Gedung Rektorat, BERITA UIN Online— Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta bekerjasama dengan Wahid Foundation kembali menawarkan beasiswa riset tugas akhir bagi mahasiswa program sarjana UIN Jakarta yang meriset kiprah dan pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Total lima mahasiswa bakal dipilih menjadi penerima beasiswa dengan nominal masing-masing Rp 10 juta.

Rilis resmi FAH UIN Jakarta seperti diterima BERITA UIN Onnline, Senin (17/1/2022), menyebutkan bila pendaftaran beasiswa dibuka hingga 31 Maret 2022 untuk kemudian diseleksi pada 16 April 2022. Pengumuman mahasiswa penerima beasiswa sendiri dijadwalkan pada 30 April 2022 mendatang, sedang pendaftarannya dilakukan secara daring melalui laman https://bit.ly/3qW8NVx.

Rilis yang sama menyebutkan, beasiswa diberikan secara tunai senilai Rp10 juta per mahasiswa. Dana beasiswa bisa digunakan mahasiswa penerima untuk membiayai berbagai hal terkait penelitian dan penulisan tugas akhir kesarjanaannya.  “Akan ada lima mahasiswa yang menerima beasiswa ini,” sebut rilis.

Sementara itu, FAH UIN Jakarta dan Wahid Foundation sendiri menetapkan sejumlah persyaratan bagi para pendaftarnya. Diantaranya, pendaftar harus tercatat sebagai mahasiswa aktif UIN Jakarta atau maksimal semester 10 dengan IPK minimal 3,25, dan telah dinyatakan lulus seminar proposal.

Lainnya, mahasiswa menulis skripsi tentang Gus Dur dengan pendekatan keilmuan program studi masing-masing. Ia juga bersedia menyelesaikan skripsi waksimal dalam satu tahun dan menerbitkan hasil risetnya dalam bentuk makalah atau artikel siap terbit di jurnal terindeks SINTA.

Dikonfirmasi, Dekan FAH UIN Jakarta Saiful Umam Ph.D mengungkapkan, beasiswa Gus Dur kali ini ditawarkan untuk kedua kalinya setelah setelah 2021 lalu ditawarkan. Seperti tahun ini, Beasiswa Gus Dur sebelumnya juga diberikan kepada lima mahasiswa terpilih.

Menurut Saiful, beasiswa diberikan untuk mendorong mahasiswa mengenal lebih dalam dan luas tentang tentang pemikiran dan aktifitas Gus Dur dalam berbagai hal. “Gus Dur adalah sosok penting dalam sejarah Indonesia, tidak hanya sebagai intelektual tapi juga sebagai aktivis dan negarawan,” tuturnya.

Seperti diketahui, Gus Dur merupakan Presiden ke-4 RI dengan masa kepresidenan 20 Oktober 1999-23 Juli 2001. Berlatar cendekiawan Muslim yang memiliki perhatian terhadap hak-hak asasi manusia, Gus Dur di masa kepresidenannya mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 sekaligus menerbitkan Keppres Nomor 6 Tahun 2000 guna melindungi warga keturunan Tionghoa dari sikap rasialis dan diskriminatif.

Sebelumnya, Gus Dur tercatat pernah memimpin PBNU selama tiga periode (1984-1989, 1989-1994, dan 1994-1999). Dalam masa kepemimpinannya, ia melakukan perubahan penting seperti penerimaan Pancasila dan UUD 1945 dan mengawal transisi politik reformasi Indonesia. Pada tahun 1998, Gus Dur menginiasi terbentuk Partai Kebangkitan Bangsa.

Lebih jauh, Saiful berharap tawaran beasiswa Gus Dur bisa memfasilitasi pembiayaan riset akhir mahasiswa di era pandemi. “Di masa yang masih diliputi pandemi Covid-19 saat ini, beasiswa Gus Dur juga diharapkan untuk memfasilitasi mahasiswa tetap produktif dalam menyelesaikan tepat waktu tugas akhirnya, yakni skripsi,” pungkasnya. (zm)

Share This