Dr Muhbib Abdul Wahab Mag, Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sekretaris Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah

Bulan Ramadhan telah dijalani dan dilalui. Selama sebulan penuh, shaimin dan shaimat “menikmati” pendidikan multidimensi: pendidikan jasmani dan rohani, mental spiritual, intelektual, moral, finansial, emosional, manajerial, dan sosial. Yang menjadi pertanyaan, ketika lulusan Ramadhan diwisuda dalam perayaan Idul Fitri, 1 Syawal, apakah benar-benar telah meraih prediket taqwa? Tentu saja, hanya Allah SWT, shaimin dan shaimat yang paling tahu diri, tahu posisi, dan tahu prestasi.

Ibadah Ramadhan dengan paket komplit kurikulumnya ideal dapat direalisasikan, dengan mengacu kepada tujuan (harapan) puasa, yaitu: menjadi hamba yang bertaqwa (QS al-Baqarah [2]: 183). Menurut saya, legasi (warisan) utama yang menjadi luaran (outcome) pendidikan Ramadhan adalah taqwa dan cinta. Jadi, lulusan pendidikan Ramadhan idealnya memiliki budaya mutu taqwa dan cinta yang berdimensi ketuhanan dan kemanusiaan. Mengapa taqwa dan cinta harus menjadi legasi pendidikan Ramadhan?

Ramadhan Bulan Cinta

Ramadhan adalah bulan penuh cinta: cinta Allah kepada hamba-Nya, dan cinta hamba kepada Sang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah SWT. Karena sangat mencintai hamba-Nya, Allah SWT menjadikan Ramadhan sebagai bulan penuh cinta kasih, khususnya cinta pengampunan dosa-dosa hamba-Nya. Allah juga menebar cinta kasih-Nya dengan menjanjikan pelipatgandaan pahala atas amal ibadah yang dikerjakan hamba-Nya. Amalan wajib dilipatgandakan pahalanya hingga 70 kali lipat, sedangkan amalan sunah diganjar dan disetarakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.

‘Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, jika aku mendapati malam kemuliaan (lailatul qadar), doa apa yang aku panjatkan kepada Allah SWT?” Rasul menjawab: “Berdoalah: Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf. Engkau mencintai pemberian maaf. Karena itu, maafkanlah dan ampunilah dosa-dosaku.” (HR At-Turmudzi).

Ampunan (maghfirah) ternyata merupakan dambaan hamba kepada Allah untuk mencurahkan cinta kasih-Nya dengan mengampuni dan merahmati hamba-Nya.

Cinta Allah kepada hamba-Nya harus direspon positif dengan menunjukkan cinta yang disertai ketaatan. “Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran [3]: 31) Ketaatan beribadah dengan penuh cinta merupakan kunci utama meraih rahmat dan ampunan-Nya.

Berpuasa dengan cinta sejatinya merupakan ekspresi kesucian dan ketulusan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya (muraqabatullah). Puasa dengan cinta menghendaki puasa lahir batin: puasa perut dan syahwat di bawah perut, puasa anggota badan, puasa pancaindera, puasa hati dan pikiran. Puasa totalitas diri, menurut terminologi Imam al-Ghazali, merupakan puasa super istimewa (shaum khawash al-khawash). Jadi, puasa totalitas itu juga merupakan manifestasi cinta hamba kepada Rabb-Nya dengan optimalisasi ketaatan dan ketekunan dalam beribadah.

Ibadah Ramadhan dengan cinta  dijalani dengan memahami dan mengamalkan paket kurikulum Ramadhan secara holistik (menyeluruh), sehingga dapat mewujudkan tujuan puasa, yaitu menjadi pribadi yang bertaqwa (QS al-Baqarah [2]: 183). Berpuasa dengan cinta sejati itu merupakan ekspresi rasa syukur, aktualisasi sabar, dan habituasi karakter disiplin dalam meneladani sifat-sifat Allah SWT.

Sifat Allah yang selalu mengawali surat Alquran, kecuali surat at-Taubah, adalah ar-Rahman ar-Rahim, Maha Pengasih Maha Penyayang. Meraih cinta dan kasih sayang Allah itu memang menghendaki cinta sejati dalam beribadah. Meneladani sifat kasih sayang-Nya dalam berpuasa berarti harus bermurah hati, berempati, berjiwa dermawan, beretos filantropis, mengasihi, dan menyayangi sesama melalui pembudayaan aksi berbagi: zakat, infak, dan sedekah.

