Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar

 

Kemabruran haji dengan mudah bisa diukur melalui kesantunannya di dalam berkomunikasi. Jika para jamaah haji konsisten bertutur kata santun (qaulan hasanah) menandakan orang itu santun dan berakhlak terpuji. Akan tetapi, jika sesekali berucap kasar, apalagi kalau sering, maka menandakan kepribadian orang itu tidak santun.

Bahasa santun tentu tidak hanya terucap oleh mulut, tetapi juga oleh bahasa tubuh (body language). Nabi mencontohkan betapa mulianya ia bertutur kata. Bukan hanya santun terhadap orang-orang yang lebih senior, tetapi juga kepada anak-anak. Ini perlu menjadi perhatian kita bersama karena ada kecenderungan bahasa santun ini tergerus oleh peradaban modern. Bukan saja oleh kaum muda yang tergerus oleh arus globalisasi dan modernisasi, tetapi juga kaum tua.

Kata-kata santun sepertinya hanya ada di dalam puisi atau cerpen-cerpen klasik. Akhlak berbahasa semakin banyak ditinggalkan di dalam masyarakat.

Kesantunan dalam bertutur ini diisyaratkan di dalam Al-Qur’an beberapa kali dalam sejumlah ayat. Betul-betul Al-Qur’an patut untuk dipedomani mulai dari pemilihan kosa kata sampai kepada penggunaan struktur bahasa.

Al-Qur’an selalu mengingatkan kita untuk berbahasa yang santun, bijaksana, dan penuh kearifan. Bahasa yang baik akan melahirkan masyarakat yang baik. Sebaliknya bahasa yang buruk akan melahirkan masyarakat yang buruk.

Al-Qur’an mencontohkan, berbahasa kepada kedua orang tua atau senior kita sebaiknya menggunakan bahasa yang mulia (qaulan kariman): “… ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Q.S. Al-Isra’/17:23). Terhadap anak-anak atau yunior kita menggunakan bahasa yang baik dan populer (qaulan ma’rufan): “… ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik” (Q.S. An-Nisa’/4:5).

Untuk mengungkapkan data dan fakta kita diminta menggunakan bahasa yang tepat dan valid (qaulan sadidan): “…hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Q.S. al-Nisa’/4:9).

Terhadap kelompok oposisi atau kaum munafiq, kita diminta menggunakan bahasa yang komunikatif (qaulan baligan): “…katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka” (Q.S. al-Nisa’/463).

Terhadap orang yang kasar dan jahat tetap kita diminta menggunakan bahasa lemah-lembut (qaulan layyinan): “ … maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut”. (Q.S. Thaha/20:44).

Orang atau kelompok yang dianggap musuhpun kita tetap diminta untuk menggunakan nahasa yang pantas (qaulan maisuran): “…katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”. (Q.S. al-Isra’/17:28).

Tuhan meminta kita untuk menghindari bahasa yang keras (qaulan ‘adhiman): “ … Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (Q.S. Al-Isra’/17:40). Hanya Tuhan yang berhak menggunakan bahasa yang berat (qaulan tsaqilan): “…Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”. (Q.S. Al-Muzzammil/73:5).

Bangsa yang beradab dapat diukur melalui akhlak berbahasa masyarakatnya. Apakah kita masih termasuk bangsa santun dan beradab? Jawabannya, mari kita mengukur bahasa lisan, bahasa tulis, dan bahasa tubuh kita.

Bahasa ko­munikasi bangsa tercermin di dalam bahasa yang digunakan oleh media; baik media cetak maupun elektronik. Bahasa yang digunakan oleh media semakin kaya dengan kosa kata kasar. Intonasi nada suara pembicaraan juga sudah semakin tinggi, keras, dan kasar.

Sepertinya kita tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata santun yang aktual. Padahal, bangsa kita katanya bangsa yang santun dan beradab. Orang yang menggunakan bahasa santun malah sering disebut bahasa pencitraan, yang dikonotasikan negatif. (rm.id/zm)

 

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal. Artikelnya dimuat Tangsel Pos, Minggu 7 Agustus 2022, dan bisa diakses di https://tangselpos.id/detail/2066/memelihara-rasa-optimisme.

Share This