Parung, BERITA UIN Online – Gerakan Pramuka UIN Jakarta menggelar kegiatan Bina Masyarakat (Bimas) di Desa Waru Jaya, Parung, Bogor, Jawa Barat, pada 4-10 Juli 2022. Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang melibatkan para Pramuka Pandega untuk berbakti di masyarakat.

Acara pembukaan dilakukan pada Senin (4/7/2022) malam oleh Kepala Desa Waru Jaya Udin Syamsudin. Hadir juga Ketua Gugus Depan Nanang Syaikhu, Pembina Satuan Pandega Saidah, serta sejumlah tokoh masyarakat dan warga desa.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pramuka UIN Jakarta yang menjadikan Desa Waru Jaya sebagai tempat pengabdian. Insya Allah warga desa akan menyambut gembira kedatangan adik-adik Pramuka di desa ini,” kata Kepala Desa Waru Jaya, Udin Syamsudin.

Kegiatan Bimas, menurut Udin, diharapkan akan memberikan banyak motivasi kepada warga, khususnya anak-anak muda, untuk berkreasi dan beraktivitas.

“Tapi kami mohon maaf apabila dalam pelayanan di desa kami banyak kekurangan,” ucapnya.

Nanang Syaikhu dalam sambutannya mengatakan, program Bimas merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat bagi para Pramuka UIN Jakarta. Hal itu sesuai dengan ciri kegiatan Pramuka Pandega yang harus banyak berorientasi kepada masyarakat.

Pramuka Pandega, jelas Nanang, harus menjadi agen perubahan di masyarakat. Karena itu ia berharap kegiatan Bimas dapat menjadi wahana bagi para Pramuka UIN Jakarta dalam mengabdikan diri di masyarakat sesuai pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang dimiliki.

“Kegiatan Bimas juga bisa menjadi pembelajaran dalam berorganisasi dan bermasyarakat bagi Pramuka,” ujarnya.

Bimas Pramuka UIN Jakarta akan berlangsung hingga 10 Juli 2022. Agenda Bimas di antaranya melakukan edukasi kepada masyarakat dalam bidang pendidikan, agama, sosial, kesehatan, dan ekonomi.

Bentuk kegiatan selain berupa seminar juga pelatihan, permainan, perlombaan, bazar, dan bakti sosial. Sementara sasaran kegiatan adalah para orang tua, para remaja, dan anak-anak.

Ketua Dewan Racana Pandega Putra M. Rizalludin Hizza mengatakan, selama kegiatan Bimas para peserta tinggal di rumah-rumah penduduk (homestay) sebagai induk semang atau orang tua asuh. Mereka berbaur dengan masyarakat, baik dalam kegiatan sehari-hari maupun kegiatan lainnya.

“Model kegiatan homestay ini dipilih karena kita ingin mengajarkan kepada para peserta hidup bermasyarakat. Mereka berasal dari masyarakat dan kelak akan kembali ke masyarakat,” katanya. (ns)

Share This