Pandemi Covid-19 yang belum sirna mengetuk hati para perindu surga untuk mencintai sesama dengan bersikap empati dan peduli, gemar bersedekah, berderma, dan menolong sesama. Karena, “Seseorang tidak dinilai beriman, sebelum mengasihi saudaranya, sebagaimana mengasihi dirinya sendiri.” (HR Muslim) Mengasihi fakir miskin dan mereka yang kesulitan ekonomi akibat pandemi merupakan manifestasi solidaritas kemanusiaan berbasis cinta Ilahi.

Aktualisasi ibadah Ramadhan dengan cinta itu indah dan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Pertama, puasa dengan cinta menunjukkan kejujuran mental spiritual dalam mengimani dan mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Hamba bertakwa pasti peduli dan mengasihi kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan bantuan), dan orang-orang yang meminta dengan memberikan sebagian harta yang dicintainya. (QS al-Baqarah [2]: 177). Pribadi bertaqwa itu mencintai kebajikan (QS al-Baqarah [2]: 189)

Kedua, ibadah Ramadhan dengan cinta itu memerdekakan hamba dari hawa nafsu dan syahwat duniawi atau cinta palsu dan penuh nafsu, sehingga melahirkan pribadi yang bermental dermawan, berjiwa filantropis, bukan pengemis dan materialistis. Tangan filantropisnya selalu berada di atas karena memberi dan berbagi sebagian rezeki yang dicintainya. Sejurus dengan jalan taqwa, hamba tidak akan sampai kepada kebajikan sempurna sebelum menafkahkan sebagian harta yang dicintainya (QS Ali Imran [3]: 92).

Jadi, ibadah Ramadhan berbasis cinta merupakan liberasi diri dari karakter kikir, rakus, dan cinta dunia menuju pribadi bertaqwa yang dermawan dan bermurah hati.

Ketiga, ibadah Ramadhan dengan cinta itu sederhana, hemat, sehat, dan bermental hebat. Dilatih hidup sederhana dan hemat karena puasa didesain untuk “mengerem” nafsu konsumerisme dengan membatasi pola makan dan minum. Bahkan Nabi SAW meneladankan puasa sehat itu dengan “manajemen perut” yang proporsional, berdisiplin mengasupi sepertiga kapasitas perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lainnya dikosongkan untuk pernafasan.

Ibadah Ramadhan dengan cinta juga menghendaki pengendalian nafsu belanja, pola konsumsi, dan pola makan, sehingga anggaran pengeluaran selama Ramadhan bisa lebih dihemat. Pola hidup sederhana, hemat, sehat, dan bermental hebat itu membuahkan spirit altruistik, empati, peduli, dan menyayangi sesama. Dengan kata lain, ibadah Ramadhan menuntut literasi manajerial dan finansial, sehingga pribadi bertaqwa itu pasti bergaya hidup sehat, sederhana, dan hemat, tidak boros dan tidak berfoya-foya.

Keempat, ibadah Ramadhan dengan cinta merupakan jalan kemenangan dan kebahagiaan. “Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, mereka itulah yang mendapat kemenangan.” (QS an-Nur [24]: 52). Dengan ketulusan, keikhlasan, kebersyukuran, kesabaran, dan kedermawanan sosial, hamba bertaqwa merasakan kegembiraan dan kebahagiaan. “Orang yang berpuasa itu merasakan dua kebahagiaan: bahagia saat berbuka dan bahagia ketika berjumpa dengan Tuhannya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Kelima, ibadah Ramadhan dengan cinta sejatinya merupakan manifestasi dari kecintaan Tuhan kepada hamba-Nya, sehingga puasa itu diklaim sebagai milik-Nya. “Puasa itu khusus untuk-Ku; dan Akulah yang akan memberi ganjaran kepada orang yang berpuasa (sesuai dengan cinta-Ku kepadanya)” (HR Muslim). Ibadah Ramadhan menjadi ibadah paling spesial  di mata Allah SWT, sehingga bau mulut hamba yang berpuasa itu lebih harum atau lebih wangi daripada minyak/parfum kesturi.

