sendiri. Dengan kata lain, agama mengembalikan manusia kepada nilai-nilai sejatinya. Namun kemanusiaan yang diajarkan Islam bukanlah kemanusiaan yang menggelondang di dunia ini tanpa tujuan. Kemanusiaan ini dihubungkan dengan asal-usul dan tujuan manusia itu sendiri: manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali pada-Nya.

Atas dasar ini, dapat dikatakan bahwa agama pada dasarnya adalah peneguhan atas nilai-nilai kemanusiaan. Ajaran tentang maaf dan menolong sesama adalah pesan kemanusiaan yang paling otentik yang sering dilupakan manusia. Agama datang untuk mengingatkan pesan ini agar manusia kembali mengingat dan mengamalkannya. Apakah memaafkan dan menolong sesama sesuatu yang khas Islam? Tidak. Studi-studi antropologis menyebutkan praktik tersebut ditemukan di seluruh peradaban manusia. Sejalan dengan ini, Islam sendiri tidak mendaku sebagai agama baru, namun ia meneruskan tradisi yang telah dibangun oleh nabi-nabi sebelumnya.

Bila memang demikian, pembicaraan tentang agama seharusnya dilakukan dengan saling menghormati dan penuh pengertian. Ini karena semangatnya adalah mencari titik temu yang bisa jadi ada dalam setiap simpul peradaban manusia. Pesan-pesan Islam bisa ditemukan di mana-mana, bisa dipelajari lewat berbagai kitab suci, tradisi, dan pemikiran umat manusia. Maka sikap keberagamaan yang paling otentik adalah rendah hati, yaitu berpegang teguh pada kesahihan pendapat sendiri, yang pada saat yang sama siap mengakui dan menerima bila pendapat orang lain lebih sahih.

Dewasa ini, pemahaman kaum Muslim tentang Islam cenderung menitikberatkan pada aspek langitnya, bukan buminya, seolah-olah mereka beragama sepenuhnya untuk Tuhan, seolah-olah Tuhan membutuhkan agama mereka, sehingga pembicaraan tentang agama dilakukan secara tergopoh-gopoh, bringas, dan tanpa toleransi. Agama lalu menjadi legitimasi atas tindakan yang justru bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Sekali lagi, agama bukanlah ajaran langit yang tidak ada hubungannya dengan bumi. Justru makna hakiki agama harus dibangun di bumi ini.

Semangat dan pesan Islam melampaui simpul-simpul historisnya, dan terus melesat menuju nilai-nilai kemanusiaan. Karena agama identik dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka ia selalu relevan. Yang harus kita pahami dari agama, kata Soekarno, Presiden pertama RI, adalah apinya, semangatnya, bukan bentuk wadagnya. Jadi yang ditangkap bukanlah 2 banding 1-nya dalam pembagian waris antara laki-laki dan perempuan, tapi semangat Islam untuk memperjuangkan keadilan bagi perempuan, yang pada saat Islam diturunkan nyaris tidak mungkin. Dan semangat ini harus terus dilanjutkan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Bila prinsipnya seperti ini, bisa jadi perempuan sekarang menerima waris sama atau lebih banyak dibanding laki-laki. Dulu Munawwir Syadzali pernah mengkritik sistem 2 banding 1 dalam waris sudah tidak relevan lagi. Ini karena, menurut Munawwir, masyarakat sudah berubah.

pa sih yang tidak berubah di dunia ini? Perubahan adalah kodrat. Agama pun berubah sesuai dengan perkembangan zaman yang juga terus berubah. Ketika manusia semakin berperadaban, banyak aspek agama yang harus dikaji ulang, ditafsirkan kembali agar semangat tetap relevan. Pada abad modern seperti sekarang peran agama semakin tergerus oleh nalar manusia. Peran agama sebagai sistem penjelas diambil alih oleh nalar manusia, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi bisa memprediksi secara lebih baik apa yang akan terjadi hari esok. Orang menyebutnya sekularisasi, proses di mana akal budi manusia dipercaya sanggup mencari jawaban atas segala peri kehidupan ini. Di Barat proses ini sudah berlangsung lama. Di lingkungan kaum Muslim, sekularisasi baru terjadi satu abad terakhir. Hal yang paling mencolok dari proses ini adalah munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang pada gilirannya “menantang” doktrin dan praktik keagamaan.

Sebagai kaum beragama, umat Muslim tidak perlu risau dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Iman tidak perlu tergerus. Justru kemajuan ilmu dan teknologi harus menjadi bagian penting dari kehidupan umat manusia. Dalam hubungan ini, tugas agama yang paling penting adalah memberi landasan etik agar ilmu pengetahuan dan teknologi memberi kemaslahatan, bukan kemudaratan, bagi kehidupan manusia. Perlu diketahui bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah buah dari akal budi manusia, dan Islam, sejak awal, mengupayakan agar akal budi manusia tumbuh dan berkembang. Maka sia-sialah kaum Muslim yang anti ilmu pengetahuan dan teknologi karena mereka menolak konsekuensi ajaran agama yang dianutnya.

Agama yang ditangkap dalam bentuk wadagnya semakin tak berdaya diserang oleh kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi. Praktik bersiwak seperti yang dicontohkan Nabi (membersihkan gigi dengan kayu arak)—yang masih dipraktikkan oleh sebagian orang—menjadi obsolete. Pada zamannya, praktik ini penting, ketika orang masih beranggapan membersihkan gigi barangkali akan membuat para peri murka. Namun di abad modern siwak ketinggalan zaman. Orang modern punya teknik yang jauh lebih baik untuk membersihkan gigi.

Namun orang modern punya kelemahan. Nafsunya yang gede atas materi membuat mereka sering tidak tulus. Awak kabin di atas sana suka sekali tersenyum. Sepanjang perjalanan mereka tersenyum, memperlihatkan gigi mereka yang putih bak mutiara. Bukan karena mereka semata tulus, tapi karena perusahaan mengharuskan mereka bersikap seperti itu. Mereka tersenyum agar penumpang nyaman, agar penumpang terbang lagi bersama mereka. Erving Goffman, sosiolog Amerika era 1960-an, menyebutnya “kapitalisasi senyum”, alias senyum karena duit!

Orang modern bisa saja tersenyum manis, tapi kalau tidak disertai niat yang ikhlas, tidak akan dapat pahala. Bukan sedekah! Di sinilah barangkali prinsip kebaikan dan ketulusan yang diajarkan agama masih tetap relevan. Bentuk peradaban manusia terus berubah, tapi ajaran kebaikan, ketulusan, keadilan, kemakmuran akan selalu relevan. (zm/sam)

Share This