Ibadah Ramadhan dengan cinta sejati bukan mementingkan kesalehan personal semata, tetapi juga mengutamakan ketaqwaan autentik dalam kesalehan sosial, dengan mengedepankan tadarus kemanusiaan, berjiwa altruistik, dan mengasihi yang lemah dan tidak berdaya, karena berbagai tekanan sosial ekonomi yang semakin menghimpit. Berpuasa dengan cinta mendekatkan hamba bertakwa tidak hanya kepada Tuhan, tetapi juga kepada rasa kemanusiaan autentik. Berpuasa dengan cinta pada gilirannya dapat mengantarkan kepada kebahagiaan surga duniawi sekaligus kenikmatan surga ukhrawi.

Jadi, ibadah Ramadhan dengan cinta itu nikmat dan sehat, karena digerakkan oleh energi hati yang beriman, dipandu ilmu pengetahuan, dan diteguhkan oleh ketulusan, rasa syukur, dan kesabaran. Kenikmatan berpuasa dapat membuahkan rasa rindu untuk selalu bertemu dan dekat dengan Allah SWT, sekaligus merindukan surga-Nya. Karena kita tidak pernah tahu (dan memang tidak diberi tahu) apakah perjumpaan Ramadhan tahun ini merupakan yang terakhir atau tidak, maka ibadah dengan cinta harus menjadi pilihan hamba bertaqwa yang berhati mulia.

Taqwa dan Cinta Warisan Masa Depan

Persoalan berikutnya adalah “Bagaimana mewujudkan taqwa dan cinta sebagai warisan masa depan bagi lulusan Ramadhan, agar ibadah Ramadhan tidak sekadar ritualitas rutin yang kurang bermakna, tidak berdampak positif terhadap perbaikan budaya mutu mental spiritual, intelektual, moral dan sosial?”

Taqwa yang sering dimaknai sebagai melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya itu tidak instan, tetapi berproses, bergradasi, dan berfluktuasi. Pendidikan Ramadhan itu sendiri didesain oleh Allah untuk mewujudkan taqwa hamba melalui proses penjaminan mutu taqwa yang berproses, bergradasi, dan berkelanjutan. Idealnya, taqwa itu menjadi sistem nilai dan mutu pribadi hamba yang terus-menerus diperbaiki dan ditingkatkan (continuous improvement of piety).

Kata kunci aktualisasi legasi Pendidikan Ramadhan menghendaki: kesadaran, pemahaman, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, dan peneladanan. Taqwa dan cinta kepada Allah dimulai dengan ketulusan (keikhlasan) hati, karena semua amal itu bergantung (ditentukan) oleh niatnya (HR al-Bukhari dan Muslim). Niat yang tulus dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya melalui pendidikan Ramadhan dimanifestasikan dengan sikap responsif (mau menyauti) panggilan dan seruan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Niat yang tulus membuahkan taqwa dan cinta sejati.

Niat tulus pada gilirannya dapat menumbuhkan kesadaran moral (religius). Kesadaran ini merupakan energi penggerak hamba untuk menyauti atau meresponi panggilan Tuhan dengan ketaatan. Kesadaran (awareness, al-wa’yu) merupakan “titik sentuh dan titip pijit” yang diharapkan merefleksikan lahirnya sikap positif, aksi dan tindakan konstruktif.

Pendidikan Ramadhan idealnya menumbuhkan kesadaran dan cinta sejati seorang hamba: cinta Allah, cinta Rasul, cinta Islam, cinta Alquran, cinta iman, cinta ilmu, cinta amal shalih, cinta ihsan, cinta amalan yang mendekatkan kepada surga, cinta kemanusiaan, cinta akhlak mulia, cinta kebajikan, cinta berkompetensi dalam kebaikan, cinta keutamaan, cinta kemuliaan, cinta kemaslahatan, cinta kebenaran, cinta keindahan, cinta keteraturan, cinta kebersamaan, cinta kesehatan, cinta budaya berprestasi, dan sebagainya.

Kesadaran beribadah perlu dimatangkan dengan proses kognisi, proses mental yang mengedukasi nalar intelektual agar memiliki pemahaman kognitif, sehingga membuahkan pola pikir, pola sikap, dan pola aksi (amal) berbasis ilmu.

Pendidikan Ramadhan menghendaki shaimin dan shaimat beribadah Ramadhan berbasis ilmu, bukan sekadar ikut-ikutan (taklid buta) atau mengikuti tradisi tanpa sanad keilmuan dan sanad keteladanan yang terkoneksi kepada Rasulullah SAW. Dengan kata lain, kesadaran beribadah itu harus ditindaklanjuti dengan sikap dan aksi ittiba’ dalam beribadah.

Pemahaman yang memadai, komprehensif, dan mendalam diharapkan dapat mengarifi hikmah dan menemukan rahasia kebaikan dari semua ibadah, sehingga ibadah yang dilaksanakan tidak sekedar “menggugurkan” syarat dan rukun (kewajiban); tetapi menjadi ibadah bermakna, ibadah fungsional, dan transformatif. Sebagai contoh, shalat bermakna, fungsional, dan transformatif itu adalah shalat yang sukses menjadikan pelakunya (mushalli) mampu memproteksi dan mencegah dirinya dari maksiat, perbuatan keji dan mungkar; sekaligus membuahkan akhlak mulia.

Pemahaman kognitif yang memadai terhadap makna dan hakikat ibadah tertentu seperti: shalat, puasa, zakat, haji, sedekah, dan sebagainya idealnya tidak berhenti pada ranah kognitif semata, melainkan perlu diinternalisasikan ke dalam diri pribadi menjadi proses afeksi dalam bentuk penghayatan autentik. Penghayatan ini pada gilirannya diharapkan dapat menyelami dan merasakan kenikmatan beribadah.

Pendidikan Ramadhan yang dilakukan secara kolektif (bersama dan berskala internasional) harus menumbuhkan kecintaan pengamalan beribadah dengan penuh penghayatan makna dan kenikmatan spiritual.

Dengan demikian, pengamalan ibadah Ramadhan itu bukan sekadar pemenuhan dan pelaksaan syarat dan rukunnya semata. Akan tetapi, makna dan hikmah di balik pelaksanaan ritualitas itu jauh lebih penting dan lebih fungsional.

Pengamalan ibadah harus dipandu iman dan ilmu, agar ibadah yang dijalankan dapat mencapai tujuan dan target yang diharapkan pencapaiannya. Pengamalan ibadah merupakan aktualisasi perintah dan pesan Ilahi dengan sikap sami’na wa atha’na.

Pengamalan ibadah wajib dalam Islam akan menjadi sempurna apabila dilengkapi dan disempurnakan dengan amalan-amalan sunah. Oleh karena itu, habituasi (pembiasaan, ta’wid) beribadah secara konsisten dan berkelanjutan menjadikan mutu ibadah lebih baik dan lebih dapat dihayati makna dan hikmahnya. Habituasi beribadah dapat membuahkan kecintaan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Hamba yang sudah memiliki pola habituasi dalam beribadah pasti merasa ada yang kurang dan belum sempurna, apabila hanya mengerjakan shalat lima waktu tanpa dilengkapi dengan shalat sunah rawatib, qiyam al-lail, shalat dhuha dan sebagainya. Demikian pula, puasa Ramadhan saja kurang afdal, apabila tidak ditindaklanjuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, puasa sunah Senin dan Kamis, puasa Ayyam al-Bidh, dan sebagainya.

Di atas semua itu, kata kunci paling powerfull dalam beribadah melalui pendidikan Ramadhan adalah peneladanan dengan contoh terbaik. Peneladanan beribadah sejatinya dapat merujuk dan menjadikan Rasulullah sebagai referensi beribadah. Karena beliau adalah teladan terbaik dan paling paripurna dalam meneladankan pemaknaan dan pembudayaan amal ibadah yang membuah cinta dan taqwa. Jadi, cinta dan taqwa yang dihasilkan dan diwariskan pendidikan Ramadhan harus dilestarikan dan ditingkatkan pascaramadhan.

Semoga ibadah Ramadhan yang kita laksanakan membuahkan cinta dan taqwa membuat hamba yang memiliki kompetensi mencari dan menemukan jalan keluar (solusi) terhadap permasalahan yang dihadapinya; memperoleh rezeki yang berkah dan melimpah; menikmati kemudahan segala urusannya; mendapatkan pemaafan dan penghapusan segala  kesalahannya; dan meraih pahala akhirat yang dilipatgandakan.

Cinta dan taqwa sejatinya adalah tiket masuk surga yang harus diusahakan dan diraih secara optimal melalui Pendidikan Ramadhan, agar puasa hamba tidak sekadar mendapat dan merasakan lapar, haus, dan dahaga (puasa fisik semata). Wallahu a’lam bi ash-shawab!

Sumber: Majalah Tabligh Edisi No 5/XX Syawal 1443-Mei 2022. (sam/mf)

Share This